Semangat menyambut bulan suci Ramadan terasa hangat di Masjid Al-Ikhlas Wonorejo, Kota Surabaya, pada hari pertama Ramadan, Rabu (18/2/2025). Tiga mahasiswa mendapat amanah dalam kegiatan bertajuk Mahasiswa Berfastabiqul Khairat in Ramadan (Mafathir) yang mengusung tema besar “Transformasi Diri Menuju Fitrah: Ramadan Membangun Peradaban Umat.”
Kegiatan ini diinisiasi oleh Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Bagas Avicienna Subagyo bertindak sebagai koordinator, didampingi oleh Abid Abad dan Bagas Sanabil.
Meski hanya diikuti oleh tiga peserta, suasana kegiatan berlangsung reflektif, dan penuh makna. Mafathir dirancang sebagai ruang muhasabah sekaligus penguatan komitmen mahasiswa untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri dan kebangkitan peradaban umat.
Abid Abad menekankan pentingnya fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan sebagai karakter utama mahasiswa muslim. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor gerakan kebaikan di tengah masyarakat, terlebih di bulan yang penuh keberkahan ini.
Bagas Sanabil menambahkan bahwa pembangunan peradaban umat harus diawali dari pembenahan individu.
“Peradaban besar lahir dari pribadi-pribadi yang unggul secara akhlak dan pemikiran. Ramadan adalah momentum untuk membersihkan hati, meluruskan niat, dan menyusun kembali visi hidup kita sebagai generasi penerus,” tuturnya.
Kegiatan Mafathir diisi dengan tadarus Al-Qur’an, diskusi tematik, kultum, serta refleksi bersama mengenai peran mahasiswa dalam membangun masyarakat yang berkemajuan selama 20 hari.
Meski dikemas secara sederhana, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik lahirnya gerakan kebaikan yang lebih luas, baik di lingkungan masjid maupun di masyarakat sekitar.
Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tegalsari, Arie Kurniawan, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia menilai inisiatif tersebut sebagai langkah positif dalam menghidupkan masjid sekaligus membangun kesadaran kolektif umat.
“Kegiatan seperti Mafathir ini sangat relevan dengan semangat Ramadan. Transformasi diri merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. Kami mengapresiasi semangat para mahasiswa yang memulai dari langkah-langkah kecil namun sarat makna. Harapannya, gerakan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi generasi muda lainnya untuk aktif memakmurkan masjid serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.
Dengan semangat fastabiqul khairat, Mafathir menjadi bukti bahwa Ramadan bukan sekadar bulan peningkatan ibadah personal, melainkan juga momentum kolektif untuk menumbuhkan kesadaran, mempererat ukhuwah, serta meneguhkan komitmen dalam membangun peradaban umat yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments