Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tradisi Santri dan Batas Penghormatan

Iklan Landscape Smamda
Tradisi Santri dan Batas Penghormatan
Oleh : M. Ainul Yaqin Ahsan, M. Pd Pengasuh LKSA Muhammadiyah Rungkut Surabaya
pwmu.co -

Media sosial sempat dihebohkan oleh video santri yang menunjukkan penghormatan berlebihan kepada kiai.

Dalam video itu, terlihat santri berjalan membungkuk, mencium sandal, bahkan berebut sisa kopi sang guru, yang mereka sebut sebagai usaha mencari berkah atau tabarruk.

Tidak hanya itu, muncul pula wali santri yang datang membawa hasil panen, seperti beras dan buah-buahan, untuk diberikan kepada kiai sebagai bentuk penghormatan dan cinta.

Selain pula untuk mencari keberkahan.

Sikap para santri dan wali santri ini memicu perdebatan di masyarakat.

Ada yang menilai itu sebagai bentuk penghormatan tulus, tetapi ada juga yang melihatnya sebagai eksploitasi atau “perbudakan modern” yang dibalut dengan ‘jubah’ kesalehan.

Lantas, bagaimana cara kita membedakan antara penghormatan yang tulus (ta’dzim) dengan sikap berlebihan (ghuluw) atau pengkultusan terhadap seorang kiai?

Tradisi Santri dan Batas Penghormatan

Penghormatan dalam Islam

Ajaran Islam sangat menekankan adanya adab dan penghormatan terhadap seorang guru dan ulama. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak menempatkan ulama pada tempatnya.”

(HR. Ahmad no. 23408; al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/122)

Tetapi penghormatan dalam Islam tersebut tidak dalam pengertian menghambakan diri sampai bersifat menuhankan seseorang.

Rasulullah ﷺ sebagai manusia yang paling mulia menolak bentuk penghormatan yang berlebihan.

Beliau bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, hamba Allah dan Rasul-Nya.”

(HR. al-Bukhari no. 3445)

Sikap para sahabat kepada Rasulullah

Para sahabat Rasulullah ﷺ memiliki cinta luar biasa kepada beliau. Namun, rasa cinta itu tidak diekspresikan melalui perilaku yang secara fisik merendahkan diri.

Dari Anas bin Malik r.a.:

مَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لَهُ لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهَتِهِ لِذَلِكَ

“Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh mereka selain Rasulullah ﷺ. Namun ketika melihat beliau, mereka tidak berdiri (berlebihan) untuknya, karena mereka tahu beliau tidak menyukai hal itu.”

(HR. at-Tirmidzi no. 2754, Sunan at-Tirmidzi, Juz 5, hal. 90)

Memang ada riwayat lain tentang para sahabat mencium tangan Nabi ﷺ dalam situasi tertentu. Misalnya saat bai’at atau perpisahan:

فَقَبَّلْنَا يَدَ النَّبِيِّ ﷺ

Kami mencium tangan Nabi ﷺ.” (HR. Abu Dawud no. 5223; at-Tirmidzi no. 2733)

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab (4/636), bahwa mencium tangan karena hormat kepada ilmu diperbolehkan, selama tidak disertai keyakinan berlebih atau penghinaan terhadap diri sendiri.

Tabarruk: Sunnah atau Penyimpangan?

Tabarruk (mengambil berkah) memang dikenal dalam tradisi Islam. Para sahabat mengambil berkah dari rambut, air wudhu dan keringat Nabi ﷺ.

Hal ini sah karena Nabi adalah manusia yang diberkahi langsung oleh Allah ﷻ.

Tetapi setelah Rasulullah ﷺ wafat, praktik semacam itu tidak ada lagi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tidak ada satupun riwayat tentang sahabat berebut sisa minum Abu Bakar, mencium sandal Umar, atau menyimpan debu tempat duduk Utsman.

Para sahabat paham bahwa keberkahan sejati terletak pada ilmu dan amal saleh, bukan pada benda atau pribadi seseorang.

Imam an-Nawawi menulis:

الْبَرَكَةُ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ بِهِ وَفِي الصَّالِحِينَ بِدُعَائِهِمْ وَتَقْوَاهُمْ، لَا فِي الذَّوَاتِ وَالْآثَارِ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ

“Keberkahan ada pada ilmu dan pengamalannya, serta pada orang-orang saleh melalui doa dan ketakwaannya, bukan pada benda atau peninggalan mereka setelah Nabi ﷺ.”

(al-Majmū’, Juz 4, hal. 635)

Ibn Taimiyyah juga menegaskan:

التَّبَرُّكُ بِغَيْرِ آثَارِ النَّبِيِّ ﷺ مِنَ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَفْعَلْهَا السَّلَفُ الصَّالِحُ

“Tabarruk dengan selain peninggalan Nabi ﷺ termasuk bid’ah yang tidak dilakukan oleh salafus shalih.” (Majmū’ al-Fatāwā, 27/79)

Budaya pondok dan bahaya ghuluw

Sebagian pesantren masih ada yang melanggengkan tradisi adab tinggi terhadap guru. Santri mencium tangan kiai, berbicara lembut, menundukkan pandangan, semua ini indah bila dalam batas.

Tetapi ketika penghormatan itu telah berubah menjadi pengagungan berlebihan (ghuluw), maka batas agama menjadi terlanggar.

Santri yang berjalan jongkok, mencium sandal atau berebut sisa kopi kiai bukanlah bagian dari sikap ta’dzim, melainkan bentuk penghambaan simbolik yang Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkannya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَا اَحْسَنَ اللَّهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْاَرْضِ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS. al-Qashash: 77).

Ayat ini mengajarkan keseimbangan: berbuat baik, menghormati, tapi jangan berlebihan hingga menimbulkan kerusakan dalam makna ibadah dan kemanusiaan.

Muhammadiyah dan manhaj rasional tentang penghormatan

Pesantren Muhammadiyah memiliki tradisi yang moderat: menghormati guru dan ulama tanpa kultus individu.

Santri belajar menundukkan hati, bukan merendahkan tubuh. Mencium ilmu, bukan sandal. Mereka meneladani Rasulullah ﷺ dengan akal dan adab yang lurus.

Prinsip ini berakar dari tajridut tauhid atau memurnikan tauhid. Hanya Allah yang layak diagungkan.

Adapun manusia, seberapa tinggi derajat ilmunya, tetaplah hamba Allah yang sama-sama butuh rahmat dan petunjuk-Nya.

Kita tidak perlu mencaci santri yang melakukan itu, karena kebanyakan mereka hanya mengikuti tradisi tanpa maksud buruk.

Namun, kita juga harus mencegah praktik seperti itu agar tidak menodai ajaran tauhid dan akal sehat.

Tugas para pendidik dan ormas Islam adalah meluruskan makna “tabarruk” dan “ta’dzim” agar tetap dalam koridor syariat dan adab Rasulullah ﷺ.

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari no. 3559; Muslim no. 2321).

Akhlak mulia kepada guru adalah bagian penting dari keimanan. Namun, jika penghormatan berubah menjadi pemujaan, itu bukanlah lagi akhlak, melainkan suatu kesesatan.

Menghormati kiai yang sebenarnya adalah dengan mengamalkan ilmunya, bukan sekadar mencium sandalnya. Keberkahan bukan datang dari sisa kopi yang diminum kiai, melainkan dari ilmu, amal, dan ketulusan dalam meneladani perjuangannya.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu