Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Transformasi Digital di SD: Seberapa Siap Guru Menghadapi Kurikulum Merdeka?

Iklan Landscape Smamda
Transformasi Digital di SD: Seberapa Siap Guru Menghadapi Kurikulum Merdeka?
Potret Kurnia Nur Safitri penulis opini (Foto: Kurnia/PWMU.CO)
Oleh : Kurnia Nur Safitri Pengajar SD Muhammadiyah 5 Porong
pwmu.co -

Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Namun, fleksibilitas ini juga menuntut kesiapan profesional yang lebih tinggi. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi perancang pengalaman belajar yang menarik, bermakna, dan relevan.

Teknologi digital hadir untuk memperkaya proses tersebut dengan menghadirkan aplikasi edukasi, platform belajar daring, hingga media interaktif yang dapat menumbuhkan kreativitas dan kemandirian belajar.

Di berbagai sekolah, teknologi mulai menjadi jembatan dalam mencapai tujuan Kurikulum Merdeka, meskipun penggunaannya belum sepenuhnya merata.

Potret Kesiapan Guru di SD Muhammadiyah 5 Porong

Penelitian di SD Muhammadiyah 5 Porong menunjukkan bahwa sebagian besar guru berada dalam kategori cukup siap dalam menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Guru telah memahami konsep inti Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran berdiferensiasi, fleksibilitas perangkat ajar, dan peran guru sebagai fasilitator. Semangat untuk berubah juga terlihat dari keterbukaan guru terhadap penggunaan media digital di kelas.

Namun, penerapan teknologi yang dilakukan masih pada tahap dasar, misalnya penggunaan proyektor, tayangan presentasi, dan aplikasi komunikasi sederhana seperti WhatsApp atau Google Form. Pemanfaatan platform pembelajaran interaktif, aplikasi kuis digital, hingga media edukasi berbasis video belum merata dan masih dirasa asing bagi sebagian guru.

Kondisi ini menggambarkan adanya kesenjangan antara pemahaman kurikulum dan praktik integrasi teknologi dalam pembelajaran. Dengan demikian, kesiapan guru dapat dikatakan berada pada fase transisi menuju kesiapan optimal yang membutuhkan dukungan pelatihan dan pendampingan lebih lanjut agar pemanfaatan teknologi dapat benar-benar maksimal sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka.

Mengungkap Tantangan Nyata di Lapangan

Tantangan terbesar bagi guru bukan terletak pada kemauan, melainkan pada kepercayaan diri dan pendampingan yang masih minim. Guru yang belum terbiasa menggunakan teknologi sering kali merasa khawatir salah mengoperasikan perangkat saat proses belajar berlangsung. Kekhawatiran tersebut berdampak pada keberanian untuk mencoba aplikasi dan platform baru.

Di sisi lain, beban administrasi yang cukup tinggi menjadi kendala signifikan sehingga waktu guru untuk berlatih dan mengeksplorasi media digital menjadi terbatas.

Selain itu, pelatihan teknologi yang selama ini diberikan sering kali hanya bersifat teoretis dan kurang memberikan pengalaman praktik langsung. Pada akhirnya, tantangan ini membuat penggunaan teknologi di kelas masih berjalan pelan dan belum optimal.

Peran Infrastruktur dan Dukungan Sekolah

Kesiapan guru tidak hanya ditentukan oleh kompetensi individu, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan institusi. Sekolah dengan jaringan internet yang stabil, perangkat digital yang memadai, serta kebijakan yang mendukung penggunaan teknologi akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan Kurikulum Merdeka.

Sebaliknya, keterbatasan fasilitas membuat guru kesulitan menerapkan pembelajaran berbasis teknologi meskipun memiliki kemauan.

Di SD Muhammadiyah 5 Porong, sarana pendukung sudah mulai tersedia, namun masih perlu diperkuat melalui penyusunan SOP penggunaan teknologi dan pelatihan berkelanjutan agar seluruh guru memiliki standar kerja yang sama dan mampu mengintegrasikan teknologi secara efektif.

Peluang Penguatan Menuju Transformasi Digital

Walaupun tantangan masih dihadapi, peluang untuk berkembang sangat terbuka bagi guru dan sekolah. Semangat belajar yang dimiliki para guru menjadi modal utama untuk bergerak menuju transformasi digital.

Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten, misalnya memilih satu platform digital yang mudah diakses seperti Canva for Education, Wordwall, atau Google Classroom, lalu menggunakannya dalam satu kegiatan pembelajaran setiap minggu.

Pendekatan bertahap ini akan membantu guru membangun kebiasaan, meningkatkan rasa percaya diri, serta memberi ruang untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan teknologi di kelas.

Sekolah dapat mendukung upaya tersebut dengan menyelenggarakan pelatihan berbasis praktik melalui pendampingan mentor. Pelatihan yang dilakukan secara langsung dan berulang, bukan hanya teoretis, memungkinkan guru memperoleh pengalaman nyata mulai dari tahap penggunaan aplikasi hingga penerapannya di kelas.

Selain itu, forum diskusi atau komunitas belajar antarguru dapat menjadi ruang kolaboratif untuk saling berbagi praktik baik, mengatasi kendala teknis, hingga merancang strategi pembelajaran digital bersama.

Jika diperlukan, sekolah dapat membangun kemitraan dengan lembaga pelatihan atau komunitas pendidikan luar sebagai penguat ekosistem pembelajaran digital. Melalui perubahan bertahap dan dukungan berkelanjutan, transformasi digital bukan hanya menjadi wacana, tetapi langkah nyata yang memperkuat kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

2 Tanggapan

  1. Artikel ini sangat informatif dan relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Pemaparan yang sistematis serta contoh yang diberikan membantu pembaca memahami isu secara lebih mendalam.

  2. Artikel ini memberikan informasi yang cukup mengenai bagaimana kesiapan tenaga pengajar dan sekolah dalam menghadapi era digital dalam proses pembelajaran di sekolah. Mungkin bisa ditambahkan pula bagaimana KESIAPAN PARA WALI MURID juga agar saling bersinergi dalam kerjasama mendidik para murid dan anak-anak di era teknologi digital ini.

Search
Menu