Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pariwisata. Salah satunya melalui kegiatan peningkatan kemampuan manajerial bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-Kabupaten Gresik.
Program pemberdayaan ini merupakan bagian dari kemitraan dengan masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Kegiatan berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu (16–17/09/2025), dengan tema “Peningkatan Kompetensi Kelompok Sadar Wisata melalui Strategi Komunikasi Pemasaran Pull and Push Berbasis Wisata untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat Kabupaten Gresik.”
Ketua Pelaksana Kegiatan, Heru Baskoro, MM, menyampaikan bahwa potensi pariwisata di Gresik sangat besar jika dikelola secara tepat. “Kegiatan pariwisata yang dikembangkan di desa atau kelurahan mampu memberikan dampak signifikan bagi peningkatan ekonomi warga setempat,” ungkapnya, Rabu (17/09/2025).
Acara yang dihadiri 50 perwakilan Pokdarwis se-Gresik ini dikoordinasi langsung oleh Ketua Pokdarwis Gresik, Imam Wahyu. Para peserta dibekali strategi pemasaran pull and push yang dinilai relevan di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Heru memaparkan, berdasarkan data Kementerian Pariwisata per Maret 2025, kunjungan wisata di Jawa Timur menurun 2,46 persen. Jumlah wisatawan nusantara dari Jawa Timur juga turun 7,99 persen. “Kondisi ini sama dengan Jawa Tengah, sedangkan Jawa Barat justru meningkat signifikan. Penurunan juga dialami sejumlah desa wisata di Gresik,” jelas pria asal Balungpanggang ini.
Penurunan wisata juga dirasakan oleh Pokdarwis Desa Wisata Lontar Sewu Hendrosari. Aristoteles, pengelola sekaligus pensiunan PT PAL, menuturkan bahwa jumlah kunjungan pada akhir pekan anjlok dari 3.000 wisatawan menjadi hanya sekitar 600 orang. “Karyawan kami juga terdampak. Dari sebelumnya 120 orang kini tinggal 46 orang,” keluhnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Dr Sukaris, SE, MSM, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMG, menekankan pentingnya strategi push and pull dalam pemasaran wisata. “Strategi push berarti jemput bola ke konsumen, sedangkan pull menarik konsumen dengan iklan dan promosi agar mereka datang. Untuk hasil maksimal, keduanya bisa digabungkan sehingga tercipta sinergi,” jelas alumnus doktoral Manajemen Unair ini.
Sukaris menambahkan, strategi push efektif untuk produk populer dan penetrasi pasar baru melalui jaringan distribusi yang kuat, sedangkan strategi pull berfungsi membangun permintaan konsumen langsung melalui promosi yang terarah. “Dengan kombinasi keduanya, pengelola desa wisata bisa lebih tangguh menghadapi tantangan,” tandasnya. (*)
Aries Kurniawan






0 Tanggapan
Empty Comments