Search
Menu
Mode Gelap

Temu Alumni dan Milad ke-43 Pondok Shabran UMS Teguhkan Peran Kader di Pelosok Negeri

Temu Alumni dan Milad ke-43 Pondok Shabran UMS Teguhkan Peran Kader di Pelosok Negeri
Temu Alumni dan Milad ke-43 Pondok Shabran UMS Teguhkan Peran Kader di Pelosok Negeri. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Seminar Internal untuk memeriahkan Temu Alumni dan Semarak Milad ke-43 dengan tema “Meneguhkan Peran Alumni Shabran di Pelosok Negeri”.

Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Moh. Djazman UMS pada Sabtu, (10/1/2026) menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan peran alumni dalam menjawab tantangan dakwah, kaderisasi, dan keberlanjutan gerakan Muhammadiyah di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Dalam sesi pertama, Drs. Marpuji Ali, M.Si., menyampaikan paparan mengenai sejarah dan proses panjang berdirinya Pondok Shabran. Ia menjelaskan bahwa cikal bakal Shabran berasal dari niat seorang tokoh sepuh yang ingin memanfaatkan tempat tinggalnya untuk pendidikan Islam.

Gagasan tersebut kemudian ditawarkan kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Solo dan ditindaklanjuti oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta melalui penyusunan konsep dan proposal awal.

“Awalnya dirancang sebagai Madrasah Aliyah, namun dalam perjalanannya berkembang menjadi pondok kaderisasi Muhammadiyah,” ungkap Marpuji Ali.

Ia menambahkan, titik balik penting terjadi saat pertemuan pimpinan PDM se-Indonesia yang mendorong dibukanya kembali sekolah perkaderan. Dari forum tersebut lahir kesepakatan pengiriman kader dari berbagai wilayah dengan pola seleksi yang semakin sistematis dan berkualitas.

Marpuji juga menyoroti peran tokoh-tokoh Muhammadiyah yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam membesarkan Pondok Shabran, diantaranya ada seorang dosen yang meski telah sepuh tetap rutin mengajar dan menjadi teladan ketulusan dalam dunia pendidikan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Temu Alumni dan Milad ke-43 Pondok Shabran UMS Teguhkan Peran Kader di Pelosok Negeri. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Nilai Islam berkemajuan yang ditanamkan sejak awal, menurutnya, terbukti melahirkan alumni yang kini tersebar di berbagai daerah dan mengambil peran strategis di lembaga pendidikan, kesehatan, hingga pemerintahan.

Sementara itu, dalam sesi berikutnya, Prof. Dr. M. Abdul Fattah Santoso, M.Ag., menekankan pentingnya penguatan peran alumni melalui sinergi kader Muhammadiyah.

Ia memaparkan empat kategorisasi kader, yakni kader biologis, ideologis, pekerja, dan naturalisasi, yang seluruhnya harus dikelola secara seimbang agar persyarikatan tetap kokoh dan adaptif.

Fattah menegaskan bahwa tantangan kaderisasi saat ini bukan hanya pada kuantitas, tetapi pada pembangunan ekosistem kader yang adil, terbuka, dan berorientasi nilai. Ia juga mengingatkan agar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak dipahami semata sebagai institusi profesional, melainkan sebagai ruang dakwah dan kaderisasi yang terintegrasi dengan ideologi persyarikatan.

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, Pondok Shabran UMS berharap alumni semakin menyadari peran strategisnya sebagai kader Muhammadiyah yang tidak hanya hadir secara struktural, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa, khususnya di wilayah-wilayah pelosok negeri.

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments