Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena pendidikan thariqah kembali menjadi sorotan dalam wacana keislaman di Indonesia. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, thariqah — yang dahulu dianggap sebagai wilayah eksklusif kaum sufi dan para salik — kini mulai mendapat perhatian baru sebagai model pendidikan spiritual yang relevan dengan tantangan zaman. Namun, pertanyaannya kemudian: bagaimana fenomena ini dapat dibaca dalam perspektif Islam berkemajuan, sebagaimana digagas oleh Muhammadiyah dan berbagai pemikir Islam modernis lainnya?
Thariqah secara etimologis berarti “jalan” atau “metode” menuju Tuhan. Dalam tradisi tasawuf, ia menjadi sistem pembinaan ruhani yang berjenjang, di mana seorang murid (salik) dibimbing oleh mursyid untuk mencapai ma‘rifatullah, yakni kesadaran tertinggi tentang kehadiran Allah dalam seluruh dimensi kehidupan. Pendidikan dalam thariqah bukan sekadar transfer ilmu, tetapi transformasi diri — dari hawa nafsu menuju kesucian hati (tazkiyah al-nafs).
Dalam praktiknya, thariqah melahirkan disiplin spiritual yang kokoh: zikir, muraqabah, khalwat, mujahadah, hingga khidmah sosial. Nilai-nilai tersebut, jika dibaca dalam konteks pendidikan Islam, sesungguhnya berkontribusi besar terhadap pembentukan karakter dan etika umat. Pendidikan thariqah tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi berlanjut pada pembentukan kepribadian yang sadar Tuhan (God-consciousness).
Namun, dalam pandangan Islam berkemajuan, setiap sistem keagamaan — termasuk thariqah — perlu terus mengalami penyegaran metodologis agar selaras dengan prinsip rasionalitas, kemanusiaan, dan kemajuan sosial. Islam berkemajuan tidak menolak dimensi spiritualitas, tetapi menuntut agar spiritualitas itu tidak mengasingkan diri dari realitas dunia. Pendidikan thariqah yang berkemajuan berarti menghadirkan jalan spiritual yang tidak hanya menuntun ke surga, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap semesta.
Pertama, pendidikan thariqah perlu direvitalisasi dalam bingkai rasionalitas Islam. Banyak orang memandang thariqah identik dengan hal mistik dan supranatural yang sulit diverifikasi secara ilmiah. Padahal, jika dikaji dengan pendekatan psikologi dan pendidikan modern, praktik-praktik seperti zikir, khalwat, dan muhasabah sejatinya melatih kesadaran diri, ketenangan batin, dan fokus mental — kompetensi emosional yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan kontemporer. Dalam hal ini, Islam berkemajuan mengajak untuk memahami esensi thariqah sebagai “psikologi spiritual” yang menyeimbangkan akal, hati, dan tindakan.
Kedua, pendidikan thariqah harus membuka diri terhadap dimensi sosial-transformatif. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Artinya, spiritualitas sejati tidak berhenti di sajadah, tetapi harus terjelma dalam amal sosial dan perubahan masyarakat. Thariqah yang berkemajuan bukanlah yang menjauh dari dunia, melainkan yang menghadirkan cinta Tuhan dalam bentuk kerja nyata bagi sesama. Di sini, praktik thariqah dapat dikembangkan menjadi model pendidikan karakter sosial: menumbuhkan empati, solidaritas, dan etos kerja spiritual.
Dalam konteks ini, peran thariqah dapat diintegrasikan dengan sistem pendidikan formal. Bayangkan jika prinsip tazkiyah al-nafs dijadikan fondasi kurikulum pendidikan Islam modern. Siswa tidak hanya dididik agar cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan spiritual, tanggung jawab sosial, dan kesadaran ekologis. Integrasi ini dapat mengembalikan ruh pendidikan Islam sebagai proses penyucian dan pemberdayaan sekaligus.
Ketiga, Islam berkemajuan menuntut agar thariqah bergerak dari eksklusivisme menuju inklusivisme. Salah satu tantangan terbesar dunia tarekat adalah kecenderungan sektarian: loyalitas murid terhadap mursyid yang kadang menimbulkan fanatisme kelompok. Dalam perspektif kemajuan Islam, nilai universal seperti kasih sayang, keadilan, dan ilmu harus melampaui sekat-sekat tarekat. Rasulullah SAW tidak mendirikan “tarekat” dalam arti sempit, melainkan menanamkan jalan cinta dan amal yang bersifat rahmatan lil ‘alamin. Maka, pendidikan thariqah yang berkemajuan ialah yang terbuka, dialogis, dan berorientasi pada kemanusiaan universal.
Keempat, fenomena digitalisasi dan dunia modern menantang thariqah untuk hadir dalam ruang baru. Di masa lalu, pendidikan thariqah hanya bisa berlangsung di zawiyah atau pesantren sufi. Kini, melalui teknologi, zikir berjamaah bisa disiarkan secara daring, kajian tasawuf dapat diakses lintas negara, dan jejaring murid berkembang tanpa batas geografis. Tantangan bagi Islam berkemajuan adalah menjaga substansi spiritual di tengah formalisasi digital ini. Media baru hendaknya menjadi wasilah, bukan pengganti ruh bimbingan batiniah.
Dalam kerangka epistemologis, pendidikan thariqah sesungguhnya mengandung semangat pembebasan. Ia mengajak manusia membebaskan diri dari belenggu nafsu, ego, dan keduniawian yang menipu. Di sinilah titik temunya dengan Islam berkemajuan: keduanya sama-sama mengarahkan manusia pada kemerdekaan sejati — kebebasan berpikir, beriman, dan berbuat baik berdasarkan kesadaran spiritual yang rasional.
Sayangnya, sebagian kalangan masih terjebak pada dikotomi antara “thariqah” dan “kemajuan”. Seolah-olah spiritualitas bertentangan dengan rasionalitas, atau sufisme berlawanan dengan modernitas. Padahal, dalam sejarah Islam, para sufi besar seperti al-Ghazali, Ibn Arabi, dan Jalaluddin Rumi justru melahirkan pemikiran yang mendalam, filosofis, dan progresif. Mereka menunjukkan bahwa cinta kepada Tuhan tidak menghalangi cinta kepada ilmu dan kemanusiaan.
Dengan demikian, fenomena kebangkitan pendidikan thariqah hari ini dapat menjadi momentum untuk merumuskan paradigma spiritual progressivism — spiritualitas yang mendorong kemajuan. Bukan hanya ritual yang mengasingkan diri, tetapi spiritualitas yang membimbing manusia agar menjadi khalifah yang beradab, produktif, dan berkeadilan.
Islam berkemajuan tidak anti-thariqah; justru ia mengajak untuk mengembalikan thariqah kepada fitrahnya: jalan menuju kesadaran Ilahi yang menumbuhkan ilmu, akhlak, dan peradaban. Jika hal ini diwujudkan, maka pendidikan thariqah akan menjadi laboratorium moral umat — tempat di mana manusia belajar bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi juga menjadi baik, benar, dan bermanfaat.
Dalam dunia yang kian bising dan materialistik, pendidikan thariqah yang bernafaskan Islam berkemajuan hadir sebagai oase: menenangkan hati, menajamkan akal, dan menumbuhkan amal. Di sinilah letak kemajuan sejati — bukan sekadar pada kecanggihan teknologi, tetapi pada kematangan spiritual yang membentuk manusia paripurna dengan kepedulian semesta berbasis kebermanfaatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments