Tarjih merupakan kompas utama dakwah Muhammadiyah. Penegasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Dian Berkah, M.H.I., Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Timur, dalam Pelatihan Muballigh Mahasiswa 2025 yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Lamongan, Sabtu (27/12/2025), di SMA Muhammadiyah 1 Babat.
Dalam materi bertajuk Tarjih sebagai Kompas Dakwah, Dian menjelaskan bahwa tarjih tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme penetapan hukum Islam, tetapi juga menjadi pedoman berpikir, bersikap, dan bergerak dalam menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Seluruh aktivitas Muhammadiyah, tegasnya, harus berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana ditegaskan dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT).
Muhammadiyah, lanjut Dian, mendorong lahirnya intelektual yang spiritualis, bukan intelektual yang terjebak kepentingan politik praktis. Intelektual spiritualis adalah sosok berilmu yang menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi pengabdian. Jabatan dan kedudukan tidak dijadikan tujuan, melainkan amanah yang dijalani dengan keteladanan.
“Jadilah intelektual yang spiritualis, bukan intelektual yang politis,” tegasnya.
Melalui Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Muhammadiyah secara tegas menempatkan diri sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Seluruh gerak Persyarikatan, baik di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, maupun kebangsaan, harus berpijak pada nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Muhammadiyah memandang politik sebagai bagian dari dakwah nilai. Warga Muhammadiyah dipersilakan terlibat dalam politik dengan tetap menjunjung prinsip kesantunan, moralitas, dan keadaban. Muhammadiyah menolak praktik politik yang sarat konflik, fitnah, dan permusuhan karena bertentangan dengan etika Islam dan tujuan dakwah.
Kekuatan dakwah Muhammadiyah juga dibangun melalui prinsip syirkah atau kerja sama kolektif. Persyarikatan berdiri di atas semangat kebersamaan dan saling menguatkan, bukan kepentingan individu. Lemahnya dukungan internal dipandang sebagai indikator belum utuhnya pemahaman terhadap nilai dan ruh Persyarikatan.
Dalam perspektif tarjih, dinamika zaman dijawab melalui dinamisasi ijtihad tanpa mengubah prinsip. Al-Qur’an dan Hadis bersifat tetap, namun metode, pendekatan, dan strategi dakwah senantiasa dikembangkan agar relevan dengan tantangan sosial, budaya, dan teknologi.
Dalam urusan akidah dan ibadah mahdhah, Muhammadiyah bersikap tegas dan tidak mentoleransi penyimpangan dari tuntunan Rasulullah SAW. Sebaliknya, dalam ranah muamalah dan kehidupan sosial, Muhammadiyah bersikap terbuka, moderat, dan inklusif demi kemaslahatan bersama.
Spirit dakwah tersebut dilandasi kesadaran spiritual tentang pentingnya rasa syukur atas nikmat perjuangan dan persatuan. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Dengan menjadikan tarjih sebagai kompas dakwah, Muhammadiyah diharapkan tetap istiqamah sebagai gerakan Islam yang mencerahkan, berkemajuan, dan relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri dan prinsip keislaman yang autentik.





0 Tanggapan
Empty Comments