Bulan Sya’ban bukan sekadar penanda menjelang Ramadan. Justru di bulan inilah “kurikulum Ramadan” pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw Ayat-ayat tentang puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–187, kata UAH, turun pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah—sebulan sebelum Ramadan diwajibkan.
Hal itu ditegaskan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam sebuah dalam ceramahnya. “Banyak orang mengira puasa hanya ayat 183 saja. Padahal Ramadan itu satu paket dari ayat 183 sampai 187. Ini kurikulum lengkap,” tegas UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
Dia menjelaskan, turunnya ayat-ayat puasa di bulan Sya’ban memberi ruang bagi Rasulullah saw untuk menyiapkan umat secara spiritual dan teknis sebelum memasuki Ramadan. Persiapan itu bukan hanya soal hukum, tetapi juga kesiapan hati.
“Dalam bahasa Arab, orang yang lapang hatinya menyambut sesuatu disebut marhaban. Maka Ramadan harus disambut dengan kelapangan jiwa. Siap menerima apa pun perintah Allah di dalamnya,” ujarnya.
UAH kemudian memaparkan tiga target utama Ramadan sebagaimana tergambar dalam rangkaian ayat tersebut: ketakwaan personal, ketakwaan sosial, dan karakter syukur.
1. Ketakwaan Personal: Menyiapkan Bekal Pulang
Target pertama Ramadan adalah membentuk ketakwaan personal. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “La’allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa).
Menurut UAH, ketakwaan personal berkaitan dengan bekal menuju kehidupan akhirat. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pasti meninggalkan dunia, namun belum tentu menyiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan setelahnya.
“Kita serius menyiapkan kehidupan dunia. Tapi ketika akan pindah ke alam barzakh, apa bekalnya? Harta tidak ikut, jabatan tidak ikut. Yang ikut hanya amal,” kata wakil keytua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu.
UAH lalu menjelaskan, setiap amal saleh—yang dalam Al-Qur’an disebut hasanah—akan diberi balasan minimal sepuluh kali lipat (QS Al-An’am: 160). Ramadan menjadi momentum luar biasa untuk melipatgandakan hasanah sekaligus menghapus dosa.
Mengutip hadis riwayat Bukhari, UAH menekankan bahwa siapa yang menunaikan Ramadan dengan iman dan penuh pengharapan kepada Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.
“Ramadan itu peluang emas. Satu malam tarawih dengan iman dan introspeksi, dosa berguguran. Bahkan jika bertepatan dengan Lailatul Qadar, nilainya lebih dari seribu bulan,” jelasnya.
Dia juga mengingatkan pesan Jibril AS yang diaminkan Rasulullah SAW: celaka seseorang yang bertemu Ramadan namun tidak mendapatkan ampunan Allah.
“Ramadan adalah momentum mengejar husnul khatimah. Kalau 30 hari tidak dimanfaatkan untuk tobat, kapan lagi?” ujarnya.
2. Ketakwaan Sosial: Kebaikan yang Menular
Selain memperbaiki hubungan dengan Allah, Ramadan juga dirancang untuk membentuk ketakwaan sosial. Hal ini tergambar dalam rangkaian ayat puasa hingga ayat 187.
“Ramadan bukan hanya soal ibadah pribadi. Kebaikan personal harus memancar ke lingkungan,” kata UAH.
Dia mencontohkan anjuran memberi makan orang berbuka puasa. Dalam hadis disebutkan, siapa yang memberi makan orang berpuasa akan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi pahala orang tersebut.
UAH mengingatkan bahwa infak dan sedekah memiliki skema prioritas. Berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat 215, prioritas pertama infak adalah orang tua, lalu kerabat terdekat, anak yatim, dan seterusnya.
“Jangan jauh-jauh dulu. Lihat orang tua. Sudahkah Ramadan kita membahagiakan mereka?” ujarnya.
Dia juga mendorong agar semangat berbagi tidak terbatas pada sesama Muslim. Menurutnya, berbagi kepada non-Muslim pun menjadi bagian dari dakwah sosial Ramadan.
“Kalau tetangga non-Muslim ikut merasakan indahnya Ramadan dari kita, itu bagian dari akhlak Islam,” katanya.
3. Karakter Syukur: Lulus dari Sekolah Ramadan
Target ketiga Ramadan adalah membentuk pribadi yang bersyukur, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185: “Wa la’allakum tasykurun” (agar kamu bersyukur).
UAH menjelaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan kemampuan menempatkan nikmat sesuai kehendak Allah.
“Lisan digunakan untuk kebaikan, itu syukur. Mata melihat yang halal, itu syukur. Harta digunakan di jalan yang benar, itu syukur,” katanya.
Dia menggambarkan Ramadan sebagai pelatihan intensif selama 30 hari. Jika seseorang terbiasa salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menahan amarah selama Ramadan, maka setelahnya akan muncul perubahan karakter.
“Tanda lulus Ramadan itu hati lebih tenang, ibadah lebih nikmat, dan ada kerinduan untuk terus dekat dengan Allah,” ujarnya.
Menurut UAH, ketenangan adalah fase awal perubahan. Setelah hati tenang, barulah Allah tanamkan hidayah yang lebih besar—baik berupa ilmu, kedudukan, maupun rezeki.
UAH mengingatkan makna Idulfitri sebagai momentum kembali kepada kesucian jiwa.
“Idulfitri bukan sekadar kembali makan dan minum. Itu simbol pulang membawa jiwa yang bersih. Seperti orang mudik yang bangga membawa bekal, kita pun harus bangga membawa takwa sebagai bekal pulang kepada Allah,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments