Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Teknologi AI di Film Shelter Disebut Mirip Ambisi Pentagon

Iklan Landscape Smamda
Teknologi AI di Film Shelter Disebut Mirip Ambisi Pentagon
Teknologi AI di Film Shelter Disebut Mirip Ambisi Pentagon, Foto: Ist/PWMU.CO
Oleh : Anwar Hariyono Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik
pwmu.co -

Film aksi-thriller terbaru berjudul Shelter (2026) menghadirkan cerita menegangkan tentang kecerdasan buatan yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan manusia, sebuah gambaran fiksi yang terasa semakin dekat dengan realitas perkembangan teknologi saat ini.

Menariknya, di saat film tersebut menggambarkan ancaman pengawasan massal berbasis AI, muncul pula kabar dari dunia geopolitik internasional yang menunjukkan bahwa ambisi serupa tengah dipertimbangkan oleh militer Amerika Serikat melalui Pentagon.

Sinopsis Film Shelter

Film Shelter menampilkan aktor Jason Statham sebagai Michael Mason, mantan agen operasi elit dari program rahasia MI6 bernama “Black Kites”. Karakter ini diceritakan membelot dari organisasi tersebut setelah menolak perintah atasannya untuk membunuh seorang ilmuwan yang tidak bersalah.

Sejak saat itu, Mason memilih hidup bersembunyi selama satu dekade di sebuah mercusuar terpencil demi menjauh dari dunia operasi rahasia yang pernah membesarkan namanya.

Kehidupan tenangnya berubah drastis ketika seorang gadis muda bernama Jesse datang meminta perlindungan setelah pamannya tewas dalam sebuah insiden kapal misterius.

Situasi tersebut memaksa Mason kembali mengangkat senjata dan menghadapi kelompok pembunuh yang mengejar gadis tersebut.

Ancaman AI Bernama THEA

Dalam film ini, ancaman terbesar bukan hanya datang dari manusia bersenjata, melainkan dari sebuah sistem kecerdasan buatan bernama THEA (Total Human Engagement Analytics).

THEA digambarkan sebagai sistem intelijen super yang mampu memanen berbagai data pribadi warga negara, mulai dari panggilan telepon, email, hingga pola perilaku sehari-hari.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sistem tersebut dimanipulasi untuk mengubah identitas Michael Mason menjadi buronan teroris bernama Teemo Chermoyv.

Akibat manipulasi tersebut, pemerintah mengeluarkan perintah tembak mati terhadap Mason tanpa proses pengadilan, menggambarkan bagaimana teknologi AI dapat disalahgunakan untuk mengendalikan narasi dan menyingkirkan individu yang dianggap ancaman.

Ambisi AI Militer di Dunia Nyata

Skenario dalam film tersebut terasa semakin relevan setelah muncul laporan mengenai ambisi militer Amerika Serikat untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dalam operasi pertahanan dan keamanan.

Dalam laporan internasional, Departemen Pertahanan AS atau Pentagon disebut berupaya memperoleh akses luas terhadap teknologi AI dari perusahaan pengembang kecerdasan buatan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Anthropic, pengembang model AI yang dikenal dengan nama Claude.

Militer AS dikabarkan ingin memanfaatkan teknologi tersebut untuk berbagai keperluan, termasuk pengembangan sistem senjata otonom dan analisis data dalam skala besar.

Perdebatan Etika Penggunaan AI

Permintaan tersebut memicu perdebatan mengenai batasan etika dalam penggunaan kecerdasan buatan untuk kepentingan militer.

CEO Anthropic, Dario Amodei, dilaporkan menolak penggunaan AI untuk menciptakan drone pembunuh otonom maupun sistem pengawasan massal yang berpotensi melanggar hak asasi manusia.

Keputusan tersebut memunculkan ketegangan antara perusahaan teknologi dan pemerintah yang menginginkan pemanfaatan AI secara lebih luas dalam sektor pertahanan.

Di sisi lain, perusahaan teknologi lain seperti OpenAI juga disebut memiliki kerja sama dengan lembaga pertahanan, meskipun tetap menyatakan adanya batasan penggunaan AI untuk senjata mematikan atau pengawasan massal.

Fiksi yang Menggambarkan Kekhawatiran Nyata

Kisah dalam film Shelter pada akhirnya tidak hanya menjadi hiburan aksi, tetapi juga memunculkan refleksi mengenai masa depan teknologi kecerdasan buatan dalam kehidupan manusia.

Film tersebut menggambarkan bagaimana teknologi yang sangat canggih dapat menjadi alat yang berbahaya jika digunakan tanpa pengawasan etika dan hukum yang jelas.

Perkembangan AI yang semakin pesat membuat banyak pihak menilai bahwa diskusi tentang regulasi, transparansi, dan tanggung jawab penggunaan teknologi menjadi semakin penting.

Bagi sebagian pengamat teknologi, film seperti Shelter menjadi pengingat bahwa inovasi digital harus selalu diiringi dengan pertimbangan moral agar tidak berubah menjadi ancaman bagi kebebasan dan keamanan manusia.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu