Di bawah sengatan matahari yang membakar dan deru bising kendaraan, sebuah pemandangan inspiratif tersaji di jantung lalu lintas Kota Blitar. Puluhan pelajar SMP Muhammadiyah 1 Blitar dengan gagah berdiri, bukan untuk berdemo, melainkan untuk sebuah misi kemanusiaan yang mendesak, Sabtu (13/12/2025).
Berbekal kotak kardus sederhana bertuliskan “Peduli Bencana Aceh-Sumut” dan berseragam Hizbul Wathan (HW). Mereka menerobos panas di perempatan Plosokerep Kota Blitar, salah satu titik tersibuk di kota itu.
Aksi penggalangan dana ini, yang diinisiasi oleh Muhammadiyah Daerah Kota Blitar dan didukung penuh oleh sekolah. Aksi ini adalah wujud nyata dari komitmen mereka terhadap pendidikan karakter yang berempati.
Sejak pukul 08.00 WIB, para murid ini telah mengambil posisi, menjadikan perempatan Plosokerep — jalur vital yang menghubungkan pusat kota dan antarprovinsi — sebagai markas kepedulian mereka. Spanduk besar “Peduli Bencana Sumatra” menjadi penarik perhatian utama, seolah memanggil setiap hati yang melintas.
Kepekaan Sosial
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Kota Blitar, Siti Muhibbah S. Ag, menyatakan kebanggaan yang mendalam.
“Tujuan kami tidak hanya mencetak siswa cerdas akademik, tetapi juga siswa dengan kepekaan sosial tinggi. Bencana di Sumatra Utara dan Aceh adalah panggilan kemanusiaan. Adalah kewajiban kita untuk bergerak,” tegasnya.
Ia menjamin bahwa setiap sumbangan yang terkumpul akan disalurkan melalui jalur yang terpercaya: Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Sananwetan Kota Blitar. Ini untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas agar masyarakat Blitar yakin donasi mereka sampai kepada korban yang paling membutuhkan.
Meskipun harus berdiri berjam-jam di tengah polusi knalpot, raut lelah para pelajar seolah lenyap setiap kali ada uluran tangan dari pengendara. Bagi mereka, ini bukan sekadar tugas, melainkan pengalaman yang mengubah pandangan.
Raffa Febrian, siswa kelas VIII, berbagi perasaannya.
“Awalnya ada rasa malu, tapi begitu ingat saudara-saudara kita kehilangan segalanya di sana, rasa malu itu langsung hilang. Yang tersisa hanya semangat untuk membantu,” tuturnya.
Bahkan, Raffa rela menunda jadwal belajar kelompoknya demi terlibat dalam aksi mulia ini.
Hal senada diungkapkan Julian Rifqi Aditama dari kelas IX. Ia menemukan bahwa berinteraksi langsung dengan masyarakat adalah pelajaran berharga yang tak didapatkan di kelas.
“Banyak orang yang awalnya cuek, tapi setelah melihat spanduk dan usaha kami, mereka tergerak,” kata Rifqi.
Ia menambahkan, respons dari warga Blitar sungguh luar biasa hangat. Mereka terkejut melihat kedermawanan warga, di mana orang-orang tak melihat besaran nominal—mulai dari Rp 5.000 bahkan ada yang memberi Rp 100.000—namun murni dari niat untuk berbagi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments