
PWMU.CO– Tiga makna takwa yang terkandung dalam puasa Ramadhan disampaikan oleh Dr H Heri Kustanto MM dalam khotbah Idul Fitri di Stadion Untung Suropati Kota Pasuruan, Senin (2/5/22).
Tiga makna takwa itu pertama, kata dia, hidup harus selalu waspada. Orang bertakwa menjalani hidup seperti orang yang berjalan di jalan yang penuh duri.
”Kehidupan akhir zaman penuh problem: maju dengan membawa dampak positif dan negatif,” ungkap Heri Kustanto.
”Harus berjalan dengan hati-hati, seperti berjalan di jalan penuh duri,” lanjut mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Pasuruan itu.
Dia menambahkan,al-Quran dengan jelas menyebut: dunia adalah permainan yang melalaikan (Al-An’am: 32). ”Maka dari awal, kita harus cerdas bersikap: life is just game,” ujar Vice President Net TV tersebut.
Dia memberikan contoh nyata saat ini bagaimana generasi muda menghabiskan waktunya yang sangat berharga untuk nge-game yang bukan merupakan tujuan hidup.
”Al-Quran memberikan sinyalemen bahwa manusia akan lalai dengan kehidupan dunia. Ini mengharuskan setiap manusia untuk menjalani kehidupan dunia dengan penuh waspada,” imbuhnya.
Doktor Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta itu lantas memberikan cara paling mudah meraih kesuksesan hidup di dunia ini. Yakni dengan melihat orang sukses menjalani kehidupannya.
”Silakan hadirin lihat apa yang sehari-hari orang kerjakan? Bagaimana cara berpikirnya? Apa yang dilakukan saat-saat senggangnya? Siapa teman akrabnya?” tambahnya.
Ia pun menukil sabda Rasulullah: seseorang itu sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaknya berhati-hati memilih kawan akrab.
Bahkan di hadits yang lain, Rasulullah bersabda: teman yang baik itu ibarat penjual minyak wangi. Meskipun dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan teman yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya.
Puasa Ramadhan, kata dia, mengajarkan: yang halal saja seseorang mampu menahannya, maka orang bertakwa harus mampu menahan dari yang haram dengan didikan Ramadhan.
”Dengan bekal waspada, seseorang mengetahui mana baik dan buruk, mana jalan yang mendekatkan dengan cita-cita ya, dan mana jalan yang menjauhkan dari cita-cita hidup,” tandas mengakhiri penjelasan tiga makna takwa.
Fokus Menjalani Hidup
Kedua, takwa bermakna fokus dalam menjalani hidup. Jalan penuh duri memaksa seseorang penuh perhatian pada setiap langkah yang ia ayunkan.
”Kesalahan sedikit saja karena lengah akan fatal akibatnya,” jelasnya. ”Demikian juga dalam menjalani hidup ini: godaan dengan segala bentuknya, ujian dengan segala macamnya akan memecah perhatian dan konsentrasi kita,” terangnya.
Tujuan kehambaan seseorang, menurutnya, seperti yang disebut disebut dalam al-Quran: yaitu beribadah hanya kepada Allah.
Insan bertakwa, lanjut Heri, paham doktrin kehambaan ini, sehingga kehidupannya akan fokus untuk memenuhi tujuan jangka pendek yang bermuara pada jangka panjang. Namun, manusia sering lupa bahwa tugas seorang hamba adalah patuh kepada pencipta.
”Hamba sok pintar sering menyiasati ketidakpatuhannya sehingga datang musibah, baik berupa penyakit fisik dan rohani,” terangnya. ”Bila tidak segera diatur dengan fokus kehambaannya, dijamin kamera hidupnya akan buram,” lanjutnya.
Heri melanjutkan contoh kamera kehidupan yang buram adalah mudah pecah dalam urusan dunia, mudah galau dan kalah dalam urusan dunia, sering sedih daripada gembira, lebih sering mengeluh dari pada berharap, dominan suuzhonnya daripada husnuzhonnya.
Puasa Ramadhan, ungkapnya, telah mengajarkan kepada seorang muslim untuk menekan nafsu rendah menuju nafsu tinggi.
”Tanpa disadari, puasa Ramadhan mengajari kita tariqah mendaki dari posisi asfala safilin menuju ahsanu taqwim, insan yang tercipta mulia,” tuturnya.
”Banyak yang terpuruk menuju derajat serendah-rendahnya, karena larut dalam memenuhi nafsu dunia semata,” ujarnya.
Sejarah peradaban manusia hari ini, menurut Heri, didominasi oleh paham materialistis semata, kemudian menunjukkan keterpurukannya. Dan sekarang hendak dievaluasi dengan berbagai proyek tinjau.
Kerusakan alam di mana-mana menyebabkan perubahan iklim di dunia. Itulah akibat ulah insan asfalu safilin yang memuja nafsu dan keinginan rendah. Hasilnya: musibah bencana, derita, dan nestapa yang kembali kepada diri manusia seperti musibah Covid yang melanda dunia saat ini.
“Padahal, Allah mengingatkan: Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah: permainan yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu tentang banyaknya harta dan banyaknya anak,” ujarnya. Di ujung ayat itu Allah mengingatkan; dan di akhirat nanti ada azab yang keras.
Cermat Menjalani Hidup
Ketiga, cermat dalam menjalani hidup, seperti yang disampaikan oleh sahabat Ubay ibn Ka’ab kepada khalifah Umar tentang hakikat takwa.
Dalam beragama, lanjutnya, salah satu unsur terpenting adalah patuh. Namun Allah dan Rasulullah mewajibkan kepatuhan itu harus berbasiskan ilmu.
”Kita tidak hanya dianjurkan tapi diwajibkan menuntut ilmu. Karena patuh tanpa ilmu hanya menghasilkan taklid buta yang tidak melahirkan manusia-manusia unggul,” sambungnya.
”Sebaliknya, insan lalai, ibadahnya dimaknai sebagai seremonial rutin, tanpa memahami esensi, tujuan, apalagi dampaknya,” lanjutnya.
Bagi insan lalai, sambung Heri, Ramadhan hanya dirasakan sebagai siksaan fisik. Sehingga sesudah Ramadhan, merasa sah dan baik-baik saja melakukan balas dendam pola makan dan minumnya.
Dia berpesan supaya kecermatan hidup di bulan Ramadhan harusnya menghiasi kehidupan sesudah Ramadhan. Aneka godaan dan ujian yang dihadapi hanyalah duri-duri yang harus dilalui. Al-Quran mengajarkan: Jangankan yang haram, yang tidak jelas saja disuruh meninggalkan.
Penulis Dadang Prabowo Editor Sugeng Purwanto





0 Tanggapan
Empty Comments