Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

TK Aisyiyah: Fondasi Awal Mencetak Generasi Berilmu dan Berakhlak

Iklan Landscape Smamda
TK Aisyiyah: Fondasi Awal Mencetak Generasi Berilmu dan Berakhlak
(Afifah Rachmalia Putri/PWMU.CO)

Oleh: Afifah Rachmalia Putri – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya

PWMU.CO – Aisyiyah adalah bagian dari organisasi otonom Muhammadiyah yang didirikan untuk mengembangkan kepengurusan perempuan di lingkungan Muhammadiyah.

Nyai Walidah, yang juga dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, istri dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, memiliki peran besar dalam terbentuknya organisasi Aisyiyah, yang berdiri di Yogyakarta pada 19 Mei 1917, bertepatan dengan 27 Rajab 1335 H.

Organisasi ini menjadi bagian penting dalam pemberdayaan perempuan Muhammadiyah serta memberikan warna tersendiri dalam bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan keagamaan yang menjadi fokus gerakannya.

Dalam organisasi ini, amal usaha di bidang pendidikan berkembang sangat pesat. Hal ini terbukti dengan berdirinya sekitar 4.000 lembaga, seperti kelompok bermain, taman kanak-kanak, posyandu, tempat penitipan anak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan lainnya. Salah satu amal usaha penting adalah pendirian taman kanak-kanak bernama Frobel pada tahun 1919. Nama ini diambil dari Friedrich Frobel, seorang filsuf asal Jerman yang dikenal sebagai The Founding Father Pendidikan Anak Usia Dini.

Aisyiyah sendiri berpegang pada pandangan Frobel tentang pentingnya pendidikan anak usia dini, sehingga nama Frobel digunakan sebagai nama awal lembaga pendidikan mereka. Seiring perkembangan zaman, nama tersebut kemudian berubah menjadi TK Aisyiyah Bustanul Athfal, yang lebih dikenal dengan sebutan TK ABA.

Taman kanak-kanak ini tidak hanya memberikan pendidikan formal semata, tetapi juga berlandaskan ajaran Islam. TK ABA mengutamakan pendidikan yang disesuaikan dengan aspek perkembangan anak, serta menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak sesuai dengan tahap usia mereka.

Tujuan pendirian taman kanak-kanak ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang tumbuh seiring dengan potensi anak. Harapannya, anak-anak dapat menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak mulia, serta tumbuh dalam lingkungan belajar yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan. Proses pembelajaran disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang serta minat dan bakat anak.

Visi dan misi taman kanak-kanak ini juga selaras dengan kebutuhan sumber daya manusia di masa depan, yaitu menjadi lembaga pendidikan unggulan yang membekali anak dalam aspek keagamaan dan pengembangan life skill, dengan berlandaskan pada al-Quran dan As-Sunnah. Metode pengajaran di taman kanak-kanak ini pun sangat beragam. Salah satunya adalah metode bercerita, yang bertujuan mengembangkan aspek sosial-emosional, empati, kejujuran, serta moral Islam berdasarkan teladan Rasulullah.

Ada pula metode modelling, di mana guru menjadi contoh langsung bagi anak di lingkungan sekolah. Selain itu, metode eksplorasi dan eksperimen juga diterapkan agar anak dapat mengenal dan mencintai lingkungan sebagai bagian dari pengenalan terhadap ciptaan Allah SWT.

Berdasarkan hasil wawancara yang saya lakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 4 (TK ABA 4) Surabaya, metode-metode tersebut telah diterapkan secara konsisten dalam kegiatan pembelajaran. Para guru di TK ABA 4 tidak hanya mengajarkan materi pendidikan formal, tetapi juga secara aktif menyisipkan nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas belajar di sekolah.

Salah satu tenaga pendidik menyampaikan bahwa metode bercerita sangat membantu dalam menyampaikan kisah para nabi yang dikemas dalam bentuk cerita menarik, sehingga anak-anak lebih mudah memahami dan menyerap pesan moralnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Guru juga menggunakan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari untuk memperkuat penyampaian, agar anak dapat langsung mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Selain itu, guru menjadi suri teladan pertama bagi anak di sekolah, yang secara tidak langsung akan ditiru oleh mereka.

Selain itu, kegiatan pembelajaran juga sering menggunakan pendekatan eksplorasi alam, seperti kegiatan jalan pagi yang rutin dilakukan setiap hari Jumat.

Kegiatan ini tidak hanya melatih perkembangan sosial anak, tetapi juga mengajarkan bahwa alam sekitar tidak hadir begitu saja, melainkan merupakan ciptaan Allah SWT. Pendekatan ini menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kesadaran anak terhadap ciptaan dan kebesaran Allah.

Dari sisi orang tua, mereka menilai bahwa peran TK Aisyiyah dalam menggabungkan pendidikan formal dan nilai-nilai keislaman merupakan hal yang sangat selaras. Mereka merasa bahwa apa yang diajarkan di sekolah sesuai dengan harapan saat memilih TK Aisyiyah sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak.

Hal ini mempermudah terjalinnya kolaborasi antara orang tua dan pendidik dalam menciptakan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki landasan keagamaan yang kuat.

Dengan demikian, para orang tua merasa bahwa memilih TK Aisyiyah merupakan keputusan yang tepat. TK ini menjadi lembaga pendidikan pertama yang tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga membekali anak dengan nilai-nilai agama sesuai syariat Islam.

Melalui pendidikan ini, anak-anak diberikan fondasi awal untuk tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia. (*)

Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡