Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Titik Terendah Itu Bernama Jauh dari Allah

Iklan Landscape Smamda
Titik Terendah Itu Bernama Jauh dari Allah
Foto: Getty Images
pwmu.co -

Banyak orang mengira titik terendah hidup adalah saat harta habis, jabatan lepas, atau usaha bangkrut. Padahal, kehancuran paling sunyi justru terjadi ketika hati tak lagi tahu ke mana harus mengadu.

Saat masalah tak mengantar pada sujud, tetapi malah menjauhkan dari Allah, di situlah manusia benar-benar jatuh.

Namun sebaliknya, ketika badai datang dan hati tetap tenang karena merasa dijaga-Nya, itulah puncak kekuatan yang sesungguhnya.

Bukan pula ketika usahanya bangkrut, jabatannya hilang, atau orang-orang yang dulu mengelilinginya satu per satu menjauh.

Ia punya banyak kontak di ponselnya, tetapi tak satu pun terasa bisa menjadi tempat bersandar. Ia punya keluarga, teman, bahkan kolega, tetapi hatinya tetap kosong. Ia merasa sendirian, bukan karena tak ada manusia, tetapi karena ia lupa kepada Allah.

Masalah yang dihadapinya tidak membuatnya kembali kepada Allah, namun malah semakin menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tak cukup di situ, bahkan tak jarang masalah menjadikannya tak lagi ragu mengambil jalan maksiat demi mencari solusi cepat menurut akalnya.

Betapa banyak ilustrasi kehidupan yang bisa kita saksikan. Ada seorang pedagang kecil yang usahanya merugi.

Alih-alih memperbaiki cara berdagang dan memperbanyak doa, ia justru mulai mengurangi timbangan, menipu pelanggan, dan berdalih, “Yang penting keluarga saya makan.” Ia merasa sedang menyelamatkan hidupnya, padahal sedang menjauh dari penjagaan Allah.

Ada seorang pegawai yang terdesak kebutuhan. Cicilan menumpuk, anak masuk sekolah, orang tua sakit. Ia tahu jalan yang benar, tapi ia memilih menerima “uang terima kasih” yang tak halal. Ia menenangkan diri dengan kalimat, “Sekali ini saja.” Tanpa sadar, sekali itu membuka pintu yang lebih besar.

Ada pula seorang anak muda yang patah hati. Kecewa karena dikhianati. Bukannya mendekat kepada Allah, ia justru melampiaskan diri pada pergaulan bebas, hiburan tanpa batas, dan gaya hidup yang melalaikan.

Ia ingin melupakan luka, tetapi yang terjadi justru menambah luka. Ia tak sadar bahwa masalah yang ada sesungguhnya adalah undangan kerinduan dari Allah bagi dirinya. Seolah Allah sedang berbisik, “Kembalilah. Aku rindu sujudmu. Aku rindu doamu di sepertiga malam.”

Inilah keadaan titik terendahnya seorang manusia—bukan karena miskin, bukan karena gagal, tetapi karena jauh dari Allah.

Dan keadaan terbaik seorang manusia adalah ketika hatinya merasakan begitu sangat amat dekat dengan Rabb-nya, apa pun keadaannya.

Meski barangkali keadaan sedang nampak begitu sulitnya. Masalah besar di depan mata. Bahkan andai bahaya mengancam sekalipun, hatinya tetap tenang dalam bimbingan Allah Azza wa Jalla.

Lihatlah seorang ibu yang harus membesarkan anak-anaknya seorang diri. Suaminya wafat, penghasilan terbatas. Namun setiap malam ia bangun, menadahkan tangan, menangis dalam sujudnya.

Di siang hari ia tetap tersenyum di hadapan anak-anaknya. Orang mungkin melihatnya lemah, tetapi hatinya kokoh. Ia merasa dijaga Allah.

Atau seorang mahasiswa yang gagal berkali-kali dalam ujian. Teman-temannya sudah lulus, ia masih tertinggal.

Alih-alih iri dan putus asa, ia memperbaiki salatnya, memperbanyak istighfar, dan berkata dalam hati, “Ya Allah, jika ini jalan-Mu, aku ridha.” Ajaibnya, ketenangan itu datang sebelum kelulusan itu datang.

Dia tahu bagaimana caranya tetap tenang. Hatinya seperti penuh dengan cahaya, sampai-sampai ia sendiri bingung kenapa bisa setenang ini, padahal keadaan sedang sempit dan sulit.

Pikirannya jernih tanpa gangguan. Ia tidak mudah panik. Tidak mudah menyalahkan keadaan. Ia dengan sadar mengerti dan mengingat bahwa ini semua datangnya dari Allah, dan pasti ada maksud baik di baliknya.

Hatinya selalu mengarahkan pikirannya untuk positif. Lisannya terus berkata yang baik-baik.
Bahkan senyuman pun begitu amat mudah muncul di bibirnya meski dompet sedang tak baik-baik saja.

Ia yakin, rezeki bukan hanya soal angka di rekening. Rezeki adalah kesehatan, keluarga yang hangat, hati yang lapang, dan iman yang terjaga. Dunia tak bisa mengurungnya.

Kesulitan tak mampu merenggut ketenangan hatinya. Ibadahnya terasa nikmat. Mudah khusyuk. Nyaman saat berdoa.

Bahkan sekadar duduk saja di atas sajadah, seolah menjadi healing terbaik yang melapangkan dada. Tangisnya bukan lagi tangis keputusasaan, melainkan tangis kerinduan. Ia tidak lagi merasa sendiri, karena ia tahu sedang berada dalam penjagaan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Ayat ini bukan sekadar penghibur. Ia adalah jaminan. Bahwa setiap luka ada izin-Nya. Setiap ujian ada dalam pengetahuan-Nya. Dan setiap hati yang beriman akan diberi petunjuk—bukan selalu jalan yang mudah, tetapi hati yang tenang.

Itulah keadaan terbaik seorang manusia: bukan tanpa masalah, tetapi dijaga Allah di tengah masalah.

Karena ketika Allah menjaga hati kita, maka badai sebesar apa pun tak akan menenggelamkan jiwa. Ketika Allah membimbing pikiran kita, maka keputusan kita akan tetap lurus meski godaan begitu banyak. Ketika Allah melapangkan dada kita, maka kesempitan dunia terasa ringan.

Semoga kita tidak pernah berada di titik terendah karena jauh dari Allah. Semoga setiap ujian justru menjadi jalan kedekatan. Semoga hati kita selalu merasa cukup karena merasa dijaga.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu memberikan kesehatan, kebahagiaan, keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, kemudahan dalam segala urusan, rezeki yang mudah dan barokah, ilmu yang bermanfaat, sukses dunia akhirat, dan selalu dalam lindungan Allah Ta’ala.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu