Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Teguh Seperti Batang, Lentur Seperti Ranting

Iklan Landscape Smamda
Teguh Seperti Batang, Lentur Seperti Ranting
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Agus Wahyudi Pemimpin Redaksi PWMU.CO
pwmu.co -

Siang itu saya bertemu Dr. Mas’ulah, dosen saya semasa kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya). Bu Mas’ulah tetap seperti dulu: cepat tanggap, hangat, dan penuh energi.

Perempuan ini bukan sosok biasa. Dia pernah menempuh studi di University of Utah, Amerika Serikat, melalui program beasiswa Fulbright, program pertukaran internasional paling bergengsi di dunia.

Di lingkungan akademik, namanya dikenal sebagai sosok pembelajar sejati. Sejak muda dia terbiasa hidup di pondokan, mandiri, dan tekun membaca. Bahasa Inggrisnya fasih, dan pengetahuannya luas melintasi berbagai bidang.

Kami berbincang lama siang itu. Topiknya meluas dari dunia pendidikan, kebudayaan, hingga satu hal yang tidak saya sangka: musik. Bu Mas’ulah banyak tahu tentang musisi dan karya-karyanya.

Perjalanan Bu Mas’ulah mendapatkan beasiswa Fulbright tidak mudah. Dia melewati tahapan seleksi yang panjang: administrasi, tes bahasa, hingga wawancara akhir yang menentukan. Semua dijalani dengan kesabaran dan keyakinan.

Dalam sesi wawancara itu, dia menjadi satu-satunya peserta yang mengenakan jilbab. Penampilannya yang berbeda menarik perhatian panelis.

Salah seorang pewawancara kemudian bertanya, “Bagaimana Anda bisa bertahan jika nanti harus tinggal di Amerika?”

Pertanyaan itu tidak sekadar soal teknis. Itu ujian mental, bagaimana seseorang dengan identitas kuat mampu beradaptasi di lingkungan yang jauh berbeda.

Bu Mas’ulah menjawab dengan tenang. Dia bercerita bahwa sejak kecil sudah terbiasa hidup mandiri. Latar keluarganya dari pesantren membentuk karakter yang kuat, tapi tetap terbuka terhadap perbedaan.

Sejak mahasiswa, ia menata hidupnya dengan disiplin. Untuk membiayai kuliah, ia mengajar les dan membantu teman-teman yang butuh bimbingan belajar. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Semua dijalani dengan tanggung jawab.

Ketegasan dan kerendahan hatinya meninggalkan kesan mendalam bagi para pewawancara. Dia tidak menjual mimpi besar atau berbicara muluk tentang ambisi akademik.

Yang dia tunjukkan adalah kesiapan untuk hidup di mana pun, karena sudah terbiasa berdiri di atas kakinya sendiri.

Bu Mas’ulah percaya, keberhasilan mendapatkan beasiswa Fulbright bukan semata karena nilai akademik. Melainkan karena karakter, kemandirian, dan integritas yang sudah ia tanam sejak muda.

***

Bu Mas’ulah juga menjelaskan ke hal yang lebih filosofis. Bu Mas’ulah berkata, “Hidup itu seperti ndua jenis pohon.”

Saya menatapnya, menunggu kelanjutannya. “Yang pertama, pohon tinggi menjulang. Batangnya besar dan kokoh. Dari jauh tampak gagah. Tapi saat didekati, rantingnya banyak yang kering. Dedaunannya jarang. Pohon itu berdiri tegak, tapi kaku. Ia kuat, tapi kehilangan kehidupan.”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Yang kedua, pohon kecil di tepi jalan. Batangnya lentur. Rantingnya bergoyang. Daunnya menari mengikuti arah angin. Ia sederhana, tapi hidup. Ia tidak melawan alam, tapi menyesuaikan diri dengannya. Dalam kelembutannya, ada kekuatan.”

Saya diam mendengarkan. Kiasan itu terdengar sederhana, tapi maknanya dalam. Dua jenis pohon itu seolah melambangkan dua cara manusia menjalani hidup: yang kaku dan yang lentur.

Menurut Bu Mas’ulah, hidup memang menuntut keseimbangan. Kita butuh keteguhan seperti batang yang kokoh. Namun kita juga perlu kelenturan seperti ranting yang bisa menyesuaikan diri.

Kekakuan sering lahir dari ego. Orang yang terlalu bangga pada dirinya sendiri akan mudah patah ketika diterpa badai perubahan.

Sebaliknya, mereka yang rendah hati, mau belajar, dan mampu beradaptasi — justru bertahan lebih lama.

Bu Mas’ulah menambahkan satu kalimat yang saya ingat betul, “Jangan jadi pohon yang hanya berdiri gagah, tapi kering di dalam.”

Saya mengangguk pelan. Kalimat itu terasa menampar. Banyak orang tampak kuat dari luar, tapi rapuh ketika keadaan berubah.

Dalam perjalanan pulang, saya terus memikirkan perumpamaan dua pohon itu. Mungkin hidup memang seperti itu: antara teguh dan lentur, antara berdiri dan menunduk.

Kita perlu prinsip agar tidak goyah. Tapi kita juga perlu kebijaksanaan untuk menyesuaikan diri.

Dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24–25, Allah SWT berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.”

Ayat ini menggambarkan bahwa seorang beriman seharusnya memiliki akar keyakinan yang kuat sekaligus mampu memberi manfaat kapan pun dan di mana pun.

Demikian pula, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang mukmin seperti pohon kurma. Ia tidak gugur daunnya, dan setiap waktu ia memberikan manfaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada keteguhan imannya dan kelenturan sikapnya dalam menghadapi kehidupan.

Sejalan dengan itu, sebuah pepatah Jepang menyebutkan: “Bambu yang membungkuk saat badai akan berdiri tegak kembali setelahnya, sementara pohon besar yang keras bisa tumbang.”

Pepatah ini menegaskan pesan yang sama: bahwa daya lentur sering kali lebih menyelamatkan daripada kekakuan yang tampak kuat dari luar.

Kekuatan sejati, ternyata, bukan pada siapa yang paling keras bertahan. Tapi pada siapa yang tahu kapan harus menunduk.

Karena kelenturan bukan tanda kelemahan. Ia adalah bentuk paling halus dari kebijaksanaan. Dan dalam kelenturan itulah, manusia bisa terus tumbuh, apa pun badai yang datang.

Wallahu A’lam Bishawab. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu