Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tradisi Debat dan Krisis Hikmah di Ruang Publik

Iklan Landscape Smamda
Tradisi Debat dan Krisis Hikmah di Ruang Publik
Aji Damanuri. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Aji Damanuri
pwmu.co -

Ada satu pemandangan yang kian sering kita jumpai dalam lanskap keberagamaan kontemporer: majelis ilmu yang berubah menjadi arena perdebatan, ruang dakwah yang beralih rupa menjadi panggung adu argumen, dan mimbar yang perlahan kehilangan fungsinya sebagai tempat meneduhkan jiwa.

Dalam situasi ini, sebagian ustadz—sadar atau tidak—lebih tampil sebagai pendebat publik daripada murabbi, lebih sibuk menunjukkan kecerdikan logika dibanding membina kedalaman makna, dan lebih berhasrat menang dalam perdebatan ketimbang ngemong santri serta jamaah dalam ruang-ruang ilmu yang damai, luas, dan mendalam.

Fenomena ini tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh subur di era media sosial, algoritma, dan budaya viral. Potongan video debat berdurasi tiga puluh detik lebih mudah menyebar dibanding pengajian mendalam selama satu setengah jam. Ketegasan kalimat lebih diapresiasi daripada kelembutan hikmah. Agama pun berisiko direduksi menjadi konten performatif, sementara ilmu kehilangan kedalaman spiritualnya.

Debat dalam Islam: Diperbolehkan, tetapi Dibatasi oleh Akhlak

Islam sejatinya tidak menutup ruang dialog dan perdebatan. Al-Qur’an bahkan memberikan panduan eksplisit tentang bagaimana perdebatan seharusnya dilakukan:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Naḥl: 125)

Kata al-aḥsan (yang paling baik) bukan sekadar anjuran etika, melainkan standar moral. Debat yang kehilangan hikmah akan kehilangan legitimasi spiritualnya. Ketika perdebatan berubah menjadi ajang pamer kepintaran, maka yang runtuh bukan hanya adab, tetapi ruh keilmuan itu sendiri.

Rasulullah saw telah mengingatkan:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka berada di atas petunjuk, kecuali karena mereka gemar berdebat.” (HR. at-Tirmiżī)

Hadis ini bukan kritik terhadap akal, melainkan terhadap ego intelektual yang menjadikan perdebatan sebagai tujuan, bukan sarana.

Ustadz, Popularitas, dan Godaan Menjadi ‘Pemenang’

Di masa lalu, ulama dikenal melalui karya, kedalaman ilmu, dan keteladanan akhlak. Hari ini, sebagian figur keagamaan dikenal melalui viral moment: kalimat penutup yang mematikan lawan debat, ekspresi sinis yang mengundang sorak pendukung, atau retorika keras yang memecah audiens menjadi kubu-kubu. Perbedaan pendapat fikih—yang dahulu dibahas dengan tenang di ruang kitab—kini sering dipertontonkan secara terbuka dengan nada merendahkan.

Akibatnya, jamaah tidak lagi diajak berpikir, melainkan dipaksa memilih: siapa ustadz yang paling benar, paling tegas, dan paling berani. Dalam iklim seperti ini, agama berubah dari jalan pencerahan menjadi identitas konflik.

Padahal Al-Qur’an telah memberi rambu yang tegas:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu mencaci maki apa yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencaci Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. al-An‘ām: 108)

Jika mencaci sesembahan saja dilarang, maka merendahkan sesama Muslim jelas lebih tercela.

Hilangnya Tradisi Ngemong dalam Majelis Ilmu

Dalam tradisi pesantren Nusantara, ngemong adalah inti pendidikan: membina dengan kesabaran, menuntun dengan kasih, dan mendidik dengan kelapangan. Namun budaya debat konfrontatif perlahan menggerus tradisi ini. Majelis ilmu kehilangan sifatnya sebagai ruang aman untuk bertanya dan bertumbuh. Santri takut salah, jamaah takut dicap sesat, dan ilmu kehilangan fungsi transformasinya.

Rasulullah saw memberi teladan yang sangat kontras dengan budaya menang-menangan:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abū Dāwūd)

Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga hati dan persaudaraan sering kali lebih mulia daripada memuaskan ego intelektual.

Etika Publik dan Krisis Kepercayaan Umat

Ketika tokoh agama saling menyerang di ruang publik, umat menyerap pesan berbahaya: agama adalah sumber kegaduhan. Tak sedikit generasi muda yang akhirnya menjauh, bukan karena membenci iman, tetapi karena lelah dengan konflik simbolik yang tak berujung.

Al-Qur’an menegaskan prinsip dasar komunikasi sosial:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. al-Baqarah: 83)

Ayat ini bersifat universal—tidak dibatasi oleh mazhab, kelompok, atau afiliasi.

Dari Menang Debat Menuju Menang Hikmah

Islam tidak membutuhkan lebih banyak pemenang debat, tetapi lebih banyak pengasuh peradaban. Ilmu yang sejati tidak melahirkan kegaduhan, melainkan keteduhan. Sudah saatnya mimbar dikembalikan dari arena pertarungan menuju ruang pembinaan, dari panggung ego menuju majelis hikmah.

Menang debat mungkin memberi kepuasan sesaat. Tetapi membina akal, menenangkan jiwa, dan ngemong umat adalah kemenangan yang jauh lebih abadi.

Dalam ekosistem media sosial hari ini, agama sering terjebak dalam logika algoritma: semakin keras, semakin viral; semakin tajam, semakin dibagikan. Akibatnya, sebagian dai terdorong—sadar atau tidak—untuk tampil lebih konfrontatif. Debat dipilih karena cepat menarik perhatian, meski sering kali mengorbankan kedalaman.

Padahal, dakwah bukan lomba kecerdasan. Bukan pula lomba cerdas cermat. Ia adalah proses pendewasaan. Bukan soal siapa paling cepat menjawab, tetapi siapa paling sabar mendampingi. Sekelumit tulisan ini diharapkan menjadi pengingat ringan namun mengusik, bahwa agama tidak pernah kekurangan dalil, tetapi sering kekurangan kebijaksanaan dalam menyampaikannya.

Jika tulisan ini dibaca di lini masa, semoga ia tidak memancing kemarahan, melainkan menghadirkan jeda—jeda untuk berpikir, menimbang, dan kembali bertanya: apakah dakwah kita hari ini sedang membina, atau sekadar ingin menang?

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu