Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiga Paradoks Menggerus Nilai Ibadah Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Tiga Paradoks Menggerus Nilai Ibadah Ramadan
Prof Biyanto saat memberikan Kuliah Subuh. Foto: Edi Kus/PWMU.CO
pwmu.co -

Ramadan menjadi momen bagi setiap orang beriman untuk meningkatkan kualitas diri. Puasa di siang hari, salat tarawih di malam hari, dan segala kegiatan ibadah di dalamnya sesungguhnya  mengajarkan amal-amal kebaikan.

Tapi tidak sedikit dijumpai di tengah masyarakat yang melakukan sebaliknya.  Itulah paradoks Ramadan yang menjadi tema kuliah Tarawih Ustaz Prof. Dr. Biyanto,  di Masjid Al-Falah Bendungan Hilir, Sudirman, Jakarta Pusat (27/2/2026).

Biyanto, guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel ini  menyebut setidaknya ada tiga paradoks Ramadan di  masyarakat.

Paradoks pertama, Ramadan mengajarkan untuk hidup sabar. Sabar menahan lapar dan dahaga dan segala yang membatalkan hingga saat berbuka tiba.

Hadis Nabi menyebut, bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua macam kebahagiaan. Yaitu saat  azan Maghrib berkumandang, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.

Paradoks kedua, puasa mengajarkan dan melatih hidup sederhana. Praktik yang sering dijumpai di masyarakat adalah sebaliknya.  Sikap boros dan konsumtif yang bertentangan dengan sikap sederhana yang diajarkan dalam ibadah Ramadhan.

Biyanto yang juga bertugas sebagai Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengutip sebuah tulisan Mendikdasmen Abdul Mu’ti, orang-orang yang suka flexing (pamer dalam menyambut Ramadan dengan memperlihatkan kepemilikan materi yang wah di tempat-tempat mewah. Sikap semacam itu bertentangan atau paradoks dengan  nilai Ramadan yang mengajarkan kesederhanaan.

Paradoks ketiga. Ramadan mengajarkan supaya tetap semangat, tetap produktif, tidak malas meski  kondisi tubuh menurun karena asupan makanan dan minuman berkurang.

Biyanto menolak ungkapan  ”Tidurnya orang yang berpuasa itu dianggap ibadah” Puasa mengajarkan supaya tetap produktif, tetap bekerja, tetap mencari kehidupan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Sejarah emas Islam membuktikan  justru diraih di bulan Ramadhan. Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada tanggal 9 Ramadhan, bertempatan dengan 17 Agustus 1945. Ramadan mengajarkan untuk  tetap bekerja, produktif. Tidak bermalasan”, jelasnya.

Ramadan berarti juga  membakar. Membakar sifat karakter yang suka marah dan sifat bermewah-mewahan, sifat bermalas-malasan.

Shiyam dan Qiyam Satu Paket

Salat tarawih menjadi satu paket dalam kesempurnaan ibadah Ramadan, siang hari mengisinya dengan shiyam dan malam harinya dengan qiyam Ramadan.

Hadis yang menjelaskannya  Muttafaqun ‘Alaih riwayat Bukhari dan Muslim. Kalimatnya hampir sama, hanya berbeda satu huruf.  “Man shoma ramadhana imanan wahtisaban…” menegaskan bahwa siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala. Sementara “Man qoma romadhona imanan wahtisaban…” merujuk pada salat tarawih/malam. Redaksi selanjutnya sama  yaitu “…niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

“Jadi puasa dan qiyam Ramadan adalah satu paket. Kalau kita ingin menyempurnakan ibadah Ramadhan, siangnya berpuasa, lalu malamnya qiyam Ramadan.  Jangan sampai malamnya terawih, siangnya tidak berpuasa, atau sebaliknya,” ujar Biyanto mengingatkan.

Kesempurnaan ibadah Ramadan akan membawa perubahan diri menjadi pribadi-pribadi baru yang luar biasa.

“Semoga Ramadan tahun ini benar-benar akan menjadi Ramadan yang luar biasa, yang akan bisa mengubah diri menjadi pribadi-pribadi baru yang luar biasa” tutupnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu