Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengingatkan pentingnya mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan sebagai momentum menggugurkan dosa dan memperbanyak amal saleh.
Dalam khotbah Jumatnya, UAH menegaskan bahwa kehidupan sejatinya adalah misi mengumpulkan karya terbaik sebagai bekal kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Mengawali khutbah, UAH memuji Allah yang telah memuliakan Ramadan di atas bulan-bulan lainnya. Ia mengutip firman Allah, “Syahru ramadanalladzi unzila fihil Qur’an, hudan linnas wa bayyinatin minal huda wal furqan.”
Menurutnya, Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an yang berfungsi sebagai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang salah.
“Hidup ini ditetapkan oleh Al-Qur’an sebagai misi untuk mengumpulkan karya-karya positif, dedikasi rabbani yang terbaik. Itulah bekal kebanggaan kita ketika pulang menghadap Allah,” ujar UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
UAH menjelaskan, apa pun profesi seseorang—ustaz, guru, pebisnis, birokrat, pegawai, maupun petani—semuanya adalah sarana untuk menampilkan amal saleh yang diiringi iman. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit kesempatan hidup justru terjerumus pada kesalahan.
“Mata yang seharusnya menatap yang saleh sering kali digunakan untuk melihat yang salah. Lisan yang semestinya mengucap yang baik justru mengeluarkan kata-kata yang keliru,” tegas wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu.
UAH mengingatkan ayat dalam Surah Al-Mulk ayat 2, bahwa Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang terbaik amalnya.
Karena itu, ketika ada yang wafat, umat Islam diajarkan untuk menyebutkan kebaikan-kebaikannya agar menjadi motivasi bagi yang hidup.
“Viralkan kebaikan orang yang wafat di antara kita. Itu menjadi penyemangat untuk mengumpulkan kebaikan serupa atau bahkan lebih,” katanya.
Menurut UAH, ayat tersebut ditutup dengan sifat Allah sebagai Maha Pengampun karena banyak manusia yang justru memperbanyak kesalahan. Namun Allah tetap membuka pintu taubat bagi siapa saja yang ingin kembali.
Dia kemudian mengutip Surah Az-Zumar ayat 53, “La taqnatu mir rahmatillah, innallaha yaghfirudz dzunuba jami’a.” UAH menegaskan bahwa tidak boleh ada keputusasaan dari rahmat Allah.
“Sepanjang dia mau kembali, Allah jemput dengan hidayah. Ketika rahmat Allah digenggam, semua salah itu berpotensi digugurkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, UAH menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ramadan adalah bulan mengejar rahmat Allah, mencari petunjuk, penjelasan, dan pembeda dalam kehidupan.
“Ramadan bukan hanya latihan menahan makan dan minum. Ramadan adalah bulan menemukan hudan, bayyinat, dan al-furqan. Kita belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak,” jelasnya.
UAH menambahkan, di antara dua belas bulan, Allah menghadirkan satu bulan penuh rahmat yang diturunkan siang dan malam, yakni Ramadan. Karena itu, persiapan menyambutnya menjadi sangat penting.
Mengutip hadis riwayat Imam at-Tirmidzi nomor 3451, UAH menyampaikan doa yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang Ramadan: “Allahumma ahillahu ‘alaina bil-yumni wal iman, was-salamati wal islam, rabbi wa rabbukallah.”
“Doa ini memohon agar kita disiapkan dengan keberkahan, ketenangan, keselamatan fisik, dan kekuatan iman. Jangan sampai mengaku beriman, tapi belum siap menerima Ramadan,” katanya.
Menurut dia, ada orang yang sehat fisiknya tetapi minim amalnya. Ada pula yang lapang hatinya namun malas beribadah. Karena itu, umat Islam perlu memohon kekuatan untuk menikmati Ramadan dengan amal saleh.
“Sedang baca Al-Qur’an tak terasa waktu berbuka datang. Sedang salat dan berdoa tiba-tiba subuh datang. Itulah keindahan Ramadan,” ungkapnya.
UAH juga menekankan bahwa Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Ia menyinggung kebiasaan para ulama terdahulu yang memaksimalkan interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan.
“Jangan sampai Ramadan datang, tapi kita tidak membaca Al-Qur’an. Cari petunjuknya, cari pedomannya, cari furqannya,” pesannya.
Di akhir khutbah, UAH mengajak jamaah mempersiapkan diri sebaik-baiknya karena boleh jadi Ramadan yang akan datang adalah Ramadan terakhir dalam kehidupan.
“Ramadan adalah peluang menggugurkan dosa-dosa dan kesalahan kita. Mari siapkan fisik, akal, dan jiwa untuk menyambutnya dengan penerimaan terbaik,” pungkasnya.
Di ujung ceramah, UAH menutip dengan doa agar Allah menyampaikan umat Islam kepada Ramadan dalam keadaan penuh keberkahan, mengampuni dosa-dosa, serta menjadikan bulan suci sebagai momentum perubahan menuju pribadi yang lebih bersih dan mulia di hadapan-Nya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments