Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

The Ambition Penalty

Iklan Landscape Smamda
The Ambition Penalty
Oleh : Rahma Laila Tasyrika PK IMM Ki Bagus Hadikusumo UNS
pwmu.co -

Di banyak ruang hidup, ambisi sering kali menjelma menjadi sesuatu yang harus disembunyikan, terutama bagi perempuan.

Perempuan secara tidak langsung belajar menyamarkan cita-citanya layaknya cahaya kecil yang ditutupi tangan—ada, menyala, tetapi tidak boleh terlalu terang atau menyilaukan.

Ketika seorang perempuan mulai berbicara tentang mimpi besar, keinginan untuk memimpin, atau mengejar posisi strategis, masyarakat kerap merespons dengan desahan halus, “Jangan berlebihan.”

Respons ini seolah memasang rem otomatis pada potensi, padahal ambisi bukanlah manifestasi kesombongan, melainkan bahasa lain dari harapan dan dorongan naluriah untuk bertumbuh.

Fenomena ini, di mana perempuan mendapat hukuman secara sosial karena menunjukkan kompetensi atau keinginan maju. Dalam studi akademik disebut sebagai ambition penalty (penalti ambisi).

Akar masalahnya bukan sekadar opini individu, tetapi bias kolektif yang mengakar kuat dalam struktur budaya.

Secara akademis, penelitian oleh Madeline Heilman pada tahun 2001 telah menunjukkan bahwa  perempuan yang tampil ambisius dinilai secara signifikan kurang menyenangkan (less likable) dibandingkan dengan laki-laki yang menunjukkan perilaku atau ambisi identik.

Standar ganda ini menciptakan dilema laten bagi perempuan modern.

Masyarakat masih membawa warisan pandangan konservatif bahwa perempuan idealnya tampil “cukup” —tidak dominan, lembut, dan tidak terlalu menonjol— agar tetap dianggap menyenangkan dan tidak mengancam tatanan sosial.

Ekspektasi tradisional ini sering kali berbenturan keras dengan realitas abad ke-21.

Ironisnya, perempuan kini hidup di masa ketika akses pendidikan semakin luas, namun ekspektasi sosial masih melekat kuat.

Di satu sisi, mereka didorong untuk berprestasi tinggi; disisi lain, mereka tetap dibebani standar gender yang sempit.

Dilema ini semakin diperparah dengan tuntutan emotional labor atau beban emosional tak kasat mata.

Ini adalah tuntutan sosial bagi perempuan untuk selalu menjaga suasana hati orang lain, tetap lembut, pengertian, dan menghindari konfrontasi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketika seorang perempuan memimpin dengan ketegasan yang diperlukan, ia segera dilabeli “keras” atau “agresif”.

Ketika ia mengambil peluang, ia dituduh “ingin mendominasi” atau “tidak tahu diri” karena menolak batasan normatif.

Penilaian ini, menurut penelitian terbaru oleh Brescoll (2016), lebih mencerminkan ketakutan masyarakat terhadap perubahan status quo daripada karakter perempuan itu sendiri.

Ambisi adalah netral gender

Konsekuensi dari ambition penalty ini sangat nyata. Banyak perempuan akhirnya membatasi diri mereka sendiri, secara sadar mengecilkan pencapaian mereka demi diterima secara sosial.

Ambisi yang seharusnya sehat dan produktif pun menjadi sesuatu yang ditutupi dan disembunyikan.

Padahal, ambisi perempuan bukanlah ancaman sosial, melainkan peluang emas bagi masyarakat untuk berkembang secara optimal.

Studi McKinsey pada tahun 2023 mencatat bahwa perempuan memiliki aspirasi kepemimpinan yang tinggi, tetapi sering kali mundur karena khawatir akan label negatif seperti “dominan” atau “terlalu keras”.

Jika potensi ini tidak mendapatkan hambatan, kita tidak hanya melihat lahirnya pemimpin baru, tetapi juga perbaikan kualitas institusi, organisasi, dan budaya kerja yang lebih inklusif.

Kita sangat membutuhkan pergeseran paradigma kolektif. Ambisi adalah netral gender.

Perempuan berhak merencanakan hidup dan karier sebesar mungkin tanpa perlu takut stigma negatif atau “berlebihan”.

Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang tidak merasa terancam oleh perempuan cerdas, vokal, dan berorientasi pencapaian, melainkan masyarakat yang mendukung mereka untuk meraih potensi penuhnya.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa perempuan begitu ambisius?”, tetapi, “Mengapa masyarakat masih takut dengan perempuan yang punya visi besar?”***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu