Suasana ruang praktik Teknik Otomasi Industri (TOI) SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen tampak serius namun penuh optimisme. Hal itu terlihat dari raut wajah para siswa kelas XII yang sedang mengikuti Uji Kompetensi Keahlian (UKK).
Kegiatan UKK tersebut dilaksanakan selama dua hari, Jumat hingga Sabtu (6–7/3/2026), mulai pukul 07.00 WIB di Bengkel SKE dan Bengkel HMI lantai dua Kampus 1 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.
UKK bertujuan mengukur pencapaian kompetensi siswa SMK yang telah menyelesaikan proses pembelajaran pada Konsentrasi Keahlian Teknik Otomasi Industri (TOI). Pelaksanaan UKK dilakukan melalui kerja sama antara sekolah dan dunia industri agar kompetensi yang diuji selaras dengan kebutuhan industri.
Pada pelaksanaan UKK tahun ini, sekolah bekerja sama dengan PT Pabrik Gula Krebet Baru Bululawang sebagai penguji eksternal sekaligus mitra tempat praktik kerja lapangan (PKL) siswa jurusan TOI. Selain diuji oleh penguji eksternal, siswa kelas XII TOI juga didampingi penguji internal, yaitu guru pengampu mata pelajaran kejuruan.
Penyelenggaraan UKK di jurusan TOI berorientasi pada capaian kompetensi lulusan SMK sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) jenjang dua. Kompetensi tersebut mencakup pengoperasian dan pemeliharaan sistem otomasi, kontrol dasar, robotika, serta keselamatan dan lingkungan kerja.
Dalam pelaksanaannya, UKK TOI menggunakan pola UKK Mandiri antara sekolah dan mitra industri dengan instrumen ujian yang disusun oleh pemerintah pusat. Pada UKK Tahun Pelajaran 2025/2026 ini, jurusan TOI menggunakan tiga paket soal, yaitu pengoperasian PLC dan sistem SCADA, pengoperasian sistem pneumatik dan hidrolik, serta pengoperasian sistem kelistrikan otomasi industri.
Paket soal pertama adalah pengoperasian PLC dan sistem SCADA pada otomasi industri. Para siswa terlihat fokus di depan panel kontrol dan komputer yang terhubung dengan modul PLC. Mereka memprogram rangkaian logika, menguji input dan output, serta memantau proses melalui tampilan sistem SCADA di layar monitor yang menampilkan berbagai indikator proses yang harus dikendalikan dengan tepat.
Penguji dari industri mengamati dengan teliti bagaimana siswa membaca diagram, menjalankan program, serta mengatasi kesalahan yang muncul selama proses pengujian.
Paket soal kedua adalah pengoperasian peralatan dan sistem pneumatik serta hidrolik pada otomasi industri. Di area praktik terlihat berbagai komponen seperti silinder, katup, kompresor, dan selang yang tersusun menjadi rangkaian sistem.
Para siswa diminta merangkai sistem, mengatur aliran udara maupun fluida, serta memastikan rangkaian bekerja sesuai skenario yang telah ditentukan. Beberapa siswa juga terlihat berdiskusi dengan penguji saat menjelaskan prinsip kerja rangkaian yang mereka buat.
Sementara itu, paket soal ketiga adalah pengoperasian peralatan dan sistem kelistrikan otomasi industri. Pada bagian ini, siswa diuji kemampuannya dalam membaca diagram kelistrikan, melakukan pengkabelan, serta mengoperasikan panel kontrol listrik.
Mereka harus memastikan setiap komponen seperti kontaktor, relay, motor listrik, serta perangkat pengaman listrik dapat bekerja dengan baik dan aman. Ketelitian menjadi kunci utama, karena kesalahan kecil pada sambungan kabel dapat memengaruhi seluruh sistem.
Sepanjang ujian berlangsung, suasana ruang praktik dipenuhi keseriusan dan konsentrasi tinggi. Para penguji, baik dari industri maupun internal sekolah, memberikan perhatian pada aspek keterampilan teknis, keselamatan kerja, serta kemampuan siswa dalam menjelaskan proses kerja yang dilakukan.
Kehadiran penguji dari dunia industri memberikan pengalaman nyata bagi siswa sekaligus menjadi tolok ukur bahwa kompetensi yang dimiliki telah mendekati standar dunia kerja.
“Peralatan praktik siswa di Jurusan Teknik Otomasi Industri sudah selaras dengan kompetensi yang dibutuhkan industri. Mulai dari tenaga pendidik yang berpengalaman, media praktik yang modern dan terus diperbarui, hingga bengkel yang dipisahkan sesuai jenis kompetensi. Hal ini membuat proses pembelajaran di TOI sangat optimal untuk mencapai standar kompetensi industri,” ujar Doni Tover, staf instalasi (instrument) KB 1 PG Krebet Baru Bululawang yang menjadi penguji UKK.
Ia menambahkan bahwa dari proses UKK yang berlangsung, kemampuan siswa TOI sudah terlihat mendekati kompeten meskipun proses ujian masih berjalan.
Melalui kegiatan Uji Kompetensi Keahlian ini, para siswa tidak hanya diuji kemampuan teknisnya, tetapi juga kepercayaan diri, ketelitian, serta kesiapan menghadapi dunia industri yang sesungguhnya. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten, profesional, dan siap bersaing di bidang otomasi industri. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments