Dalam sebuah ceramah, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menjawab pertanyaan jamaah tentang kondisi seorang ayah yang meninggal dunia dalam keadaan tidak sempat mengucapkan kalimat Allah di akhir hayatnya.
Sang penanya juga ingin mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan agar bisa memberikan kemuliaan untuk ayahnya yang telah wafat.
Menanggapi pertanyaan tersebut, UAH mengingatkan agar setiap Muslim selalu berhusnuzan (berprasangka baik) kepada Allah.
Menurutnya, ketika seseorang diberi ujian sakit menjelang wafat hingga tidak mampu berbuat atau berbicara apa pun, hal itu bisa menjadi tanda kasih sayang Allah.
“Kalau Allah sudah titipkan sakit misalnya koma, tidak bisa melakukan apa pun, husnuzan dulu kepada Allah. Bersyukurlah, karena semua fungsi tubuhnya menjelang wafat ditutup agar tidak berbuat maksiat,” ujar UAH seperti dikutip dari kanal Youtube Adi Hidayat Official.
“Lisannya tidak lagi berkata salah, matanya tidak lagi memandang yang dilarang, dan hatinya hanya menerima kebaikan. Itu tanda rahmat Allah,” tambahnya.
Dia juga menegaskan, ketika keluarga telah membisikkan kalimat thayyibah di telinga orang yang sedang sakaratul maut, maka Allah akan menyampaikan kalimat tersebut kepada ruh orang itu meskipun tidak terucap oleh lisannya.
“Allah perintahkan malaikat untuk menyampaikan itu kepada dirinya walaupun tak terucap di lisannya. Jadi tetap husnuzan. Setelah wafat, selesaikan semua kewajiban beliau, lalu lakukan yang terbaik untuknya,” jelasnya.
Tiga Amalan yang Tak Terputus
UAH mengutip hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang tiga amal yang pahalanya tetap mengalir meski seseorang telah meninggal dunia.
“Jika manusia wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,” kata Ustaz Adi mengutip hadis tersebut.
Menurutnya, ketiga amal tersebut bisa dilakukan oleh anak sebagai bentuk bakti kepada orang tua yang telah berpulang.
1. Doa Anak yang Saleh
Amalan paling mudah namun bernilai besar adalah doa. Gunakan lisan untuk berdoa. Jadilah anak-anak yang saleh dan jangan putus doa. Minimal setiap selesai salat, kirimkan doa untuk ayah dan ibu.
2. Sedekah Jariyah
Jika orang tua pernah beramal, misalnya membantu pembangunan masjid atau madrasah, maka selama amal itu bermanfaat, pahalanya akan terus mengalir. Namun jika belum sempat, anak-anak dapat melanjutkannya.
“Misalnya beli mushaf, letakkan di tempat penghafal Al-Qur’an, dan niatkan pahalanya untuk ayah. Tidak perlu mencantumkan nama atau foto ayah, cukup niatkan dengan ikhlas,” jelasnya.
Ustaz Adi juga menyebutkan amalan seperti badal haji, badal umrah, puasa, atau kurban yang diniatkan untuk orang tua yang telah wafat juga diperbolehkan.
3. Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu yang dimaksud bukan hanya ilmu formal seperti mengajar di sekolah, tetapi juga nilai-nilai kebaikan yang diajarkan orang tua kepada anak-anaknya.
“Ayah yang pernah mengajarkan salat, kejujuran, dan sopan santun — itu semua ilmu yang bermanfaat. Setiap kali anak mengamalkannya dengan niat untuk Allah dan untuk ayahnya, pahala akan mengalir kepada orang tua,” jelas UAH.
Dia juga menambahkan pesan penting agar para orang tua berperan langsung dalam pendidikan agama anak-anaknya.
“Usahakan anak pertama kali belajar ngaji dari orang tuanya. Minimal Fatihah. Karena setiap kali anak membaca Al-Fatihah dalam salat, itu akan menjadi cahaya di alam kubur bagi ayah dan ibunya,” pesan UAH.
Menurutnya, hubungan antara anak dan orang tua tidak terputus oleh kematian. Justru, amal anak yang saleh menjadi bukti keberlanjutan cinta dan doa yang menembus batas dunia dan akhirat.
“Kalau rindu kepada orang tua, bacalah Al-Qur’an. Jadikan bacaan itu cahaya bagi mereka di alam kubur. Itulah cara kita terus berbakti meski telah berpisah dunia,” tutupnya dengan nada penuh kelembutan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments