
PWMU.CO-Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur melalui Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) menggelar Pelatihan Instruktur MPKSDI PWM Jatim 2025 untuk wilayah barat.
Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Seminar Lantai 4 Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) pada 18–20 April 2025.
Dalam sambutannya, Ketua MPKSDI PWM Jatim, Dr Phil Moh Rokib SS MA memaparkan tiga model kaderisasi Muhammadiyah yang menjadi fokus dalam pembinaan kader di era yang terus berkembang. Tiga model tersebut adalah Kaderisasi Kintilan, Ngenger, dan Balikan.
Tiga Model Kaderisasi Muhammadiyah
Satu, Kaderisasi Kintilan Kaderisasi ini merujuk pada individu yang tidak terikat secara struktural dengan Muhammadiyah, namun aktif dalam kegiatan pengajian, kajian, dan aktivitas lainnya.
Mereka bergabung secara alamiah karena ketertarikan pribadi terhadap gerakan Muhammadiyah dan berpartisipasi dalam aktivitas nonformal.
Dua, Kaderisasi Ngenger, Model ini menggambarkan proses kaderisasi di mana seseorang “mengabdi” atau mendampingi tokoh Muhammadiyah.
Awalnya mungkin hanya mengikuti tanpa pemahaman yang mendalam, namun seiring berjalannya waktu, mereka memperoleh pemahaman ideologis dan akhirnya dipercaya untuk memegang posisi kepemimpinan.
Tiga, Kaderisasi Balikan Model ini ditujukan bagi mereka yang memiliki latar belakang Muhammadiyah namun sempat menjauh dari gerakan.
Ketika mereka mendapatkan informasi atau kesadaran baru, mereka kembali dan aktif lagi dalam gerakan Muhammadiyah.
Dr Moh Rokib menekankan pentingnya pemahaman terhadap berbagai varian kaderisasi ini. “Kaderisasi struktural sudah menjadi hal yang biasa, namun ada model lain yang perlu diperhatikan, dan kita harus menyusun strategi kaderisasi yang lebih terprogram dan terstruktur dengan baik,” ujarnya
Merespons Perubahan Zaman: Dari Modern hingga Meta Modern
Selain itu, dalam pelatihan tersebut, peserta diajak untuk memahami perubahan zaman yang turut memengaruhi pola kaderisasi Muhammadiyah.
Ketua MPKSDI PWM Jatim mengungkapkan bahwa dunia kini telah memasuki era meta modern, yakni fase setelah postmodern yang lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan.
- Era modern yang bersifat logis dan struktural.
- Era postmodern yang cenderung mengkritisi dan mendekonstruksi struktur yang ada.
- Era meta modern yang terbuka, fleksibel, dan menghargai keberagaman pendekatan.
“Siapa pun dapat bergabung dengan Muhammadiyah selama memiliki niat dan semangat yang sama. Kita harus terus terbuka dan beradaptasi dengan perubahan,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua MPKSDI juga mengharapkan adanya dukungan aktif dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) agar kegiatan kaderisasi tetap dinamis dan berkelanjutan.
“Jika MPKSDI di daerah terkesan kurang aktif, mohon diingatkan. Ini penting untuk keberlangsungan gerakan Muhammadiyah,” tambahnya.
Melalui pelatihan ini, MPKSDI PWM Jatim menegaskan bahwa kaderisasi tidak hanya mencakup aspek struktural, tetapi juga kultural, yang saling melengkapi untuk memastikan gerakan dakwah Muhammadiyah tetap relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Harapannya, dengan kolaborasi yang lebih erat antara semua elemen Muhammadiyah, gerakan dakwah dapat terus tumbuh dan berkembang dengan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan. (*)
Penulis Rahmat Fandi Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan






0 Tanggapan
Empty Comments