Buku “Betapa Tuhan Sayang Muhammadiyah Tapi…” karya Anwar Hudijono terbitan UMM Press pada Januari 2025 merupakan sebuah refleksi mendalam setebal 404 halaman yang membedah eksistensi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Judulnya yang provokatif sekaligus puitis menyiratkan adanya kegelisahan intelektual tentang bagaimana kasih sayang Tuhan termanifestasi dalam ujian-ujian organisasi.
Cetakan pertama ini hadir sebagai cermin bagi warga persyarikatan untuk terus berbenah demi mempertahankan keberlanjutan misi pencerahan umat di masa depan.
Betapa Allah sangat sayang kepada Muhammadiyah. Dalam istilah lain blessing in disguise atau berkah terselubung. salah satunya adalah diberi pemimpin yang baik.
Pas dengan momentumnya. Sesuai zamannya. Masing-masing punya kekhususan dan kelebihan. Ada KH AR Fakhruddin, KH Ahmad Azhar Basyir, Amien Rais, Buya Syafii Maarif, Din Syamsuddin hingga Haedar Nashir.
Para tokoh tersebut bukanlah orang biasa-biasanya, walau kerap kali menyuguhkan penampilan yang biasa-biasa saja.
Bagaimana sosok kepemimpinan para tokoh tersebut, secara singkat bisa kita temukan pada bagian pendahuluan buku ini.
Mengiringi dinamika perjalanan bangsa ini, tidak berlebihan jika kita meyakini bahwa para pemimpin Muhammadiyah tersebut merupakan sosok yang dikirim Tuhan sebagai ekspresi sayangNya kepada Muhammadiyah.
Masing-masing tokoh pemimpin tersebut mampu menempatkan diri sebagai nahkoda yang hebat dalam mengendalikan laju kapal besar yang bernama Muhammadiyah ini.
Meski demikian, membaca judul buku ini tampak mengandung “kalimat majemuk setara” dengan makna yang “saling bertolak belakang”.
Kata hubung (konjungsi) “tapi…” tentu memberikan pemahaman bahwa dibalik “Tuhan sayang Muhammadiyah”, ada persoalan (tapi…) yang menarik dicermati.
Nach…. kata “tapi…” yang memberikan kesan ada kalimat yang belum selesai dan perlu dilanjutkan, seolah memberikan pesan bagi pembaca untuk melanjutkan.
Judul buku “Betapa Tuhan Sayang Muhammadiyah Tapi…” diambil dari judul utama pada bab pertama yang terdiri dari 10 sub bab.
Pada sub bab ke-10 bertemakan “Ujaran Kebencian”.
Pada sub bab pamungkas itulah, Saya serasa menemukan kejelasan bahwa meski “Tuhan Sayang Muhammadiyah”, sebagian warga Muhammadiyah belum (atau enggan?) menyadarinya.
Mungkin inilah sebagai lanjutan dari konjungsi “tapi….” tersebut. Polarisasi politik yang terjadi dan imbasnya sedikit merembet ke tubuh Muhammadiyah, secara nyata menampakkan adanya singgungan didalamnya.
Sikap bijak Pak AR yang macak “Semar” di hadapan Presiden Soeharto yang menampilkan diri sebagai sosok “Raja Jawa”, sikap Buya Syafii Maarif yang menorehkan garis merah yang tegas antara Muhammadiyah dan politik kepartaian — yang kemudian memberikan kesan Muhammadiyah tidak maksimal mendukung PAN yang didirikan Amien Rais —, juga sikap Haedar Nashir yang tidak demam gaya selebritis yang penuh dengan pencitraan.
Sebaliknya, Haedar justru selalu konsisten dengan kesederhanaannya. Sikap-sikap etis para elit Muhammadiyah ini pun terkadang disikapi berbeda oleh khalayak Muhammadiyah kebanyakan.
Namun, lagi-lagi, itulah keteladanan para tokoh Muhammadiyah yang dianugerahkan oleh Allah SWT.
Menurut penulis buku ini, Anwar Hudijono, menganalogikan dengan QS Ibrahim 24-25.
Para pemimpin yang diberkahi oleh Allah itupun mampu menjaga Muhammadiyah secara berkelanjutan.
Buku ini sangat menarik untuk dibaca, tidak hanya bagi kader dan warga Muhammadiyah.
Namun juga untuk khalayak umum yang sering menyalahpahami Muhammadiyah, dan kemudian memberikan stigma negatif terhadap Muhammadiyah.
Sebagai seorang (mantan) jurnalis kawakan, Anwar Hudijono mampu mengupasnya dengan sangat berkualitas.
Bukan hanya kontennya, namun juga bahasanya yang tidak membosankan.
Selain itu, kita sangat patut memberikan apresiasi kepada Anwar Hudijono yang masih bersemangat untuk menuntaskan penulisan buku ini, walau sempat terdera musibah stroke dan opname selama dua pekan.
Mudah-mudahan buku bisa membuka pandangan dan pikiran siapapun yang selama ini kurang memberikan penilaian positif terhadap Muhammadiyah.
Dan juga semakin menguatkan akar-akar ideologis bagi yang sudah bersungguh-sungguh dalam ber-Muhammadiyah.***






0 Tanggapan
Empty Comments