
Oleh Soegianto @pengamat AI
PWMU.CO- Kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan (AI) seperti ChatGPT, Claude, Copilot, Gemini, hingga perangkat generatif lainnya telah mengubah secara mendasar cara mahasiswa memperoleh, mengolah, dan menyajikan informasi.
Di satu sisi, teknologi ini menghadirkan peluang pembelajaran yang luar biasa, namun di sisi lain, ia mengguncang fondasi sistem evaluasi pendidikan tinggi—terutama metode ujian tradisional yang selama ini menjadi standar utama penilaian kemampuan mahasiswa.
Satu, Dilema Ujian Tradisional di Era AI
Sebagian besar kampus masih menggunakan ujian esai, pilihan ganda, dan tugas makalah rumah sebagai cara mengevaluasi mahasiswa. Padahal, di era AI, ujian seperti ini sangat mudah diselesaikan hanya dengan meminta bantuan teknologi. Bahkan, mahasiswa bisa menghasilkan jawaban esai ilmiah dalam hitungan detik tanpa pemahaman mendalam terhadap materi.
Contoh Kasus:
Seorang mahasiswa bisa menyelesaikan tugas akhir 2000 kata dengan ChatGPT tanpa benar-benar membaca buku rujukan.
Soal pilihan ganda berbasis hafalan dapat dijawab AI dengan akurasi tinggi.
Hal ini menimbulkan krisis autentisitas: Apakah nilai yang didapat benar-benar mencerminkan pemahaman mahasiswa, atau hasil manipulasi teknologi?
Dua, Bagaimana Seharusnya Ujian Kampus Berubah?
a. Ujian Berbasis Proyek dan Kolaborasi
Ujian harus digeser dari sekadar output kognitif ke proyek berbasis masalah nyata (problem-based project). Mahasiswa harus diberikan studi kasus yang membutuhkan sintesis, kreativitas, dan justifikasi personal.
Contoh:
Mahasiswa Fisika diminta membuat simulasi fenomena dengan penjelasan logika dan kode program.
Mahasiswa Sastra diminta menulis esai reflektif berdasarkan pengalaman pribadi yang terhubung dengan tema-tema karya sastra.
b. Penilaian Proses, Bukan Hanya Produk
AI bisa menghasilkan produk akhir, tetapi tidak bisa menggantikan proses belajar yang direkam secara bertahap. Dosen harus menilai dari: Diskusi kelas, Log perubahan dokumen, Refleksi belajar mingguan, dan Versi-versi revisi tugas.
c. Ujian Praktik Langsung dan Live Presentation
Mahasiswa harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya dalam sesi presentasi langsung, tanya jawab terbuka, atau praktik di lapangan. Di sinilah pemahaman dan orisinalitas akan lebih tampak dibanding hasil tulisan.
d. Integrasi Etika dan Literasi AI
Mahasiswa harus dilatih untuk menggunakan AI secara etis dan tidak sebagai alat plagiarisme. Ujian bisa mengandung elemen: Jelaskan bagaimana kamu menggunakan AI dalam tugas ini, dan Apa yang kamu ubah dari hasil AI dan mengapa?
Tiga, Peran Dosen di Era AI: Dari Penilai Menjadi Fasilitator dan Evaluator Otentik
Dosen di era AI bukan hanya pemberi nilai, melainkan:
a. Kurator dan Fasilitator
Dosen harus merancang pengalaman belajar yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu prompt AI. Mereka mengajak mahasiswa masuk ke dunia nyata—menyelesaikan persoalan sosial, eksperimen, coding, observasi, dll.
b. Penguji Keaslian Pemikiran
Lewat diskusi tatap muka, review karya bertahap, dan refleksi mahasiswa, dosen bisa menilai mana yang hasil pemikiran sendiri dan mana yang sepenuhnya diserahkan ke mesin.
c. Mentor Penggunaan AI yang Etis
Dosen perlu mendampingi mahasiswa dalam memahami batasan dan potensi AI, serta bagaimana menggunakan AI untuk memperdalam, bukan menggantikan, proses belajar.
Empat, Transformasi Sistem Pendidikan Kampus Secara Umum
a. Kurikulum Adaptif dan Kontekstual
Kurikulum harus dirombak agar tidak hanya mengejar content delivery, tapi mengarahkan mahasiswa pada penguasaan kompetensi berpikir, kreativitas, dan kolaborasi.
b. Penilaian Berbasis Portofolio
Alih-alih satu kali ujian, mahasiswa bisa dinilai lewat portofolio berisi proyek, video presentasi, rekaman refleksi, dan bukti proses belajar.
c. Penekanan pada Soft Skill dan Meta Learning
Karena informasi kini mudah dicari, mahasiswa harus dibimbing mengembangkan kemampuan: Belajar mandiri (self-regulated learning), Berpikir kritis dan reflektif, dan Etika digital dan penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Saatnya Mendidik Manusia, Bukan Mengejar Nilai
AI bukan musuh pendidikan, tapi cermin yang menunjukkan bahwa sistem lama sudah tidak cukup. Dunia kampus harus bergerak dari ujian berbasis hafalan ke evaluasi berbasis autentisitas. Tujuannya bukan sekadar menghindari kecurangan, melainkan mencetak lulusan yang berpikir, berkarya, dan bertanggung jawab—meski hidup berdampingan dengan mesin. (*)
Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan






0 Tanggapan
Empty Comments