Fenomena healing kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Istilah yang semula merujuk pada proses pemulihan jiwa dari luka batin ini bergeser menjadi aktivitas rekreatif—mulai dari liburan, belanja, hingga hiburan media sosial.
Pergeseran makna ini muncul karena masyarakat hidup dalam tekanan kompetitif, terpaan media sosial, dan tuntutan validasi yang terus-menerus. Akibatnya, kecemasan dan krisis identitas menjadi pengalaman yang sangat dekat dalam keseharian.
Dalam psikologi, healing memiliki cakupan yang lebih luas. Ia tidak hanya meredakan luka fisik, tetapi juga mencakup perawatan paliatif: meringankan gejala emosional dan mental yang menimbulkan penderitaan. Sementara dalam perspektif Islam, penyembuhan selalu dipahami secara holistik—mencakup raga, akal, dan jiwa. Hubungan antara ketiga unsur ini tidak terpisahkan, dan bila salah satunya terganggu, keseimbangan hidup pun goyah.
Di sinilah tasawuf menawarkan perspektif penting. Pendalaman tasawuf membantu seorang Muslim menemukan kembali keseimbangan emosional, spiritual, dan mental. Tasawuf tidak hanya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, melainkan juga menjadi instrumen untuk memahami luka batin serta menemukan ketenangan yang sejati.
Kehidupan Lahir yang Tidak Cukup Menyembuhkan
Dalam pandangan tasawuf, penyelesaian masalah batin tidak bisa hanya dicari melalui dimensi lahiriah. Hidup lahir hanyalah manifestasi dari dinamika batin manusia yang digerakkan oleh tiga kekuatan pokok: akal, syahwat, dan nafsu amarah. Ketiga unsur ini harus berada dalam keadaan seimbang agar manusia mencapai kedamaian. Ketidakseimbangan salah satunya saja dapat memicu kegelisahan.
Tasawuf mengajarkan prinsip-prinsip positif seperti introspeksi (muhasabah), perbaikan diri, serta upaya untuk menata relasi manusia dengan Tuhan maupun sesama. Pada hakikatnya, tasawuf adalah disiplin ilmu yang menelaah kesehatan jiwa dengan menekankan pembinaan, penyucian, dan penguatan mental. Maka tidak mengherankan jika tasawuf memiliki hubungan sangat dekat dengan psikologi modern, khususnya psikologi kesehatan mental.
Tasawuf sebagai Jalan Kesadaran Diri
Tradisi tasawuf mengajarkan beberapa nilai fundamental bagi penyembuhan jiwa. Di antaranya adalah kesadaran bahwa pencarian spiritual lebih penting daripada sekadar tujuan duniawi; sikap sabar dan bersyukur; rasa takut kehilangan cinta Tuhan; kemampuan melepaskan diri dari keterikatan materi; tawakal; fokus pada niat yang jernih; kontemplasi; dan kesadaran bahwa hidup sangatlah singkat. Nilai-nilai ini membentuk fondasi bagi manusia agar mampu menghadapi kehidupan dengan ketenangan, bukan dengan kekosongan makna.
Dzikir sebagai Terapi Ketenangan Jiwa
Dalam konteks healing modern, dzikir memegang peran sentral. Dzikir, yang secara bahasa berarti “ingat”, dipahami dalam Islam sebagai upaya menghadirkan Allah dalam kesadaran. Secara psikologis, dzikir berfungsi sebagai energi batin yang membangun makna, menenangkan pikiran, dan menumbuhkan respon positif terhadap tekanan hidup.
Dzikir memiliki banyak bentuk: membaca ayat Al-Qur’an, tahlil, tahmid, takbir, doa-doa, serta seluruh ketaatan seperti shalat dan puasa. Praktik dzikir terbukti mampu menghilangkan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran berlebih.
Allah menegaskan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati tidak dapat diperoleh dari hiburan duniawi semata, tetapi dari hubungan spiritual yang mendalam. Rasulullah juga menegaskan bahwa majelis dzikir adalah ruang di mana malaikat menaungi, rahmat tercurah, dan ketenangan menyeluruh.
Dalam tasawuf, ayat tersebut menjadi konsep dasar self-healing spiritual: dzikir bukan ritual mekanis, tetapi terapi jiwa yang merekonstruksi ketenangan, identitas diri, dan kebermaknaan hidup.
Shalat sebagai Ruang Katarsis Emosional dan Spiritualitas
Shalat, yang secara bahasa berarti doa, adalah media komunikasi intens antara manusia dan Tuhan. Dalam Islam, shalat tidak hanya kewajiban, tetapi juga ibadah yang merawat ketenangan batin, menghadirkan fokus, serta meredam tekanan hidup.
Secara psikologis, gerakan shalat yang berulang memiliki kesamaan dengan teknik relaksasi progresif dalam pendekatan mindfulness. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 45:
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Ayat ini menempatkan shalat sebagai instrumen penting dalam mengelola stres dan tekanan emosional. Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan kualitas khusyuk, ia mengalami dialog batin dengan Allah yang meredakan kekacauan mental, memperkuat identitas diri, dan meningkatkan keseimbangan emosional-spiritual.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa shalat adalah instrumen pencapai thuma’ninah (ketenangan batin). Sujud, menurut Hamka, bukan hanya sikap tubuh tetapi juga bentuk pelepasan ego dan pembersihan hati dari penyakit-penyakit batin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments