Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah gagasan sederhana yang lahir dari ruang-ruang kelas di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik akan melangkah sejauh ini. Dari diskusi kecil antar guru, kini Teacher Laboratory Conference (TLC) justru menembus batas wilayah, bahkan lintas negara.
Pada awalnya, di tahun 2025, saya merancang TLC sebagai ruang belajar internal. Sebuah wadah bagi para guru untuk saling membuka praktik pembelajaran, mendiskusikan kekuatan dan kelemahan, serta tumbuh bersama melalui pendekatan lesson study. Saat itu, bayangan saya sederhana: cukup berjalan konsisten di lingkungan SDMM dan Gresik.
Namun, perjalanan dua tahun terakhir (2025–2026) membawa cerita yang jauh melampaui ekspektasi saya.
Saya masih mengingat dengan jelas, ketika konsep TLC mendapatkan perhatian dari Dr. Arif Hidayat dari CELLS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Beliau melihat bahwa apa yang kami lakukan bukan sekadar kegiatan rutin guru, tetapi memiliki potensi menjadi model pengembangan profesional yang lebih luas.
Puncak yang tak pernah saya bayangkan adalah ketika pada Februari 2026, saya bersama beliau berkesempatan mempresentasikan TLC di Jepang.
Di hadapan para praktisi pendidikan internasional, saya menyampaikan bagaimana guru-guru di SDMM membangun budaya belajar bersama melalui Teacher’s Lab.
Apresiasi yang kami terima saat itu menjadi momen yang sangat mengharukan bagi saya—sebuah pengakuan bahwa apa yang kami mulai dari hal kecil ternyata memiliki makna yang lebih besar.
Sepulang dari sana, kejutan itu belum berhenti. Melalui pesan singkat yang saya terima pada Selasa (17/3/2026), Dr. Arif Hidayat menyampaikan bahwa setelah sukses dua edisi di Gresik, Teacher’s Lab akan diperkenalkan ke publik yang lebih luas dan digelar di Bandung setelah Lebaran. Saya terdiam sejenak membaca pesan itu—antara haru, syukur, dan rasa tidak percaya.
Jujur, saya tidak pernah membayangkan TLC akan diadopsi oleh sekolah di luar ekosistem Muhammadiyah.
Ketika kemudian SD Gagasceria di Chapter Bandung Raya ikut mengembangkan konsep ini, saya merasa bahwa Teacher’s Lab bukan lagi milik satu sekolah, melainkan telah menjadi gerakan bersama.
Bagi saya, inilah bukti bahwa inovasi pendidikan tidak mengenal batas geografis maupun organisasi.
Apa yang lahir di Gresik bisa tumbuh di Bandung, bahkan diapresiasi di Jepang. Semua karena satu kesamaan: keinginan para guru untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas pembelajaran.
Saya berharap, Teacher’s Lab dapat menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain, khususnya di lingkungan Muhammadiyah, untuk membangun budaya continuous improvement.
Guru tidak lagi sekadar hadir dalam rapat, tetapi benar-benar menjadikan setiap pertemuan sebagai “laboratorium pembelajaran” yang berdampak langsung pada siswa.
Lebih dari itu, saya juga melihat Teacher’s Lab sebagai ruang kolaborasi lintas batas. Sebuah gerakan yang menunjukkan bahwa guru Muhammadiyah mampu menjadi lokomotif perubahan pendidikan di Indonesia.
Ke depan, TLC Chapter Bandung Raya rencananya akan digelar setelah Idulfitri 2026 oleh SD Gagasceria. Mereka akan membuka dua kelas, yakni Bahasa Indonesia dan IPAS. Tahap lesson design dijadwalkan pada 6 April 2026, sementara open class akan berlangsung pada 9 April 2026.
Bagi saya, ini bukan sekadar agenda kegiatan. Ini adalah perjalanan sebuah gagasan yang terus tumbuh.
Dan saya percaya, semua ini baru permulaan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments