PWMU.CO – Aroma kunyit, daun asam muda, dan gula aren tercium dari sebuah rumah di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Kaliwates, Kabupaten Jember. Di tempat inilah Bunda Siska, produsen jamu cair tradisional, setiap hari meracik minuman warisan leluhur dengan cara yang masih manual.
Proses pembuatan jamu dilakukan mulai dari memisahkan sari dari ampas hingga mengemas ke dalam botol. Semua dikerjakan oleh tiga karyawan dengan peralatan sederhana. Kondisi ini membuat kualitas dan kapasitas produksi terbatas. Pemasaran pun hanya dilakukan melalui gerobak keliling, sehingga konsumen mayoritas berasal dari lingkungan sekitar.
Padahal minat masyarakat terhadap jamu cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 mencatat, 59,12 persen penduduk Indonesia pernah mengonsumsi jamu. Permintaan ini belum sepenuhnya terpenuhi, termasuk di Jember.
Melihat potensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Jember (UM Jember) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) mendampingi Bunda Siska agar usahanya berkembang. Tim PKM diketuai Dr Abadi Sanosra SE MM, bersama Ir Kosjoko ST MT, dan Ir Iskandar Umarie.
“Selama ini proses produksi masih tradisional, sehingga kurang efisien dan kualitasnya belum optimal. Kami ingin membantu agar lebih modern, higienis, dan mampu memenuhi permintaan pasar,” ujar Abadi.
Pendampingan dilakukan melalui pelatihan teknologi pengolahan jamu untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi, serta pelatihan strategi pemasaran termasuk pemanfaatan media digital agar penjualan tidak hanya di sekitar rumah produksi.
Bahan baku jamu Bunda Siska berasal dari hasil pertanian lokal seperti kunyit, daun asam muda, buah asam, gula aren, gula pasir, dan garam. Menurut Abadi, ini menjadi keunggulan yang dapat dipertahankan untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus mendukung perekonomian daerah.
Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui LLDIKTI Wilayah VII.
“Harapan kami, jamu tradisional lokal tetap lestari, tapi dikelola secara modern dan punya daya saing tinggi,” pungkas Abadi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments