Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan, SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya mengirimkan 10 guru untuk mengikuti Pelatihan Coding dan Artificial Intelligence (AI) pada Sabtu (20/9/2025).
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya ini bertempat di Aula SMA Muhammadiyah 2 Pucang (Smamda) Surabaya.
Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang merupakan pendidik dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK Muhammadiyah se-Surabaya.
Sepuluh Guru dari SD Musix, di antaranya adalah:
1. Rizki Handayani, S.Pd. (Guru Kelas 1 – ICP 1).
2. Rizka Firdayanti, S.Pd. (Guru Kelas 2-A).
3. Muhammad Arifin, S.H.I. (Guru Kelas 2-A).
4. Nurun Naharo, S.Ag., M.Pd. (Guru Kelas 3-A).
5. Nurmala, S.Ag. (Guru Kelas 3-B).
6. Fathurrohmi Fithriyani, S.Pd. (Guru Kelas 4-B).
7. Imam Masyhuti, S.T. (Guru Kelas 5-A).
8. Muh. Al Amin, S.H.I. (Guru Al-Islam).
9. Ninik Nur Faridah, S.Pd. (Guru Bahasa Jawa).
10. Muthmainatul Fuadah, S.Pd.I. (Guru Bahasa Arab).
Sejak pagi, sepuluh guru dari SD Musix tersebut telah memadati ruang pelatihan yang berada di lantai 6. Ruangan berkapasitas 500 tamu ini telah ditata dengan rapi dan elegan.
Ruangan tersebut didesain layaknya sebuah ruang pesta, lengkap dengan meja-meja bundar yang dilapisi taplak putih dan krem, serta kursi berwarna cokelat yang tertata melingkar sebanyak 10 buah per meja. Semua telah dipersiapkan dengan baik untuk menyambut kehadiran para peserta pelatihan.
Sebelum memasuki lift di lantai dasar, para peserta diwajibkan melakukan absensi kehadiran dengan cara memindai (scan) barcode yang telah disediakan di dua pintu masuk lift, masing-masing untuk peserta putra dan putri.
Turut hadir dalam agenda ini sejumlah tokoh penting, antara lain Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Prof. Dr. Khozin, M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya Muhammad Jemadi, S.Pd., M.Pd., serta Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Surabaya, Dikky Syadqomullah, M.HES.
Pelatihan ini juga dihadiri oleh CEO Sahabat Sinergi Nusantara sekaligus General Manager di Axioo Indonesia (PT Tera Data Indonusa Tbk), Adrian Firmasyah, serta Director of Education Innovation Partnership di Intel Corporation, Tommy Ferdianto.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyiapkan kader-kader Muhammadiyah dalam menyongsong Indonesia Emas,” ujar Dikky Syadqomullah.
Ia juga menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan terus berlanjut dengan materi lanjutan yang lebih mendalam.
“Karena jika pelatihan yang biayanya tidak kurang dari dua juta rupiah per peserta ini tidak diimplementasikan di sekolah masing-masing, maka akan menjadi sia-sia,” imbuhnya.
Senada dengan Dikky Syadqomullah, Adrian Firmasyah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan emas bagi para guru Muhammadiyah untuk “naik kelas”.
Sementara itu, Director of Education Innovation Partnership di Intel Corporation, Umaya, turut menyampaikan kebanggaannya terhadap tenaga kependidikan Muhammadiyah.
“Tenaga kependidikan Muhammadiyah adalah guru yang paling aktif dalam mengikuti perkembangan teknologi AI,” ungkapnya dengan penuh apresiasi
Setelah rangkaian sambutan disampaikan, tibalah saatnya pembukaan acara yang dilakukan oleh Khozin.
Sebelum secara resmi membuka pelatihan, Khozin menyempatkan diri memberikan motivasi kepada para peserta. Ia membagikan kisah inspiratif tentang kebiasaan almarhum A.R. Fachruddin, salah satu tokoh Muhammadiyah, yang setiap kali melakukan kunjungan ke berbagai daerah selalu membawa sejumlah uang dalam jumlah besar.
Uniknya, ia selalu meminta putranya, dr. Fauzi, untuk menyerahkan uang tersebut langsung ke Kantor Pusat Muhammadiyah.
Dalam kisah yang diceritakan Khozin, Fauzi pernah bertanya, “Bah, apa tidak ada sedikit saja uang untuk keluarga kita?.”
Dengan tegas Pak AR, panggilan akrab A.R. Fachruddin, menjawab, “Tidak ada. Ini uang milik persyarikatan.”
Dari kisah tersebut, Khozin mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk senantiasa menghidupi Muhammadiyah, bukan mencari penghidupan di Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments