Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tokoh Muda Muhammadiyah Kumpul di Malang, Ini yang Dibahas

Iklan Landscape Smamda
Tokoh Muda Muhammadiyah Kumpul di Malang, Ini yang Dibahas
Para kader IMM berdiskusi usal halalbihalal. Foto: A
pwmu.co -

Sejumlah tokoh muda Muhammadiyah dari berbagai bidang berkumpul dalam suasana hangat dan penuh refleksi pada acara Halalbihalal Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM), yang digelar di Savana Hotel & Convention, Ahad (5/4/2027).

Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idulfitri, tetapi juga forum strategis untuk membicarakan arah gerakan kader Muhammadiyah, dinamika kebangsaan, hingga posisi alumni IMM dalam berbagai sektor, termasuk pemerintahan dan politik.

Dihadiri Suli Da’im (Anggota DPRD Jatim), DrSholihin Fanani (Wakil Ketua PWM Jatim), Prof. Ma’mun Murid Al Barbasy (Rektor UMJ), Ramlyanto (Kepala BKSDM Jatim), Ali Muthohirin (Wakil Wali Kota Malang), Ahmad Rofiq (Ketum Partai Gema Bangsa), Dr. Nur Subeki (Wakil Rektor UMM), Radius Setiyawan (Wakil Rektor Umsura), Abdul Musyawir Yahya (Komisaris Independen Pertamina Geotermal), dan Choirul Anam (Ketua FOKAL IMM Jatim).

Suasana pertemuan berlangsung cair dengan berbagai cerita masa lalu yang mengemuka. Salah satunya disampaikan Ma’mun Murid Al Barbasy yang mengenang momen kontestasi internal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada akhir 1990-an.

Dia mengingat betul ketika menjadi kandidat Ketua IMM dalam Musyawarah Daerah (Musyda) IMM di Asrama Haji Surabaya. Saat itu, para kandidat harus memaparkan visi secara terbuka bahkan diliput media massa.

“Saya masih ingat para kandidat Ketua IMM beradu visi dan dimuat di Jawa Pos,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurutnya, kader IMM pada masa itu dikenal tangguh dan memiliki kapasitas intelektual yang kuat, khususnya di Surabaya.

Diaspora Kader dan Peran di Kekuasaan

Dalam forum tersebut, Suli Da’im menekankan pentingnya keberadaan kader IMM di berbagai lini, termasuk dalam lingkaran kekuasaan.

Ia mengaku terus mengikuti perkembangan IMM dari waktu ke waktu dan melihat semakin banyak kader yang kini mengambil peran strategis di berbagai sektor.

“Silakan berdiaspora ke mana saja, asal bisa membawa nama baik IMM dan persyarikatan,” tegasnya.

Menurutnya, diaspora kader bukan sekadar penyebaran peran, tetapi juga bentuk kontribusi nyata dalam membangun bangsa dengan tetap menjaga identitas ideologis Muhammadiyah.

Sementara itu, Ali Muthohirin mengingatkan bahwa kebebasan kader dalam memilih profesi harus diiringi dengan komitmen menjaga marwah Muhammadiyah.

“Kader Muhammadiyah boleh jadi apa saja, tetapi harus tetap menjaga marwah persyarikatan dan menjunjung visi fastabiqul khairat,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa nilai-nilai dasar Muhammadiyah harus tetap menjadi pijakan dalam setiap langkah kader, baik di ranah birokrasi, akademik, maupun politik.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kemandirian sebagai Pondasi Gerakan

Isu kemandirian organisasi juga menjadi perhatian utama dalam forum tersebut. Choirul Anam menekankan bahwa kemandirian individu merupakan fondasi awal sebelum berbicara tentang kemandirian organisasi.

“Bagaimana kita bisa mewujudkan kemandirian organisasi jika personalitas kader belum mandiri secara total,” ujarnya.

Ia mendorong kader IMM untuk proaktif dalam menjemput peluang, sekecil apa pun, sebagai upaya membangun kemandirian pribadi yang pada akhirnya berdampak pada kontribusi yang lebih besar bagi organisasi.

Pandangan kritis disampaikan Ahmad Rofiq yang menilai kader IMM memiliki keunggulan dalam hal kapabilitas dan integritas. Namun demikian, dalam konteks politik praktis, kader dinilai masih perlu banyak belajar.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas politik agar kader tidak tertinggal dalam kontestasi kekuasaan yang semakin kompetitif.

Dalam refleksinya, Ma’mun Murid Al Barbasy menyebut bahwa kader IMM merupakan pewaris utama perjuangan Muhammadiyah.

“Ibaratnya, pewaris utama yang berhak meneruskan perjuangan persyarikatan adalah IMM,” ungkapnya.

Namun, menurutnya, status tersebut harus diimbangi dengan kualitas diri yang mumpuni agar mampu mengemban amanah besar organisasi.

Selain itu, sejumlah tokoh lain seperti Ramlyanto dan Suli Da’im juga menyampaikan pandangan konstruktif dan kritis terkait penguatan peran kader di tengah dinamika keumatan dan kebangsaan.

Diskusi tokoh muda Muhammadiyah  yang berlangsung di Savana Hotel & Convention tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi gagasan bagi para alumni IMM dalam merespons tantangan zaman.

Melalui pertemuan ini, para tokoh muda Muhammadiyah berharap lahir komitmen bersama untuk memperkuat peran kader, menjaga nilai-nilai persyarikatan, serta berkontribusi lebih luas bagi kemajuan umat dan bangsa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡