Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP dan sederajat yang berlangsung pada 6–16 April 2026 menjadi momentum penting bagi siswa untuk menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).
Salah satu sekolah yang telah menyelesaikan TKA gelombang kedua adalah SMP Negeri 2 Wates pada 8–9 April 2026. Sebanyak 128 siswa kelas IX mengikuti ujian tersebut dengan lancar.
Sejumlah siswa mengaku menghadapi tantangan, terutama pada mata pelajaran Matematika yang dinilai membutuhkan penalaran lebih mendalam.
“Soalnya banyak cerita dan tidak semuanya langsung menjelaskan inti. Awalnya mudah, tapi semakin ke belakang semakin sulit,” ujar Natasya, siswa kelas IX.
Hal serupa disampaikan Sahda yang merasa waktu pengerjaan cukup terbatas.
“30 soal Matematika dalam 75 menit terasa kurang, karena banyak soal yang panjang dan butuh penalaran,” katanya.
Meski demikian, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, sebagian siswa merasa lebih percaya diri dan mampu menyelesaikan soal dengan waktu yang cukup.
Kepala SMP Negeri 2 Wates, Budi Maheni, menyampaikan bahwa TKA merupakan sarana penting untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa, khususnya dalam literasi dan numerasi.
Menurutnya, pelaksanaan TKA juga mendukung pemetaan mutu pendidikan nasional sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi tantangan global.
“TKA menjadi momentum bagi siswa untuk menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi, tidak sekadar menghafal tetapi juga bernalar,” ujarnya.
Pihak sekolah telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari penyediaan 43 unit perangkat komputer hingga antisipasi gangguan listrik dengan menyewa genset.
Budi menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA berjalan beriringan dengan Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurutnya, kedua asesmen tersebut saling melengkapi dalam membentuk profil lulusan siswa.
“ASPD memberi kedalaman materi, sedangkan TKA mempertajam kemampuan bernalar. Keduanya membentuk siswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga logis,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa hasil tryout sebelumnya menunjukkan capaian positif, di mana sekolahnya masuk tiga besar terbaik di Kabupaten Kulon Progo.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan juga dilakukan melalui penguatan kompetensi guru. Salah satunya melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan.
Guru matematika, Erma Wahyu Utami, menilai pendekatan deep learning sangat penting untuk membangun pemahaman konsep sejak dini.
“Pembelajaran mendalam membantu siswa memahami alasan di balik rumus, bukan sekadar menghafal,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini ideal diterapkan sejak kelas VII dan VIII, sehingga saat kelas IX siswa siap menghadapi soal TKA yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Dalam mendukung pembelajaran modern, sekolah juga memanfaatkan papan interaktif (Interactive Flat Panel/IFP). Sejumlah siswa mengaku metode ini membuat pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami.
“Belajar jadi lebih seru dan mudah dimengerti,” ujar salah satu siswa.
Para siswa berharap fasilitas tersebut dapat ditambah agar lebih banyak yang merasakan pengalaman belajar berbasis teknologi.
Pelaksanaan TKA di SMP Negeri 2 Wates menjadi gambaran transformasi pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, logis, dan adaptif.
Sinergi antara TKA, ASPD, serta penguatan metode pembelajaran dan teknologi diharapkan mampu mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments