Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tidak Cukup Memulai, Kita Harus Bertahan di Jalan Kebaikan

Iklan Landscape Smamda
Tidak Cukup Memulai, Kita Harus Bertahan di Jalan Kebaikan
Foto: muslimplanner.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Dalam perjalanan hidup seorang muslim, melakukan kebaikan bukan sekadar perkara memulai, tetapi, dan ini yang paling menantang, menjaganya agar tetap berlanjut.

Istikamah adalah puncak dari perjuangan spiritual seseorang. Ia bukan hanya tentang berbuat baik sesekali, tetapi tentang keteguhan hati untuk terus berada di atas jalan yang diridhai Allah, apa pun tantangannya.

Memulai kebaikan memang membutuhkan tekad. Namun, mempertahankannya dari hari ke hari, di tengah kesibukan, kelelahan, lingkungan yang tidak mendukung, bahkan godaan hawa nafsu, jelas membutuhkan kesabaran ekstra.

Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu…” (QS. Hud: 112)

Ayat ini menjadi perintah yang sangat berat hingga para ulama menyebutnya sebagai ayat yang “membuat rambut Rasulullah menua”, karena tuntutan istiqamah itu luar biasa besarnya.

Berat Memulai, Lebih Berat Menjaga

Seseorang yang belum terbiasa salat fardhu berjamaah di masjid akan merasa berat mengambil langkah pertama. Alarm subuh kadang terdengar seperti bisikan jauh, udara pagi terasa menusuk, dan tubuh terasa ingin terus merebah.

Tetapi ketika kebiasaan itu mulai terbentuk, tantangan berikutnya justru lebih besar: bagaimana menjaga rutinitas itu tetap hidup?

Ada hari-hari ketika hujan turun, pekerjaan menumpuk, tubuh letih, atau sekadar rasa malas datang tiba-tiba. Inilah ujian istikamah.

Begitu pula dengan shalat tahajud. Bangun di sepertiga malam bukan kebiasaan yang mudah dilakukan.

Tetapi mempertahankan kebiasaan itu setiap malam, tanpa terputus oleh kesibukan atau kelelahan, jauh lebih berat.

Dalam QS. Al-Muzzammil: 6 Allah menyatakan: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan pun lebih berkesan.”

Namun, justru karena keutamaannya besar, godaannya pun kuat. Saat menjalankan ibadah puasa, kita menahan lapar dan dahaga di siang hari Ramadan.

Tetapi ada hal yang lebih sulit dari puasa fisik, yaitu menahan lisan dari menyakiti, menahan mata dari maksiat, menahan telinga dari ghibah, dan menahan hati dari iri dengki.

Dan yang lebih berat lagi adalah tetap menjaga semua itu meski Ramadan telah berlalu, ketika semangat lingkungan tidak lagi sebesar bulan suci.

Tiga Pilar Istikamah

Memulai kebaikan membutuhkan ilmu, karena tanpa mengetahui perintah dan tuntunannya, seseorang tidak akan punya arah.

Setelah ilmu, dibutuhkan kemauan, karena tanpa tekad, amal tidak akan terwujud. Namun, untuk bisa istiqamah, dua hal itu saja tidak cukup. Harus ada kesabaran.

Allah berfirman: “Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…” (QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat ini menunjukkan bahwa sabar adalah fondasi yang menopang perjalanan panjang seorang mukmin.

Tanpa sabar, seseorang akan mudah berhenti ketika diuji, padahal setiap orang yang berjalan di atas jalan kebenaran pasti diuji.

Ada ujian kemalasan, ujian godaan dunia, ujian komentar orang, bahkan ujian kejenuhan dalam ibadah.

Sering kali, karena kurang sabar, seorang hamba berhenti di tengah jalan. Ia mungkin sudah memulai dengan baik, namun tidak kuat menjaga ritme, lalu perlahan mundur, bahkan berbalik arah. Padahal Allah berjanji:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Sebuah nasihat agung pernah disampaikan Rasulullah sa ketika seorang sahabat bertanya,
“Wahai Rasulullah, katakan kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang tidak perlu lagi kutanyakan kepada siapa pun selain engkau.”

Rasulullah menjawab dengan singkat, namun sangat dalam:

“Katakan: Aku beriman kepada Allah, lalu istikamahlah.” (HR. Muslim)

Jawaban ini menjadi isyarat bahwa seluruh amal ibadah kita sebenarnya bermuara pada dua hal: iman dan istiqamah. Beriman adalah fondasi, sedangkan istiqamah adalah bukti nyata dari iman itu sendiri. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu