
Oleh: Abdul Aziz Asy-Syi’ari SPdI (Pendidik di AUM Pendidikan SD Muhammadiyah Kota Blitar)
Abstrak
Seni mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga melibatkan strategi komunikasi, metode pembelajaran, dan pengembangan keterampilan siswa. Namun, dalam praktiknya, terdapat beberapa aspek penting yang mulai hilang dalam dunia pendidikan. Artikel ini membahas tiga hal yang hilang dalam seni mengajar, yaitu keterampilan berkomunikasi yang efektif, penggunaan metode pembelajaran yang variatif, dan pengembangan keterampilan berpikir kritis serta kreatif. Analisis ini didukung oleh teori pendidikan dan regulasi nasional yang relevan.
Kata Kunci
Pendidikan, Seni Mengajar, Komunikasi Efektif, Metode Pembelajaran, Berpikir Kritis
Pendahuluan
Mengajar adalah seni yang membutuhkan keterampilan lebih dari sekadar menguasai materi pelajaran. Guru harus mampu menyampaikan ilmu dengan cara yang menarik dan bermakna bagi siswa. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa aspek penting dalam seni mengajar mulai terabaikan.
Banyak guru mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif, menggunakan metode pembelajaran yang variatif, serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. Artikel ini akan membahas ketiga aspek tersebut, serta teori dan regulasi yang mendukungnya.
Pembahasan
- Keterampilan Berkomunikasi yang Efektif
Komunikasi adalah kunci utama dalam pembelajaran. Guru yang mampu berkomunikasi dengan baik akan lebih mudah menyampaikan materi dan membangun hubungan positif dengan siswa.
Sayangnya, banyak guru masih mengalami kesulitan dalam menyampaikan ide dengan jelas, mendengarkan siswa secara aktif, serta membangun empati dalam kelas.
Teori yang Relevan:
Teori Berkomunikasi oleh Carl Rogers (1951), menekankan bahwa komunikasi yang efektif memerlukan empati, kongruensi, dan ketulusan agar pesan dapat diterima dengan baik oleh siswa.
- Penggunaan Metode Pembelajaran yang Variatif
Pembelajaran yang menarik adalah pembelajaran yang tidak monoton. Namun, masih banyak guru yang terpaku pada metode ceramah atau penugasan tanpa variasi. Hal ini dapat menyebabkan siswa kehilangan motivasi dalam belajar.
Teori yang relevan:
Teori Pembelajaran oleh Benjamin Bloom (1956), yang menyatakan bahwa pembelajaran dapat ditingkatkan dengan penggunaan metode yang variatif dan berorientasi pada siswa. Dengan metode yang lebih kreatif, siswa akan lebih mudah memahami dan mengingat materi.
- Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif
Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir siswa. Sayangnya, banyak sistem pembelajaran masih berfokus pada hafalan, bukan analisis dan inovasi.
Teori yang relevan:
Teori Pembelajaran Sosial oleh Lev Vygotsky (1978), yang menyatakan bahwa pembelajaran harus berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif melalui interaksi sosial.
Landasan yang Relevan
Untuk memperkuat urgensi tiga aspek yang hilang dalam seni mengajar, beberapa regulasi pendidikan di Indonesia dapat dijadikan acuan:
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menekankan bahwa pendidikan harus mengembangkan potensi peserta didik.
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang mengatur standar proses pembelajaran yang harus interaktif, inspiratif, dan menyenangkan.
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan, yang mengharuskan guru menggunakan pendekatan berbasis siswa dan metode pembelajaran yang inovatif.
Kesimpulan
Seni mengajar memerlukan keterampilan lebih dari sekadar menguasai materi. Guru harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif, menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, dan mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta kreatif siswa. Jika aspek-aspek ini diperbaiki, maka kualitas pembelajaran di Indonesia dapat meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, penting bagi para pendidik untuk terus belajar dan mengembangkan metode pengajaran yang lebih inovatif.
Daftar Pustaka
- Bloom, B. S. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. New York: McKay.
- Rogers, C. (1951). Client-Centered Therapy: Its Current Practice, Implications and Theory. Boston: Houghton Mifflin.
- Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge: Harvard University Press.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan.
Editor Zahrah Khairani Karim






0 Tanggapan
Empty Comments