MI Muhammadiyah (MIM) 21 Kapas, Kabupaten Bojonegoro, mengambil langkah nyata dalam membantu korban bencana alam di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar), melalui kegiatan penggalangan donasi.
Aksi kemanusiaan ini menjadi wujud nyata empati siswa dan guru terhadap saudara-saudara yang terdampak musibah.
Selama tiga hari, siswa, guru, dan wali murid secara sukarela menyisihkan sebagian rezekinya untuk meringankan beban para penyintas bencana.
Dana yang terkumpul kemudian diserahkan melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Bojonegoro pada Sabtu (13/12/2025).
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh perwakilan siswa MIM 21 Kapas bersama Kepala Madrasah kepada Kepala Kantor Lazismu Kabupaten Bojonegoro, Sartono.
Sebelumnya, pihak sekolah telah mengeluarkan edaran resmi kepada seluruh siswa dan wali murid untuk berpartisipasi dalam pengumpulan dana kemanusiaan bagi para korban bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut.
Kegiatan ini disambut antusias oleh warga sekolah. Salah satu perwakilan siswa kelas V, Abid, menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya karena dapat turut ambil bagian dalam kegiatan kemanusiaan tersebut.
Ia berharap donasi yang telah dihimpun dapat memberikan manfaat dan membantu saudara-saudara yang tengah tertimpa musibah.
“Alhamdulillah, semoga donasi yang kami kumpulkan ini bisa bermanfaat dan membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujarnya.
MIM 21 Kapas berhasil menghimpun dana sebesar Rp6.585.000. Seluruh dana tersebut diserahkan kepada Lazismu Kabupaten Bojonegoro untuk selanjutnya disalurkan kepada para penyintas bencana melalui program-program kemanusiaan Muhammadiyah.
Pihak Lazismu Kabupaten Bojonegoro menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif MIM 21 Kapas beserta seluruh warga sekolah.
Donasi yang terkumpul dari madrasah tersebut akan digabungkan dengan bantuan dari berbagai pihak lainnya agar penyaluran bantuan dapat dilakukan secara lebih optimal dan merata.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter dan kepekaan sosial.
Melalui aksi nyata seperti ini, siswa diajak untuk memahami realitas sosial dan belajar berkontribusi sesuai dengan kemampuan mereka.
Dengan semangat gotong royong dan nilai ta’awun yang terus digelorakan, keluarga besar MIM 21 Kapas berharap bantuan yang diberikan, meskipun tidak besar, dapat menjadi penyemangat dan harapan bagi para penyintas bencana untuk bangkit dan menata kembali kehidupan mereka pascabencana. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments