Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

The Success Triangle Ahmad Dahlan Jadi Inspirasi Pendidikan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
The Success Triangle Ahmad Dahlan Jadi Inspirasi Pendidikan Muhammadiyah
Pembagian bingkisan THR bagi GTK Muhammadiyah Kota Pasuruan
pwmu.co -

Lembaga pendidikan Muhammadiyah perlu mengambil pelajaran dari keberhasilan perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam mengembangkan Muhammadiyah. Nilai-nilai perjuangan tersebut dinilai relevan untuk memperkuat kemajuan sekolah dan madrasah Muhammadiyah di tengah tantangan pendidikan saat ini.

Hal itu disampaikan Sekretaris Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur, Dr. Eko Hardi Ansyah, saat menyampaikan materi bertajuk “The Success Triangle of Ahmad Dahlan” dalam kegiatan Darul Arqom Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Muhammadiyah Kota Pasuruan.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Kota Pasuruan tersebut berlangsung di Pusat Dakwah Muhammadiyah pada 11 Maret 2026 dengan mengangkat tema “Ramadan dan Peningkatan Kinerja GTK Muhammadiyah Kota Pasuruan.”

Dalam pemaparannya, Eko menjelaskan bahwa keberhasilan KH Ahmad Dahlan dalam membangun Muhammadiyah dapat dipahami melalui konsep segitiga keberhasilan yang meliputi tauhid, ilmu, dan ta’awun.

Banyak Sekolah Muhammadiyah Masih Berukuran Kecil

Berdasarkan data Dapodikmu Jawa Timur tahun 2023, jumlah sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Jawa Timur mencapai 1.034 lembaga. Namun, sekitar 63,78 persen di antaranya masih masuk kategori sekolah kecil hingga sangat kecil.

Kondisi tersebut menurutnya menjadi tantangan bagi pengelola pendidikan Muhammadiyah untuk terus melakukan penguatan kualitas dan pengembangan lembaga.

“Membuat sekolah kecil menjadi cukup besar memerlukan kerja keras semua unsur yang terlibat, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga Majelis Dikdasmen,” ujarnya.

Ilmu sebagai Fondasi Kemajuan

Dalam menjelaskan aspek pertama dari konsep tersebut, Eko menekankan pentingnya kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kemajuan lembaga pendidikan.

Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS Al-Mujadilah: 11).

Kecintaan terhadap ilmu, menurutnya, telah ditunjukkan langsung oleh KH Ahmad Dahlan yang menempuh perjalanan panjang untuk belajar ke Mekkah sebanyak dua kali, yakni saat berusia 15 tahun selama lima tahun dan pada tahun 1903 selama dua tahun.

“Bagi KH Ahmad Dahlan, semangat keilmuan adalah sumber kekuatan dalam perjuangannya,” jelasnya.

Eko menilai bahwa kecintaan terhadap ilmu harus menjadi karakter utama guru dan tenaga kependidikan di lembaga Muhammadiyah. Hal itu dapat dilihat dari berbagai indikator, seperti jumlah guru yang melanjutkan studi ke jenjang magister dan doktor, intensitas kegiatan akademik di sekolah, serta pelatihan profesional bagi guru.

Ia mencontohkan sistem pendidikan di Singapura yang mewajibkan guru mengikuti pelatihan minimal 100 jam setiap tahun agar tidak tertinggal dalam perkembangan pendidikan.

“Ilmu adalah darah daging Muhammadiyah, sementara guru adalah tubuhnya,” ujarnya.

Ta’awun sebagai Gerakan Sosial

Aspek kedua dalam konsep tersebut adalah ta’awun atau semangat saling menolong. Menurut Eko, jiwa ta’awun menjadi dasar gerakan sosial Muhammadiyah sejak masa KH Ahmad Dahlan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Pada 1 Desember 1911, KH Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) di Kauman Yogyakarta sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang saat itu masih diliputi kebodohan dan kemiskinan.

“Beliau bahkan tidak segan mengorbankan harta pribadinya untuk membangun lembaga pendidikan dan melayani masyarakat,” ungkapnya.

Semangat ta’awun kemudian berkembang menjadi berbagai amal usaha Muhammadiyah, mulai dari rumah sakit, lembaga pendidikan, panti asuhan, hingga lembaga sosial seperti Lazismu dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Dalam situasi pandemi Covid-19, Muhammadiyah juga membentuk Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) sebagai bentuk kontribusi dalam penanganan krisis kesehatan.

Di Kota Pasuruan sendiri, penerapan nilai ta’awun diwujudkan melalui berbagai program kesejahteraan bagi guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah.

Program tersebut antara lain pemberian jaminan sosial bagi guru yang pensiun, bantuan bagi guru atau keluarga yang sakit maupun meninggal dunia, hingga program Peduli Guru yang memberikan bantuan sembako atau voucher belanja setiap bulan.

Selain itu, para GTK Muhammadiyah di Kota Pasuruan juga menerima bingkisan Tunjangan Hari Raya (THR), bantuan transportasi, serta pembagian seragam batik dari Majelis Dikdasmen.

Tauhid sebagai Ruh Perjuangan

Aspek ketiga dalam konsep segitiga keberhasilan Ahmad Dahlan adalah tauhid. Menurut Eko, tauhid menjadi ruh yang menggerakkan perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Meskipun dalam kondisi sakit atau menghadapi ancaman yang membahayakan keselamatannya, KH Ahmad Dahlan tetap menghadiri pengajian dan mengajar masyarakat.

Keteguhan tersebut menunjukkan bahwa perjuangannya didasari oleh keyakinan dan ketulusan dalam menjalankan misi dakwah.

Nilai tersebut, menurut Eko, perlu diteladani oleh guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah dalam menjalankan tugasnya.

Guru diharapkan tetap disiplin menjalankan kewajiban mengajar, terus meningkatkan kompetensi, serta memiliki semangat untuk mengembangkan lembaga pendidikan meskipun menghadapi berbagai tantangan.

“Tauhid adalah ruh Muhammadiyah yang membuat seluruh amal usaha terus hidup dan berkembang,” pungkasnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡