Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Telaah Linguistik dan Teologis: Kata Al-Islam dalam Mars Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Telaah Linguistik dan Teologis: Kata Al-Islam dalam Mars Muhammadiyah
Alfi Saifullah – Penulis kolom, buku biografi, dan sejarah. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Alfi Saifullah Penulis kolom, buku biografi, dan sejarah
pwmu.co -

Lagu Sang Surya karya Djarnawi Hadikusumo yang kerap dan pasti dinyanyikan disetiap acara Persyarikatan Muhammadiyah bukanlah sekadar lagu organisasi atau mars perjuangan. Menurut hemat kami, lagu tersebut adalah teks ideologis, yakni media yang memuat pernyataan nilai, keyakinan, dan orientasi gerakan.

Dalam konteks sosiologis–kultural, lagu tidak hanya berfungsi membangkitkan emosi kolektif, tetapi juga menyampaikan rumusan identitas secara ringkas dan simbolik. Oleh karena itu, setiap diksi dalam lirik Sang Surya mengandung makna tertentu yang mencerminkan nilai dan konteks yang melatarbelakanginya.

Ada salah satu frasa paling penting dari lagu tersebut: ‘Al-Islam Agamaku’. Sekilas, frasa ini tampak sederhana. Namun, ketika ditelaah secara linguistik dan teologis, pilihan kata Al-Islam—bukan sekadar Islam—mengandung pesan konseptual yang kuat.

Lantas dari teks tersebut timbul sebuah pertanyaan, kenapa harus Al-Islam? Kenapa bukan Islam saja? apakah hanya persoalan gaya bahasa, atau menyentuh wilayah definisi agama, dan orientasi pemahaman yang hendak ditegaskan oleh lagu tersebut? Mari kita bahas secara perlahan-lahan kisanak!

Islam dan Al-Islam: Perbedaan Bahasa dan Konsekuensi Makna

Dalam bahasa Arab, kata islam berasal dari akar kata salima yang artinya selamat, sehat, dan tidak rusak. Secara morfologis, Islam adalah masdar (kata benda verbal) dari kata aslama – yuslimu – islāman yang bermakna selamat, tunduk, atau berserah diri.

Secara etimologis, islam dapat dipahami sebagai sikap kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan. Dalam pengertian ini, makna islam bersifat umum dan konseptual, karena kepasrahan dapat terjadi dalam berbagai bentuk keyakinan dan lintas sejarah kenabian.

Namun, ketika kata islam diberi lebel definitif berupa al- (ال), terbentuklah istilah Al-Islam yang secara terminologis merujuk pada agama tertentu, yakni agama yang ditetapkan Allah dengan sistem akidah, ibadah, dan syariat yang spesifik. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Al-Rāghib al-Aṣfahānī dalam Al-Mufradāt fī Gharīb al Qurān.

الإسلام في الشرع هو إظهار الخضوع والالتزام بالشريعة التي جاء بها النبي ﷺ

Islam menurut syariat adalah menampakkan ketundukan dan keterikatan kepada syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Dalam kerangka ini, Al-Islam tidak lagi sekadar sikap batiniyah, melainkan agama formal dan normatif yang memiliki rujukan wahyu dan struktur ajaran yang jelas.

Al Quran telah menggunakan istilah Al-Islam untuk menegaskan makna ini, sebagaimana dalam pernyataan bahwa agama di sisi Allah adalah Al-Islam (QS. Ali ‘Imran: 19). Dengan demikian, Al-Islam merupakan istilah yang menutup kemungkinan tafsir umum dan menunjuk secara tegas pada agama Islam sebagai dīn yang definitif.

Konteks Lirik

Sebaliknya, dalam konteks lirik, frasa Al-Islam Agamaku berfungsi sebagai pernyataan identitas ideologis. Bukan sekadar pengakuan keimanan personal. Tidak! Melainkan sebuah deklarasi tentang agama yang harus dipahami, dirujuk, dan diperjuangkan.

Dengan menggunakan istilah Al-Islam, lirik ini menegaskan bahwa agama yang dimaksud bukan Islam dalam arti generik (kepasrahan), tetapi Islam sebagai sistem ajaran yang telah diturunkan dan disempurnakan melalui Nabi Muhammad SAW.

Jika lirik tersebut hanya menggunakan frasa ‘Islam Agamaku’, secara linguistik masih terbuka kemungkinan pemaknaan bahwa Islam dipahami sebagai nilai moral umum atau sikap spiritual semata. Penambahan al- berfungsi mengunci makna, sehingga tidak terjadi reduksi Islam menjadi sekadar etika atau simbol budaya. Dengan demikian, Al-Islam di sini adalah Islam sebagai agama normatif, bukan sekadar identitas kultural.

Al-Islam dan Orientasi Pemurnian

Pilihan istilah Al-Islam memiliki implikasi langsung terhadap orientasi pemurnian yang menjadi ciri khas Muhammadiyah. Dalam konteks Muhammadiyah, pemurnian tidak dimaksudkan sebagai klaim eksklusivitas keimanan, melainkan sebagai penegasan rujukan. Al-Islam menunjuk pada Islam yang dikembalikan kepada sumber normatifnya, yaitu al Quran dan Sunnah yang sahih.

Pemurnian di sini bekerja pada level konsep dan metodologi, bukan pada penghakiman identitas. Dengan menyebut Al-Islam, Muhammadiyah menegaskan bahwa Islam harus dipahami sebagai agama yang memiliki standar objektif, bukan sekadar akumulasi tradisi atau kebiasaan yang diwariskan tanpa kajian. Ini sekaligus menjadi kritik implisit terhadap kecenderungan sinkretisme dan ritualisme yang tidak memiliki dasar nash yang jelas.

Namun, penting ditegaskan bahwa penggunaan istilah Al-Islam tidak berarti menafikan keislaman kelompok lain. Ia adalah pernyataan tentang bagaimana Islam dipahami dan dijalankan, bukan tentang siapa yang berhak disebut Muslim.

Salah satu risiko dari wacana pemurnian adalah jatuh ke sikap eksklusif. Dalam konteks ini, istilah Al-Islam justru berfungsi sebagai penanda batas epistemologis, bukan alat delegitimasi. Pemurnian berhenti pada wilayah ajaran normatif yang bersumber dari wahyu, sementara wilayah tafsir dan ijtihad tetap diakui sebagai ruang perbedaan.

Dengan demikian, Al-Islam tidak diposisikan sebagai ‘Islam versi kelompok tertentu’, melainkan Islam yang secara prinsip bersandar pada sumber ajaran yang sama. Perbedaan penafsiran tidak serta-merta dipandang sebagai penyimpangan dari Al-Islam, melainkan sebagai bagian dari dinamika pemahaman manusia terhadap ajaran yang sama.

Al-Islam sebagai Pernyataan Teologis

Dari sudut pandang tekstual, pilihan Al-Islam dalam lagu Sang Surya adalah pilihan yang sadar dan terencana. Lagu ini tidak ditulis sebagai karya sastra bebas, melainkan sebagai manifesto nilai. Sebab, setiap barisnya berfungsi menyampaikan pesan inti gerakan, mulai dari tauhid, kenabian, hingga orientasi amal.

Dalam kerangka ini, Al-Islam Agamaku menjadi poros yang mengikat seluruh lirik. Menegaskan bahwa seluruh gerak, amal, dan perjuangan yang disebutkan dalam lagu berakar pada pemahaman Islam sebagai agama yang utuh, jelas, dan memiliki standar kebenaran yang bersumber dari wahyu.

Al-hasil, Frasa Al-Islam Agamaku dalam lagu Sang Surya bukanlah pilihan kata yang ‘kebetulan’. Ia merupakan penegasan terminologis dan ideologis yang membedakan antara Islam sebagai konsep umum dan Al-Islam sebagai agama normatif.

Dengan menggunakan istilah tersebut, lagu ini menegaskan bahwa agama yang dimaksud adalah Islam yang definitif, memiliki rujukan wahyu, dan dipahami sebagai sistem hidup yang utuh. Dengan begitu Al-Islam juga berfungsi sebagai orientasi pemurnian yang berlandaskan dalil, sekaligus sebagai pagar agar pemurnian tidak kedalam eksklusivisme. Wallahu a’lam. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu