Guru SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya menindaklanjuti pelatihan tanggap bencana yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya melalui kegiatan diseminasi kepada guru dan karyawan sekolah, Senin (29/12/2025).
Diseminasi MDMC tersebut disampaikan oleh Ramadana Al Fikri Bin Zahid (Fikri), guru kelas 5-ICP SD Musix, yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan. Fikri menyampaikan materi dengan penuh semangat di hadapan rekan-rekannya.
Menanggapi bencana yang terjadi pada akhir-akhir ini di negara tercinta, Persyarikatan Muhammadiyah melalui MDMC mengadakan pelatihan sebagai bentuk kepedulian dan upaya penguatan kesiapsiagaan.
Ranah kerja MDMC di antaranya berada di bidang penanggulangan bencana alam melalui Disaster Risk Reduction (DRR) atau pengurangan risiko bencana, yakni upaya sistematis untuk mencegah risiko bencana baru serta mengurangi risiko yang sudah ada.
“Tidak kalah pentingnya adalah memperkuat ketahanan terhadap bencana alam dengan menganalisis dan mengurangi faktor penyebabnya,” terang Fikri.
Ia menambahkan bahwa upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kesiapsiagaan, manajemen lingkungan, dan perlindungan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Fikri juga mengajak untuk mencermati kondisi bangunan SD Musix yang berlantai empat, berbentuk L, dan hanya memiliki satu tangga di sisi barat, ditambah minimnya rambu-rambu jalur evakuasi. Kondisi tersebut dinilai dapat menyulitkan proses evakuasi jika terjadi bencana.
“Bagaimana pendapat para ustaz-ustazah dengan kondisi gedung sekolah kita?,” tanyanya.
Salah satu peserta diseminasi yang merupakan Guru kelas 5-B, Imam Masyhuri, memberikan tanggapan terkait kondisi riil bangunan sekolah.
“Bangunan sekolah kita ini berbentuk L, berlantai empat, dan hanya mempunyai satu titik tangga saja. Saya membayangkan jika terjadi bencana, kondisi ini akan menyulitkan anak-anak maupun guru untuk dievakuasi. Seharusnya dibuatkan dua titik tangga agar potensi saling serobot bisa diminimalisir,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa peletakan tangga yang paling tepat berada di bagian tengah apabila hanya dibuat satu tangga.
Menanggapi hal tersebut, Fikri menyampaikan bahwa persoalan ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak pimpinan sekolah atau pengurus untuk dirancang kembali demi keselamatan bersama.
Pada kesempatan itu, Fikri juga memaparkan tiga unsur utama risiko bencana. Pertama, Hazard (ancaman), yaitu peristiwa alam atau buatan manusia yang berpotensi menyebabkan hilangnya nyawa, cedera, atau dampak negatif lainnya. Kedua, Vulnerability (kerentanan), yakni karakteristik suatu masyarakat, sistem, atau aset yang menjadikannya rentan terhadap dampak merusak dari ancaman.
Ketiga, Capacity (kapasitas), yaitu sumber daya dan kekuatan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, organisasi, atau sistem untuk mengelola serta mengatasi dampak buruk dari suatu ancaman.
“Hal penting yang perlu dilakukan sekolah adalah mengadakan simulasi tanggap bencana alam bagi para siswa,” kata pria yang berdomisili di Menganti tersebut. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments