Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Salmah Orbayinah, bersama tim Koordinator Nasional Makan Bergizi Muhammadiyah mengunjungi tiga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sukoharjo, (12/2/2026). Dua dapur yang dikelola Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sukoharjo, dan satu dapur dikelola RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo.
Kunjungan ini untuk memastikan pengelolaan dapur berjalan optimal. Bebas dari persoalan teknis maupun tata kelola, serta selaras dengan nilai-nilai gerakan. Salmah menegaskan bahwa program SPPG bukan sekadar agenda teknis pemenuhan gizi, tetapi bagian dari ikhtiar keagamaan dan tanggung jawab sosial. Ia mengutip firman Allah dalam QS An-Nisa ayat 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah”.
“Anak lemah yang dimaksud bukan hanya lemah secara ekonomi, tetapi juga lemah pendidikan dan fisik. Mengurus anak itu bukan hanya memberikan ilmu, tetapi juga memastikan badannya sehat,” tegasnya.
Ia menambahkan, SPPG yang dikelola Aisyiyah merupakan wujud pengamalan nilai tersebut. Memberikan makanan bergizi kepada anak-anak, menurutnya, adalah sedekah sekaligus ibadah.
“SPPG Aisyiyah sedang mengamalkan perintah tersebut. Memberikan makan yang bergizi kepada anak-anak adalah sedekah dan ibadah. SPPG ini adalah sarana untuk menghasilkan generasi sehat,” ujarnya.
Salmah juga menekankan pentingnya memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi anak-anak memenuhi prinsip halal dan thayyib, mulai dari cara memperoleh bahan baku, proses memasak, hingga distribusinya.
“Makanan yang masuk ke tubuh anak-anak haruslah halal dan thayyib. Dari cara memperoleh bahan baku, memasak, sampai mendistribusi. Semua harus dijaga kualitas dan integritasnya,” katanya.
Dalam kunjungan itu, Salmah juga mengapresiasi model pengelolaan dapur SPPG yang berbasis koperasi. Melalui skema tersebut, proses penyediaan bahan baku, produksi menu makanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat dilakukan dalam satu ekosistem yang memberdayakan anggota dan masyarakat sekitar.
“Dapur SPPG yang dikelola Aisyiyah berbeda dengan dapur SPPG lainnya dalam mendukung program makan bergizi gratis. Pengelolaan dapur SPPG berbasis koperasi untuk menyuplai bahan baku sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Salmah.
Menurutnya, pendekatan koperasi tidak hanya menjamin keberlanjutan pasokan bahan pangan. Tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Anggota Aisyiyah dan masyarakat sekitar dilibatkan dalam rantai produksi sehingga program ini tidak semata berorientasi pada keuntungan.
“Pengelolaan dapur SPPG tidak semata mengejar keuntungan atau profit oriented, melainkan memberdayakan anggota Aisyiyah dan masyarakat setempat untuk mendapatkan penghasilan sehingga kesejahteraannya meningkat,” jelasnya.
Salmah juga menyoroti inovasi pengelolaan limbah di dapur SPPG PDA Sukoharjo. Ia menyebut, sejumlah persoalan yang muncul dalam program MBG di berbagai daerah kerap dipicu limbah produksi maupun sisa makanan yang tidak habis.
Di Sukoharjo, limbah tersebut dikelola dengan memanfaatkan maggot yang mampu mengurai sampah organik secara cepat. Maggot dewasa kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele yang dibudidayakan di sekitar area dapur.
“Pengelolaan dapur SPPG yang dikelola PDA Sukoharjo bisa menjadi role model bagi dapur SPPG lainnya. Zero sampah karena tidak ada sampah sisa makanan yang dibuang,” ujarnya.
Model ini dinilai tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi. Siklus produksi berjalan lebih efisien dan berkelanjutan. Saat ini, terdapat 105 dapur SPPG yang dikelola dibawah Koordinator Nasional Muhammadiyah dan telah beroperasi di berbagai daerah di Indonesia.






0 Tanggapan
Empty Comments