Industri manufaktur memasuki tahun 2026 dengan situasi yang tidak biasa. Di satu sisi, teknologi terus berkembang dengan sangat cepat. Namun di sisi lain, kondisi ekonomi global sedang menekan pelaku industri, terutama akibat kebijakan tarif yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat.
Situasi ini menciptakan paradoks yang mengharuskan perusahaan berpikir lebih hati-hati dalam mengambil keputusan.
Tarif impor yang berlaku saat ini merupakan yang terbesar sejak kebijakan Smoot-Hawley pada 1930. Kombinasinya dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat membuat tingkat ketidakpastian meningkat. Banyak analis menilai bahwa kondisi tersebut semakin diperburuk oleh efek lanjutan dari kebijakan tarif itu sendiri.
Teknologi Baru sebagai Faktor Pengubah
Di tengah kondisi yang menantang, teknologi seperti agentic AI dan robot humanoid mulai mendapat perhatian besar karena menawarkan potensi perubahan besar di lantai produksi.
Namun, para ahli menekankan bahwa adopsi teknologi tidak boleh dilakukan secara terburu-buru. Perusahaan harus memastikan bahwa fondasi data yang dimiliki telah kuat sebelum mengimplementasikan teknologi apa pun dalam skala besar. Tanpa data yang rapi, teknologi canggih sekalipun akan sulit memberikan hasil yang optimal.
AI Mulai Meninggalkan Dunia Digital
Salah satu perubahan signifikan yang diprediksi terjadi pada 2026 adalah pergerakan AI dari ranah digital menuju aplikasi nyata di dunia fisik.
Anthony Vetro dari Mitsubishi Electric Research Labs menyebut tren ini sebagai “physical AI”, yaitu teknologi kecerdasan buatan yang harus mempertimbangkan gesekan, suhu, dan ketidakpastian di lingkungan fisik.
Menurutnya, penerapan AI jenis ini tidak bisa berdiri sendiri. Perangkat keras, AI, data, dan alur kerja manusia harus dirancang sebagai satu kesatuan. Tanpa pendekatan terpadu, manfaatnya tidak dapat dimaksimalkan.
Pertumbuhan Robot dan Titik Balik Pasar
Analisis Deloitte memperkirakan jumlah robot industri terpasang dapat mencapai 5,5 juta unit pada 2026. Namun penjualan tahunan robot baru stagnan sejak 2021. Hal ini menandakan bahwa industri sedang berada di titik balik, bukan masa ledakan.
Salah satu pemicu perubahan adalah munculnya robot humanoid yang mulai diujicobakan di pabrik pada 2025. Dengan semakin langkanya tenaga kerja terampil, robot humanoid dianggap sebagai solusi untuk inspeksi, pemantauan, dan tugas fisik di area sulit.
Para pemimpin industri menilai bahwa kemampuan robot humanoid bukan pada bentuknya, tetapi pada fleksibilitasnya. Berbeda dari robot tradisional yang hanya bisa satu tugas, robot humanoid mampu berpindah-pindah pekerjaan sesuai kebutuhan harian.
Kemajuan AI untuk Tugas Fisik
Selain humanoid, perkembangan lain datang dari robot cerdas yang menggabungkan AI dengan kemampuan fisik. Robot jenis ini dirancang untuk melakukan pekerjaan nyata dengan ketelitian mirip perangkat lunak.
Dalam tahap awal, perusahaan mungkin menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan keuntungan, tetapi persaingan akan mendorong penurunan biaya dan penggunaan lebih luas.
Tantangannya, AI fisik tidak hanya memerlukan model yang akurat, tetapi juga harus memenuhi aturan fisika. Jika tidak, hasilnya tidak akan stabil atau aman.


0 Tanggapan
Empty Comments