Tidak ada satu pun manusia yang suci dan bebas dari dosa, kecuali para nabi yang dijaga dengan sifat maksum. Kemuliaan manusia bukan terletak pada klaim kesalehan tanpa cela, melainkan pada kesadaran untuk bertobat dan kesungguhan merespons petunjuk Allah dengan memilih amal terbaik.
Penegasan tersebut disampaikan Ustaz Adi Hidayat (UAH) saat mengupas makna Surah Az-Zumar ayat 17–18, yang menggambarkan ciri manusia berakal (Ulul Albab): mendengar petunjuk Allah, lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ayat ini, kata UAH, menjadi fondasi penting dalam memahami hubungan manusia dengan dosa, tobat, dan hidayah.
UAH menjelaskan, sejak awal penciptaan, manusia telah dibekali dua potensi besar dalam dirinya, yakni fujur (kecenderungan pada keburukan) dan taqwa (kecenderungan pada kebaikan). Hal ini ditegaskan dalam Surah Asy-Syams ayat 7–8.
“Dalam diri manusia ada celah yang bisa dimanfaatkan setan untuk memprovokasi secara halus melalui was-was. Bisikan itu tidak terdengar di telinga, tapi terasa di hati,” jelas UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
Bisikan tersebut, lanjutnya, sering muncul dalam bentuk dorongan untuk berbohong, mengambil yang bukan hak, melamun berlebihan hingga lalai dari salat, atau membenarkan pelanggaran kecil yang berujung pada dosa besar.
Al-Qur’an menyebut kondisi ini sebagai nafsu yang diperintah kepada keburukan (an-nafs al-ammarah bis su’), sebagaimana termaktub dalam Surah Yusuf ayat 53.
UAH juga mengulas konsep thaghut, yakni segala sesuatu yang membuat manusia melampaui batas yang telah ditetapkan Allah.
Thaghut tidak selalu berupa berhala atau kekuasaan zalim, tetapi bisa hadir dalam bentuk yang tampak baik, seperti pekerjaan, hiburan, atau jabatan, ketika semua itu membuat seseorang lupa pada kewajiban ibadah.
“Bekerja itu baik, tapi kalau pekerjaan membuat kita meninggalkan salat, maka saat itu pekerjaan tersebut berubah menjadi thaghut,” tegasnya.
Dalam konteks ini, UAH mencontohkan kisah Fir’aun. Menurutnya, Al-Qur’an tidak bertujuan menjatuhkan Fir’aun dari kekuasaan, melainkan mengembalikan batas-batas moral agar ia tidak melampaui kedudukannya sebagai manusia.
UAH menekankan bahwa orang hebat bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang segera bertaubat ketika menyadari kesalahannya.
Fitrah manusia, kata dia, adalah bertobat, sedangkan setan tidak mengenal taubat karena kesombongan.
Dia mencontohkan kisah Nabi Adam as yang diizinkan Allah melakukan kesalahan, bukan untuk merendahkan derajatnya, melainkan untuk mengajarkan kalimat taubat kepada anak cucunya. Taubat Nabi Adam disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 37 dan Surah Al-A’raf ayat 23.
“Allah bahkan menyatakan secara tegas dalam Surah Al-Baqarah ayat 222 bahwa Dia sangat mencintai orang-orang yang bertobat,” ujar UAH.
Ciri Tobat yang Diterima
Menurut UAH, tobat yang diterima Allah memiliki tanda jelas, yakni semakin responsif terhadap perintah dan larangan-Nya. Ketika turun perintah salat, ia salat. Ketika ada perintah puasa, ia berpuasa. Tidak berhenti pada kewajiban, ia juga berusaha menempuh yang terbaik (ahsana).
“Salat fardu itu wajib, salat sunah itu pelengkap terbaik. Zakat itu kewajiban, infak dan sedekah adalah penyempurnanya,” jelasnya.
Inilah, kata UAH, karakter utama Ulul Albab, yaitu orang-orang yang tidak sekadar menjalankan kewajiban minimal, tetapi memahami inti dan hikmah ibadah sehingga selalu berusaha memilih kualitas terbaik.
UAH mengibaratkan Ulul Albab seperti inti kelapa. Di mana bagian paling dalam, paling lembut, dan paling bernilai.
Orang yang hanya menjalankan kewajiban dasar diibaratkan masih berada pada “kulit luar”, sementara Ulul Albab telah menembus hingga inti makna kehidupan.
Dalam konteks infak, misalnya, Ulul Albab tidak memberi dari sisa yang buruk, melainkan dari harta terbaik yang ia miliki. Prinsip ini ditegaskan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 215 dan 267.
“Kalau kita sendiri tidak suka menerima barang yang buruk, jangan berikan itu kepada orang lain atas nama sedekah,” tegas UAH.
Hidayah dan Penghalangnya
UAH juga menjelaskan bahwa hidayah memiliki banyak bentuk: hidayah untuk masuk Islam, bertaubat, meningkatkan amal saleh, hingga menjaga ketakwaan. Namun, ada sifat yang bisa menghalangi hidayah, yaitu kesombongan.
“Bukan karena Allah tidak memberi hidayah, tapi karena hati manusia tertutup oleh kesombongan,” ujarnya.
Dia mencontohkan iblis yang awalnya memiliki kedudukan mulia dengan nama Azazil, namun kehilangan seluruh kebaikannya karena sifat sombong, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 34.
UAH mengingatkan bahwa sifat riya sering menjadi pintu masuk kesombongan. Dari sekadar pamer, lalu tumbuh rasa bangga berlebihan, hingga akhirnya menutup pintu hidayah dalam hati.
UAH mengajak umat Islam untuk jujur melihat diri sendiri, menyadari potensi salah, menjauhi kesombongan, dan terus membuka pintu tobat.
Menurutnya, Islam hadir bukan untuk menghakimi manusia, tetapi mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai hamba yang terus belajar menjadi lebih baik.
“Selama hati masih mau tunduk, selama itu pula pintu hidayah dan tobat Allah terbuka,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments