Godaan gula itu tidak pernah datang dengan teriakan. Ia hadir diam-diam, rapi, harum, dan sah. Justru di situlah ia paling menakutkan—terutama bagi orang-orang yang sedang “puasa gula”, seperti saya.
Pantangannya sebenarnya sederhana: kopi tanpa gula, teh tanpa gula, minuman apa pun tanpa gula. Lalu bertambah: menjauhi roti, bubur manis, kue-kue. Dan puncaknya—menghindari nasi dan seluruh keluarga karbohidrat bertepung: mie, olahan tepung, dan sejenisnya. Mudah diucapkan, berat dijalani.
Di rumah atau tempat kerja, godaan masih bisa ditawar. Lingkungan sudah akrab, pilihan makanan terbatas. Tapi semua berubah ketika harus menginap di hotel. Sarapan hotel bukan sekadar makan pagi. Ia adalah festival rasa yang jarang hadir dalam keseharian—dan justru karena itu terasa sayang jika dilewatkan.
Kamis hingga Sabtu itu, saya menginap di Hotel Aston Bojonegoro bukan untuk liburan. Saya sedang mengawal kegiatan Baitul Arqom Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Sumberrejo, Bojonegoro, (23-24/1/2026). Tugas menuntut fokus, stamina, dan tentu saja—kesehatan.
Jumat pagi, setelah Subuh, saya memilih keluar hotel. Jalan kaki menuju Alun-Alun Bojonegoro. Tiga putaran. Hampir satu jam. Keringat keluar, nafas teratur, kepala terasa lebih ringan. “Alhamdulillah,” gumam saya. Setidaknya tubuh sudah diajak bekerja sebelum berhadapan dengan ujian berikutnya.
Beragam Jenis Makanan
Ujian itu menunggu rapi di ruang restoran hotel. Begitu pintu terbuka, kepala terasa sedikit pening. Bubur tersaji lengkap: bubur ayam, bubur mutiara, bubur sumsum.
Bergeser sedikit, nasi tampil percaya diri—nasi putih, nasi goreng, nasi briyani—ditemani lauk ayam, ikan olahan, kentang goreng, mie. Makanan-makanan yang hampir dua bulan ini saya jauhi, kini berbaris tanpa rasa bersalah.
Rak kue adalah titik paling rawan. Roti manis, roti cokelat, roti warna-warni. Dulu, sebelum sarapan utama, saya biasa “pemanasan” dengan beberapa potong kue. Sekarang, saya hanya bisa menatap.
Tidak jauh dari situ, mie rebus—menu legendaris anak kemah—naik kelas karena disajikan hotel. Di sebelahnya dimsum, lalu telur: mata sapi satu kuning, dua kuning, omelet. Minuman? Kopi, teh, wedang uwuh, jus sirsak, semangka, jambu. Surga kecil bernama sarapan.
Di titik ini, saya harus berpikir keras. Saya mengambil bubur ayam. Satu entong kecil. Cukup. Ditambah ayam dan telur. Konsekuensinya jelas: tidak boleh menyentuh nasi lagi. Saya lanjut ke buah—nanas, melon, semangka, pepaya—dimakan apa adanya, tanpa saus, tanpa tambahan apa pun.
Kentang saya ambil sedikit. Masih lebih ramah dibanding nasi. Ditambah sayur, sop tahu labu, ayam, dan ikan. Perut kenyang. Kepala masih waras. Nasi goreng dan nasi briyani tetap mengusik pikiran. Tapi saya berpaling.
Kopi tetap saya ambil. Tanpa gula. Berat, tapi perlu. Tanpa kopi, badan terasa lemas. Gula? Tidak. Saya sudah terlalu “manis” untuk ditambah lagi.
Telur mata sapi dua kuning saya nikmati pelan-pelan, sedikit saus. Lalu saya minta dua telur rebus—bekal jika lapar datang lebih cepat. Strategi bertahan hidup versi puasa gula. Dua hari. Dua kali sarapan. Godaan yang sama. Pilihan yang harus dijaga.
Menurunkan gula darah bukan kerja sehari. Ia adalah perjuangan sunyi, penuh kompromi yang harus ditolak, dan kesadaran untuk tahu diri. Angka di bawah 150 bukan sekadar hasil tes—ia adalah buah dari konsistensi.
Dan kini, setelah semua itu, satu pertanyaan terus terngiang di kepala saya: apakah puasa gula yang saya jalani ini sudah cukup membantu menurunkan kadar gula—atau saya masih harus berjuang lebih keras lagi? (*)





0 Tanggapan
Empty Comments