Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tari Modus Leting STIKES Muhammadiyah Bojonegoro Sulap Sampah Jadi Sumber Gizi

Iklan Landscape Smamda
Tari Modus Leting STIKES Muhammadiyah Bojonegoro Sulap Sampah Jadi Sumber Gizi
Mahasiswa STIKES Muhammadiyah Bojonegoro melaksanakan KKN di Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Komitmen STIKES Muhammadiyah Bojonegoro dalam menghadirkan pengabdian masyarakat berbasis solusi nyata kembali diwujudkan melalui program unggulan Tari Modus Leting di Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.

Program yang dilaksanakan dalam rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini dirancang untuk memperkuat pengelolaan lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi dan ketahanan gizi keluarga di tingkat desa.

Tari Modus Leting , akronim dari Ternak Ayam Mandiri Modal Usaha Sampah Menghasilkan Lele Terintegrasi Gizi, merupakan model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkuler.

Konsep ini menempatkan sampah rumah tangga bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya awal untuk menggerakkan usaha produktif yang saling terintegrasi antara pengelolaan lingkungan, peternakan, perikanan, hingga pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

Implementasi program di Desa Karangsono diawali dengan edukasi pemilahan sampah rumah tangga. Mahasiswa KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro memberikan pendampingan langsung kepada warga untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari dapur rumah tangga.

Sampah organik dan sisa makanan kemudian diolah menjadi media budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan alternatif berprotein tinggi bagi ternak ayam dan ikan lele.

Skema ini dinilai efektif karena mampu menekan biaya produksi pakan yang selama ini menjadi beban utama peternak. Selain itu, kualitas nutrisi yang dihasilkan tetap terjaga sehingga mendukung pertumbuhan ternak secara optimal.

Siklus pemanfaatan tidak berhenti pada produksi maggot. Residu budidaya maggot serta kotoran ayam diolah kembali menjadi pupuk organik. Pupuk tersebut dimanfaatkan untuk mendukung penanaman sayuran skala rumah tangga.

Dengan sistem ini, terbentuk ekosistem terpadu yang minim limbah dan berkelanjutan. Warga tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memperoleh hasil pangan berupa telur, daging ayam, lele, serta sayuran untuk konsumsi keluarga.

Selain berdampak pada lingkungan, model ini turut memperkuat ketahanan gizi masyarakat. Asupan protein hewani dari ayam dan lele menjadi lebih mudah diakses karena dihasilkan sendiri oleh warga.

Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dan logam dipilah dan dijual ke pengepul. Hasil penjualan dimanfaatkan sebagai modal awal pengadaan bibit ayam dan sarana pendukung usaha ternak.

Skema ini memungkinkan warga memulai usaha secara mandiri tanpa ketergantungan pada modal besar. Pendekatan tersebut sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah yang tepat dapat memberikan nilai ekonomi.

Ketua STIKES Muhammadiyah Bojonegoro, Dr. H. Ns. Sudalhar, M.Kep, menegaskan bahwa Tari Modus Leting dirancang sebagai solusi terpadu untuk menjawab tantangan lingkungan dan gizi di tingkat desa.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Melalui program ini, sampah diposisikan sebagai potensi, bukan semata masalah. Dari pengelolaannya, masyarakat bisa memperoleh nilai ekonomi sekaligus memperkuat pemenuhan gizi keluarga,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, pendekatan ekonomi sirkuler yang diterapkan menjadi bagian dari komitmen institusi dalam menghadirkan program pengabdian masyarakat yang berdampak nyata dan berkelanjutan.

Kepala Desa Karangsono, Sutrisno, menilai konsep yang ditawarkan mudah diterapkan karena berangkat dari aktivitas keseharian warga.

“Program ini membuka cara pandang baru masyarakat dalam mengelola sampah dan memanfaatkannya untuk mendukung kesejahteraan keluarga,” ungkapnya.

Respons positif juga datang dari warga penerima manfaat. Isti’ah, salah satu warga, menyebut pendampingan yang dilakukan mahasiswa KKN bersifat praktis dan aplikatif.

“Sekarang kami tahu bahwa sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna, baik untuk ternak maupun tanaman,” katanya.

Peran Mahasiswa sebagai Fasilitator Perubahan

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro berperan sebagai fasilitator dan pendamping teknis. Mereka terlibat aktif dalam proses edukasi, praktik lapangan, hingga memastikan warga mampu menjalankan sistem secara mandiri setelah program berakhir.

Pendekatan partisipatif menjadi kunci keberhasilan program. Mahasiswa tidak hanya memberikan materi, tetapi juga terjun langsung dalam praktik budidaya maggot, pengelolaan kandang ayam, kolam lele, hingga pengolahan pupuk organik.

Melalui implementasi Tari Modus Leting di Desa Karangsono, STIKES Muhammadiyah Bojonegoro berharap model pemberdayaan ini dapat direplikasi di desa lain.

Program ini menjadi contoh konkret bahwa sinergi antara kampus dan masyarakat mampu melahirkan inovasi berbasis potensi lokal yang ramah lingkungan, memperkuat ekonomi keluarga, serta berkontribusi pada peningkatan ketahanan gizi masyarakat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu