Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tingkatkan Kompetensi, 10 Guru MIM 08 Kandangsemangkon Ikuti Workshop Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta

Iklan Landscape Smamda
Tingkatkan Kompetensi, 10 Guru MIM 08 Kandangsemangkon Ikuti Workshop Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta
pwmu.co -
Foto bersama (M. Mahmud/PWMU.CO)

PWMU.CO – 10 guru profesional dari MI Muhammadiyah 8 Kandangsemangkon mengikuti Workshop Pembelajaran Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dan Kurikulum Berbasis Cinta yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Workshop dilaksanakan pada Senin (7/7/2025), bertempat di Aula Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran, Lamongan. Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB.

Dalam workshop ini, narasumber yang dihadirkan yakni Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jawa Timur, Dr Ida Rindaningsih MPd.

Jumlah peserta workshop sebanyak 363 guru profesional, berasal dari 1 RA dan 36 MI se-Kecamatan Paciran, termasuk di dalamnya 10 guru dari MI Muhammadiyah 8 Kandangsemangkon.

10 guru profesional dari MI Muhammadiyah 8 Kandangsemangkon yang mengikuti workshop tersebut di antaranya yakni:

1. Afnan Nafi’ SPd

2. Hamdan SAg

3. Ali Syafaat SAg

4. Heppy Panujaya SPd

5. Helmi Nasution ST

6. M. Mahmud SAg MPdI

7. Fatmawati SAg

8. Muthmainnah SAg

9. Nuzulul Hidayah SAg

10. Indah Hayati SPd

    Dalam sambutan pembinaannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, H Muhammad Muhlisin Mufa SAg MPdI, menyampaikan beberapa pesan utama yakni:

    ‣ Pentingnya peningkatan kompetensi, kreativitas, dan inovasi dalam mengajar, baik melalui offline, maupun online.

    ‣ Guru harus profesional, gesit, ramah, santun, dan berestetika.

    • Pentingnya peningkatan kompetensi, kreativitas, dan inovasi dalam proses pembelajaran, baik secara luring (offline) maupun daring (online).

    ‣ Guru harus menjadi pribadi yang profesional, gesit, ramah, santun, dan memiliki rasa estetika.

    ‣ Kompetensi guru mencakup empat aspek utama yakni pedagogik, akademik, sosial, dan kepribadian.

    ‣ Sebagai sosok yang “digugu lan ditiru” (dipercaya dan dicontoh), guru harus senantiasa menjaga tutur kata dan sikap.

    ‣ Menjaga niat serta keikhlasan dalam mendidik merupakan fondasi utama dalam menjalankan peran sebagai pendidik.

    ‣ Guru adalah garda terdepan dalam membentuk generasi yang berakhlakul karimah.

    ‣ Keberkahan dalam mengajar akan hadir dari niat yang lurus dan ikhtiar yang tulus.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, H Muhammad Muhlisin Mufa SAg MPdI saat menyampaikan sambutan (M. Mahmud/PWMU.CO)

    Ia juga meninjau kembali sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia dari masa ke masa.

    ‣ Dimulai dari Rencana Pelajaran 1947, fokus utama pendidikan saat itu adalah pada pembentukan watak, moral, dan kesadaran bernegara. Kurikulum ini lahir di awal kemerdekaan dan bertujuan membentuk manusia Indonesia yang berjiwa patriotik.

    ‣ Pada tahun 1952, hadir Rencana Pelajaran Terurai, di mana guru mulai mengajar satu mata pelajaran secara terpisah. Saat itu, materi pelajaran mulai dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, mencerminkan upaya membuat pembelajaran lebih kontekstual.

    ‣ Tahun 1964, konsep Pancawardhana diusung melalui Rencana Pendidikan 1964. Kurikulum ini menekankan pengembangan lima aspek utama: moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmani.”

    ‣ Masuk ke era 1968, kurikulum disederhanakan dan dikenal sebagai Kurikulum Sekolah Dasar, dengan pengelompokan mata pelajaran menjadi IPA dan IPS untuk efisiensi pembelajaran.

    ‣ Kemudian, tahun 1973 muncul Kurikulum PPSP sebagai bagian dari Proyek Perintis Sekolah Pembangunan, yang merupakan “eksperimen pendidikan di era Orde Baru.”

    ‣ Pada 1975, sistem kurikulum menjadi lebih terstruktur. “Silabus disusun secara rinci dan sistematis,” menjadi ciri utama Kurikulum SD 1975.

    ‣ Era 1984 membawa pendekatan baru melalui Kurikulum 1984, yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. “Pendekatan proses belajar aktif dan berpusat pada siswa” menjadi ciri khasnya.

    ‣ Lalu Kurikulum 1994 muncul dengan “penekanan pada materi yang padat dan jadwal yang ketat.” Kurikulum ini kemudian direvisi menjadi Kurikulum 1997.

    ‣ Tahun 2004, Indonesia mulai mengarah pada kompetensi melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Fokusnya adalah pada “penguasaan kompetensi dasar,” menjadikan pembelajaran lebih terarah pada capaian keterampilan.

    ‣ Kemudian disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006, yang memberikan “otonomi kepada sekolah dalam menyusun kurikulum sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing.”

    ‣ Tahun 2013, lahirlah Kurikulum 2013 (K-13) yang mengedepankan “pendekatan tematik integratif serta menerapkan penilaian autentik.”

    ‣ Terakhir, pada 2022, pemerintah meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan “fleksibilitas pembelajaran, penguatan karakter, dan diferensiasi sesuai kebutuhan peserta didik.

      Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa guru madrasah bukan hanya pendidik, tetapi juga teladan dalam membentuk karakter dan spiritualitas siswa.

      Sementara itu, Kepala MI Muhammadiyah 8 sekaligus Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dasar, Menengah, dan PNF Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kandangsemangkon, Afnan Nafi’ SPd, berharap para guru yang mengikuti workshop dapat meningkatkan kompetensinya, terutama dalam materi deep learning dan kurikulum berbasis cinta.

      Ia menekankan pentingnya kesiapan menghadapi tahun ajaran 2025/2026 dengan mampu menerapkan pembelajaran mendalam dalam Kurikulum Merdeka serta mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta secara nyata di kelas. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa cara, antara lain:

      1. Menginternalisasi nilai cinta dalam pembelajaran

        Guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang penuh kasih sayang, empati, dan kepedulian terhadap peserta didik. Kurikulum cinta bukan sekadar metode, tapi pendekatan yang membentuk karakter.

        2. Menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning)

          Guru diminta untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Pembelajaran harus bermakna, tidak hanya menyentuh kognisi, tetapi juga afeksi dan spiritualitas.

          3. Menjadi teladan dalam transformasi pendidikan

            Diharapkan guru dapat menjadi pionir dalam perubahan, membawa semangat pembaruan dan keikhlasan dalam mengajar. Guru bukan hanya pengajar, tapi pembimbing jiwa dan pemantik semangat belajar.

            4. Membangun ekosistem madrasah yang mindful dan joyful

              Suasana belajar yang sadar, bermakna, dan menggembirakan menjadi cita-cita bersama. Guru diharapkan berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang siswa secara holistik. (*)

              Penulis M. Mahmud Editor Ni’matul Faizah

              Iklan Landscape Unmuh Jember

              Baca Lainnya

              Iklan pmb sbda 2025 26

              0 Tanggapan

              Empty Comments

              Search
              Menu