Angka perceraian di Surabaya sepanjang 2025 terus menunjukkan tren peningkatan, dengan faktor ekonomi masih mendominasi alasan gugatan.
Namun, di balik persoalan nafkah dan ketidakstabilan finansial, tersimpan tekanan psikologis berkepanjangan yang perlahan mengikis emosi, komunikasi, dan daya tahan mental pasangan suami istri—hingga rumah tangga tak lagi mampu bertahan.
Psikolog sekaligus pengajar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Marini, menilai alasan ekonomi tersebut tidak bisa dipahami secara sederhana hanya sebagai persoalan pendapatan.
Dari sudut pandang psikologi, tekanan ekonomi merupakan sumber stres berkepanjangan yang secara perlahan menggerus ketahanan psikologis pasangan.
“Tekanan ekonomi yang berlangsung lama dapat memengaruhi kondisi emosi, cara berpikir, hingga pola interaksi dalam rumah tangga,” ujar Marini, Kamis (29/1/2026)
Sejumlah penelitian psikologi keluarga menunjukkan bahwa tekanan ekonomi berkorelasi dengan meningkatnya stres, kecemasan, kelelahan emosional, serta konflik relasional (Conger et al., 2010).
Marini menjelaskan, stres akibat persoalan ekonomi tidak bersifat sementara, melainkan menetap dan menguras energi psikologis individu.
“Dalam kondisi ini, seseorang menjadi lebih mudah tersinggung, sulit mengendalikan emosi, dan kehilangan kesabaran,” katanya.
Akibatnya, imbuh Marini, kemampuan berkomunikasi secara empatik dengan pasangan ikut menurun, sehingga persoalan kecil pun kerap berujung pada pertengkaran berulang.
“Secara psikologis, tekanan ekonomi sering kali terbawa ke dalam relasi terdekat, yakni hubungan suami istri. Pasangan yang sejatinya saling mencintai dapat terjebak dalam pola saling menyalahkan, bukan karena hilangnya rasa sayang, melainkan karena kapasitas emosional yang telah terkuras,” papar dia.
Fenomena ini, sebut Marini, dikenal sebagai spillover effect, yaitu kondisi ketika tekanan dari luar hubungan memengaruhi kualitas interaksi di dalam hubungan.
Lebih lanjut, Marini mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi juga berkaitan erat dengan identitas diri, khususnya bagi laki-laki.
Dalam konstruksi sosial yang masih kuat, peran sebagai pencari nafkah utama kerap dilekatkan pada laki-laki.
“Ketika peran tersebut tidak terpenuhi, muncul perasaan gagal, rendah diri, dan tidak berdaya. Sayangnya, emosi tersebut sering tidak diungkapkan secara sehat, melainkan muncul dalam bentuk penarikan diri atau kemarahan yang sulit dijelaskan,” papar Marini.
Sementara itu, bagi perempuan, masalah ekonomi sering dimaknai sebagai ancaman terhadap rasa aman keluarga.
Ketidakpastian finansial memicu kecemasan akan masa depan anak, keberlangsungan rumah tangga, dan stabilitas hidup.
“Jika berlangsung lama, kecemasan ini dapat berubah menjadi kelelahan mental. Dalam kondisi tersebut, pernikahan tidak lagi dirasakan sebagai ruang perlindungan, melainkan justru menjadi sumber tekanan tambahan,” terang Marini.
Dia juga mengatakan, dampak masalah ekonomi sangat ditentukan oleh cara pasangan memaknainya.
Tekanan ekonomi akan berkembang menjadi krisis ketika individu merasa tidak memiliki sumber daya psikologis untuk menghadapinya, baik berupa kemampuan coping, dukungan pasangan, maupun harapan terhadap masa depan.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa tidak semua keluarga dengan kondisi ekonomi sulit berakhir dengan perceraian, dan tidak semua keluarga mapan hidup harmonis.
“Dalam praktiknya, alasan ‘masalah ekonomi’ sering menjadi permukaan dari persoalan yang lebih dalam, seperti komunikasi yang buntu, emosi yang tidak terkelola, dan kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi,” jelasnya.
Marini menilai, meningkatnya angka perceraian seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa persoalan keluarga tidak bisa dilihat semata dari sisi materi.
Upaya memperkuat ketahanan keluarga perlu menyentuh aspek psikologis, termasuk kemampuan pasangan dalam berkomunikasi, mengelola stres, serta saling menjadi sumber dukungan emosional.
Masih menurut Marini. Pendidikan pranikah, layanan konseling keluarga, dan literasi kesehatan mental masih kerap dianggap sebagai pelengkap, padahal justru merupakan fondasi penting dalam menghadapi tekanan hidup modern.
Tanpa fondasi tersebut, pernikahan menjadi rentan ketika dihadapkan pada krisis, termasuk krisis ekonomi.
“Perceraian tidak selalu mencerminkan kegagalan cinta. Dalam banyak kasus, ia menjadi tanda bahwa ketahanan psikologis pasangan telah terkikis oleh tekanan hidup yang terlalu lama ditanggung tanpa bantuan,” pungkas Marini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments