Sebanyak 798 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti The 10th Healthcare Management Outlook Series yang diselenggarakan oleh Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (FK UMSURA), Sabtu (14/2/2026) pagi.
Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom dan YouTube Live, menghadirkan pembicara dr. Agus Sukaca dengan tema besar Pendekatan Profetik Menjawab Tantangan Manajemen Pelayanan Kesehatan di Era Disrupsi.
Dalam pemaparannya, dr. Agus Sukaca mengangkat materi bertajuk Kepemimpinan Islami dalam Menghadapi Krisis dan Disrupsi Bidang Layanan Kesehatan. Ia menegaskan bahwa pelayanan kesehatan Muhammadiyah sejak awal berdiri memiliki orientasi utama “untuk menolong”.
Spirit ini merujuk pada sejarah gerakan Muhammadiyah yang menempatkan pelayanan sebagai wujud nyata dakwah dan kepedulian sosial, sebagaimana tertuang dalam Almanak Muhammadiyah 1348 H/1929 M.
Menurutnya, rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (RSMA) harus tetap berpijak pada prinsip not for profit serta mengedepankan kebermanfaatan. Dalam konteks sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan, momentum ini dinilai sebagai peluang untuk tetap menolong masyarakat tanpa harus bergantung pada penghimpunan dana internal semata.
Lebih lanjut, dr. Agus menjelaskan bahwa kepemimpinan Islami di layanan kesehatan memiliki dua misi utama, yakni misi keilmuan dan misi kepemimpinan. Misi keilmuan dimaknai sebagai upaya menampakkan kehendak Allah dalam proses diagnosa dan terapi, sebagaimana hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa setiap penyakit memiliki obatnya dan kesembuhan terjadi atas izin Allah.
Sementara itu, misi kepemimpinan menekankan tanggung jawab setiap individu sebagai pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Prinsip ini diperkuat dengan nilai amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, salah satunya QS At-Taubah ayat 71.
Dalam implementasinya, pimpinan rumah sakit dituntut tidak hanya mengelola secara profesional, tetapi juga membimbing sumber daya insani (SDI) dalam aspek spiritual dan moral.
Konsep amar ma’ruf diwujudkan melalui penyusunan visi-misi, regulasi, standar operasional prosedur, hingga evaluasi kinerja berbasis Key Performance Indicator (KPI). Sementara nahi munkar diterapkan melalui sistem pengawasan, peringatan, hingga sanksi terhadap pelanggaran aturan.
Tak hanya itu, kepemimpinan Islami juga diwujudkan dalam penegakan shalat berjamaah, pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) melalui Lazismu, serta pembinaan akhlak berbasis nilai tauhid, kejujuran, keadilan, persaudaraan, dan gotong royong.
Di tengah berbagai tantangan disrupsi seperti transformasi digital, perubahan model pelayanan, regulasi pemerintah, keterbatasan sumber daya manusia, hingga ancaman keamanan siber, dr. Agus optimistis bahwa dengan kepemimpinan Islami, rumah sakit Muhammadiyah mampu melewati krisis apa pun.
“Dengan kepemimpinan yang bersendi hukum Allah dan lepas dari pengaruh hawa nafsu, insya Allah layanan kesehatan Muhammadiyah akan tetap kokoh dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” tegasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments