Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiga Golongan yang Terhalang Kebaikan dan Ampunan di Bulan Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Tiga Golongan yang Terhalang Kebaikan dan Ampunan di Bulan Ramadan
Foto: sadagaat-usa.org
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Kebaikan bulan Ramadan adalah bulan mulia dengan seluruh keutamaan dan keistimewaan di dalamnya. Semua orang Islam di manapun berlomba-lomba untuk memperoleh keutamaannya dengan meningkatkan intensitas ibadah dibanding bulan-bulan lainnya. Sekalipun demikian, ada tiga orang atau golongan yang terhalang kebaikan dan ampunan di bulan Ramadan.

مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Barangsiapa yang terhalangi mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi mendapatkannya.” (HR. Nasai, no. 2106).

Bahkan, orang yang seperti ini, didoakan oleh malaikat Jibril agar Allah menghinakannya, dan diaminkan oleh Rasulullah saw :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَقِيَ الْمِنْبَرَ، فَقَالَ: ” آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ“، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟ ! فَقَالَ: ” قَالَ لِي جِبْرِيلُ: أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ.ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ: آمِينَ .ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ، ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, bahwa suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam naik mimbar dan beliau bersabda, “Amin, amin, amin.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu mengatakan seperti itu?” Beliau bersabda, “Jibril berkata kepadaku, “Semoga Allah menghinakan seorang hamba yang setelah memasuki Ramadan, Allah belum mengampuni dirinya.” Maka aku katakan, “Amin.” Kemudian Jibril berkata, “Terhinalah seorang hamba yang mendapati kedua orangtuanya masih hidup atau salah satu dari keduanya akan tetapi tidak dapat membuatnya masuk surga.” Maka aku katakan, “amin.” Kemudian Jibriil berkata, “Terhinalah seorang hamba ketika namamu disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadamu.” Maka aku katakan, “Amin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, no. 1888, redaksi tersebut ada padanya, At-Tirmidzi, no. 3545, Ahmad, no. 7444, Ibnu Hibban, no. 908, shahih).

Berdasarkan hadis tersebut, tiga golongan yang terhalang kebaikan, ampunan, dan rahmat Allah di bulan Ramadan adalah:

1. Menemui Ramadan namun tidak diampuni karena lalai dalam maksiat. Orang yang berpuasa secara fisik namun tidak menjaga hati dan anggota tubuhnya dari kemaksiatan. Mereka melewatkan kesempatan emas untuk memohon ampun hingga Ramadhan berlalu begitu saja, sehingga tetap berada dalam kerugian.

2. Tidak berselawat saat nama Nabi Muhammad saw disebut. Orang yang mendengar nama Nabi Muhammad saw disebut namun tidak mengucapkan selawat. Hal ini dikategorikan sebagai bentuk kelalaian serius.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

3. Menyia-nyiakan orang tua. Mereka merugi meski Ramadhan penuh berkah. Orang yang masih memiliki kedua atau salah satu orang tua namun tidak berbakti atau menyia-nyiakan hak mereka. Hal ini menghalangi masuknya rahmat Allah

Bagi orang yang seperti ini, tentu kedatangan Ramadan tidak membuatnya gembira, tidak ada antusias di dalam dirinya untuk menyambutnya. Hati yang hambar, bahkan mati rasa. Hari-hari Ramadan, baginya biasa saja, tidak ada bedanya dengan hari-hari di bulan lain.

Bahkan, terasa menjadi beban, harus menahan lapar dan haus seharian, berlama-lama dalam salat tarawih, harus bangun untuk masak dan makan sahur, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pemenuhan konsumsi Ramadan, terlebih untuk menyiapkan Idhulfitri. Sehingga bukan kegembiraan yang dirasakan, justru keluh kesah dan kekesalan yang meliputi dirinya.

Bahkan tak segan, dan begitu enteng baginya, untuk meninggalkan kewajiban shaum Ramadhan. Seakan kewajiban ini hanya pilihan saja, terserah bagi dia apakah mau shaum atau tidak, tidak ada beban dan merasa bersalah.

Dan hal ini -sangat disayangkan- dianggap lumrah di tengah masyarakat. Orang-orang di sekitar pun, sudah menganggapnya hal biasa. Sudah sama-sama tahu dan sama-sama memaklumi.

Dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka dan dibelenggunya syetan-syetan, baginya tidak berlaku. Tidak terasa hawa surga yang mendorongnya untuk taat, justru tarikan neraka yang terasa kuat yang membuatnya tetap di dalam kedurhakaan.

Tidak ada lagi penghalang dari syetan-syetan itu, karena syetan-syetan itu sudah menyatu di dalam dirinya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡