Seluruh perjalanan hidup manusia tidak lepas dari ujian Allah SWT. Baik nikmat maupun musibah, keduanya merupakan sarana untuk menguji kualitas keimanan dan kesyukuran seorang muslim.
“Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang terbaik amalnya,” ujar Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni.
Syafiq mengajak untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah sekaligus bersabar dalam menghadapi cobaan.
Menurut Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu, seorang mukmin harus tetap konsisten dalam kebaikan, membawa kemaslahatan, dan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar.
Ujian hidup seharusnya tidak melemahkan, melainkan memperkuat keimanan serta mendorong setiap muslim untuk beramal saleh dalam kondisi apa pun.
“Apakah kita menjadi orang yang syukur atau kufur, semuanya bergantung pada bagaimana kita menyikapi kehidupan yang penuh dengan tantangan. Inilah ukuran kualitas seorang mukmin,” tegas Syafiq seperti dikutip di kanal Youtube Masjid Akbar Moed’Har Arifin.
Mantan ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim itu menegaskan, kebenaran sejati hanya ada pada Islam.
Al-Qur’an telah menegaskan inna ad-dina ‘indallahi al-Islam (sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam).
Karena itu, keyakinan kepada Islam tidak boleh berhenti pada lisan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perbuatan.
Dia mengingatkan bahwa umat Islam pernah mengalami masa kejayaan ketika menjadi pelopor peradaban.
Saat itu, umat Islam berhasil menunjukkan ketinggian budaya, kedisiplinan hidup, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Islam pada zamannya mendorong lahirnya ilmuwan besar, penemuan-penemuan penting, dan lembaga pendidikan yang maju. Namun, kondisi itu berubah ketika umat Islam terjajah bangsa Barat,” katanya.
Tugas Umat Islam Kini
Syafiq A. Mughni menegaskan, tantangan umat Islam masa kini adalah mengembalikan keunggulan ajaran Islam dalam peradaban dunia. Ada dua hal penting yang harus dilakukan:
1. Menuntut Ilmu secara Berkelanjutan
Umat Islam didorong untuk rajin mempelajari ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari al-ayat al-qauliyah (Al-Qur’an) maupun al-ayat al-kauniyah (fenomena alam semesta).
Menurut dia, sikap malas menuntut ilmu adalah tanda kelemahan iman.
“Al-Qur’an mengecam orang yang tidak menggunakan akalnya. Sebaliknya, Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dan memberi manfaat bagi sesamanya,” tegasnya.
2. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah
Persaudaraan sesama muslim menjadi kunci kebangkitan Islam. Syafiq menyesalkan masih adanya perpecahan di kalangan umat Islam, baik antarnegara maupun antarkelompok, yang lebih mementingkan kepentingan sendiri.
Padahal, banyak umat Islam di berbagai belahan dunia seperti Palestina, Myanmar, India, dan Filipina Selatan yang mengalami penderitaan.
“Nabi SAW bersabda, siapa yang tidak peduli pada nasib umat Islam, maka ia bukan bagian dari umat Islam,” ucapnya.
Syafiq menegaskan, Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi ummatan wasathan, umat pilihan, adil, dan terbaik.
Karena itu, umat Islam harus membangun hidup yang bersih, tertib, santun, dan penuh kasih sayang, bukan hanya terhadap sesama muslim, tetapi juga terhadap manusia lain tanpa memandang suku, bangsa, atau agama.
“Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam,” cetusnya
Syafiq menekankan pentingnya terus berdoa, sebagaimana setiap muslim membaca ihdinas sirathal mustaqim dalam shalatnya.
“Apa yang kita sangka baik belum tentu baik di sisi Allah. Karena itu, kita mohon kepada-Nya agar setiap ucapan, perbuatan, dan keyakinan kita senantiasa sesuai dengan kehendak-Nya,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments