Ketidakmampuan masyarakat kita dalam membedakan esensi, makna, dan simbol budaya merupakan hal yang wajar dan alamiah.
Maklumlah, mengingat kultur antropologi Indonesia—khususnya Jawa—cenderung feodal.
Kultur ini menempatkan hierarki terbawah (rakyat jelata) sekadar sebagai konsumen.
Mereka hanya sebatas mengenal simbol, yang tercerabut dari esensi dan makna aslinya.
Seiring berjalannya waktu, simbol-simbol ini dibungkus dengan berbagai cerita khurafat dan takhayul (gugon tuhon).
“Fenomena inilah yang acapkali kami temui dalam berbagai situasi.
Misinterpretasi pada simbol
Contoh kasus, ketika salah seorang tetangga saya terjatuh dari sepeda motor ketika hendak ke sawah.
Pada saat sedang dirawat di rumah sakit, keluarganya yang ada di rumah mengadakan selamatan sengkalan.
Selamatan ini dimaksudkan untuk tujuan agar terhindar dari kesialan di kemudian hari.
Umumnya, selamatan jenis ini menggunakan media jenang abang—sejenis bubur tradisional yang terbuat dari beras ketan—untuk dibagikan kepada tetangga dan kerabat yang hadir.
Melihat hal itu, saya mencoba sedikit memberi gambaran kepada keluarga tetangga tersebut dengan berkata, ‘Mohon maaf, apakah tidak sebaiknya jenang abang diganti dengan roti sobek rasa keju atau yang lain agar lebih bermanfaat?’
“Tidak bisa mas! Ini tradisi leluhur kita, wajib kita uri-uri agar tetap lestari,” sanggah mereka.
“Bukankah yang paling penting adalah niat anda untuk bersyukur? Lantas wujud Syukur diaktualisasikan dalam sedekah makanan kepada tetangga? Adapun terkait jenang abang adalah salah satu bentuknya?” ujar saya menjelaskan.
“Ah, kalau menggunakan roti, namanya bukan selamatan sengkalan mas, tidak mangikuti paugeran (aturan)!” jawabnya berargumen.
Saya kemudian memberikan penjelasan.
“Loh, jangan salah. Leluhur kita dahulu menggunakan jenang abang, karena makanan itu termasuk kudapan favorit pada masanya. Jadi, ketika makanan itu diberikan kepada tetangga, dijamin pasti habis. Namun sekarang zaman sudah beda. Generasi sekarang jika diberi jenang abang, akan berakhir di tempat sampah karena basi akibat tidak disentuh sama sekali. Apalagi dimakan, atau paling beruntung menjadi pakan ayam. Maka, daripada mubazir, lebih baik diganti roti sobek atau bolu. Bukankah mubazir adalah perbuatan yang bertentangan dengan agama? Syukur-syukur jika ditambahi dengan sedekah kepada fakir-miskin atau anak yatim. Bukankah esensinya sama, atau lebih baik?”
“Halah mas, tak usah banyak argumen. Tak usah ngowahi adat (merubah tradisi). Kualat nanti!”, tolaknya.
Peristiwa kecil ini mengindikasikan bahwa rakyat biasa mengalami misinterpretasi terhadap simbol budaya.
Taken for granted terhadap tradisi tanpa perlu menelaah ulang.
Dalam konteks “jenang abang”, meminjam istilah Imam As-Syathibi dalam kitab Al-Muwafaqat, Maqasid Al-Syariah-nya tidak lain adalah sedekah.
Bisa dimengerti, banyak hadis yang berbicara mengenai sedekah, seperti:
“Sesungguhnya sedekah itu memadamkan kemurkaan Tuhan dan menolak kematian yang buruk” (HR Tirmidzi), atau hadis yang lain:
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ.
“Obatilah orang yang sakit di antara kamu dengan bersedekah.” (HR. Baihaqi)
Singkatnya, “jenang abang” merupakan hasil modifikasi para penyebar Islam (Walisongo) untuk memudahkan misi dakwah mereka.
Modifikasi ini adalah strategi cerdas untuk memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya lokal Jawa.
Walisongo tidak serta merta menghapuskan keyakinan lokal yang menghormati unsur-unsur kehidupan (maskulin-feminin, bumi-langit, darah merah-putih, ayah-ibu).
Sebaliknya, mereka menyisipkan ajaran Islam ke dalam tradisi tersebut.
Keyakinan yang sebelumnya diwujudkan dalam bentuk “jenang abang” itu kemudian bertransformasi menjadi tradisi selamatan sengkalan yang kita kenal sekarang.
Pada titik ini, muncul pertanyaan mendasar: “Apakah tradisi hanya sekadar selubung tanpa makna jika masyarakatnya tidak lagi memahaminya?”
Atau, justru tradisi berfungsi sebagai tali pengikat yang menjaga kita tetap terhubung pada akar, mencegah kita tercerabut dari jati diri sebagai sebuah etnis?
Sesungguhnya, tradisi dan budaya bukanlah agama yang harus dipertahankan secara mutlak.
Ia juga bukan sesuatu yang statis atau benda mati, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Budaya akan terus hidup selama manusia eksis.
Oleh karena sifatnya yang dinamis, budaya bisa tumbuh, punah, atau muncul dalam bentuk baru. Perubahan—baik berupa penambahan atau pengurangan—pasti terjadi.
Namun, upaya pembaharuan budaya seringkali menghadapi berbagai tantangan, seperti pola pikir yang kuno, kekhawatiran meninggalkan aturan lama (pakem), atau kurangnya pemahaman mendalam (esensial) terhadap nilai-nilai di baliknya.
Memahami pembaharuan
Pada hakikatnya, pembaharuan tidak berarti membuang atau meninggalkan nilai-nilai kearifan masa lalu.
Bukan demikian, karena setiap budaya terikat dengan ruang dan waktu, sesuai pepatah Arab, al-insanu ibnul zaman (manusia adalah anak zaman).
Tidak semua yang kita warisi harus dipertahankan secara kaku tanpa ruang dialog.
Budaya adalah sebuah percakapan panjang antar generasi yang terus mengalir. Yang terpenting bukanlah siapa yang menang atau kalah dalam perdebatan, melainkan apakah makna esensial dari budaya tersebut tetap terpelihara dan niatnya tetap jernih.
Perubahan adalah keniscayaan. Contohnya dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:
- Dahulu orang membawa seserahan pengantin dalam besek bambu, kini sering menggunakan goodie bag bermerek.
- Permainan tradisional anak-anak kini pelan-pelan tergantikan oleh gawai (gadget).
- Ritual adat yang dulu harus dilakukan persis sesuai aturan baku (pakem), kini mulai menerima variasi.
Akhirnya, jika tradisi dan budaya hanya dipakai sekadar pada upacara dan ritus seremonial belaka, ia akan menjadi formalitas tanpa makna. Perlahan-lahan akan terlupakan dan menuju pada titik kepunahan.
Maka sesungguhnya kritik terhadap tradisi dan budaya sebenarnya bukan untuk memutuskan, melainkan mengangkatnya ke kesadaran historis.
Tugas para pewaris tradisi dan budaya adalah merawat sembari mengembangkan spirit, nilai, filosofi, dan esensi sesuai kebutuhan.
Dengan demikian, tradisi dan budaya bisa menjadi rumah nyaman di tengah arus derasnya zaman. Wallahu a’lam.***





0 Tanggapan
Empty Comments