Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

UMKM Bertahan Puluhan Tahun Tanpa Catatan Keuangan, Kuat Tapi Rentan

Iklan Landscape Smamda
UMKM Bertahan Puluhan Tahun Tanpa Catatan Keuangan, Kuat Tapi Rentan
Proses produksi knalpot. (Nia Utami/PWMU.CO)
pwmu.co -
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sering disebut sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun ketahanan ini sering dianggap bukti keberhasilan, padahal tanpa pencatatan keuangan, usaha justru berjalan dalam ketidakpastian.
Fenomena ini ditemukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) saat melakukan observasi pada dua UMKM di dusun Mlati, Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.
Terdapat sektor manufaktur dan kuliner menunjukkan bagaimana usaha bisa bertahan lama, tetapi sekaligus menyimpan risiko tersembunyi.
Sebuah usaha knalpot rumahan telah bekerja sama dengan PT Astra Honda Motor (AHM) sejak tahun 2008. Modal awal produksi bukan berasal dari dana tunai, melainkan bahan baku knalpot yang disediakan langsung oleh mitra.
Sistem ini membuat pelaku usaha tidak terlalu terbebani modal di awal. Harga jual knalpot ke mitra berkisar di angka Rp500.000 per unit.
Dalam proses produksinya, satu lembar plat berukuran 120 x 240 cm dengan ketebalan 0,8 mm dapat menghasilkan sekitar sepuluh knalpot.
Seluruh alat produksi dibuat secara mandiri, dengan proses pengerjaan yang masih mengandalkan keterampilan dan pengalaman.
Namun, ketika produk dijual bebas ke luar kerja sama, izin produksi menjadi syarat utama yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Menariknya, seluruh perhitungan biaya dilakukan secara perkiraan. Harga satuan knalpot di luar kerja sama bisa berada di kisaran Rp200.000, sementara biaya produksi dipukul rata Rp100.000.
Tidak ada pencatatan rinci mengenai biaya bahan, tenaga kerja, maupun penyusutan alat dan bahannya. Akibatnya, pelaku usaha tidak memiliki gambaran pasti mengenai laba yang sebenarnya diperoleh.
Kondisi serupa juga ditemukan pada UMKM kuliner milik Ibu Ertik yang memproduksi aneka kue tradisional seperti donat, kue landak, onde–onde, apem selong, risol, pastel, hingga bikang mawar.
Usaha ini berawal dari hobi dan dijalankan secara autodidak sejak anak beliau masih TK hingga kini SMA. Produksi hanya dilakukan berdasarkan pesanan, dengan jumlah minimal 25 pcs dan jumlah karyawan yang menyesuaikan banyaknya order.
Harga jual ditentukan bukan dari perhitungan biaya produksi secara sistematis, melainkan dari tingkat kesulitan pembuatan dengan prinsip “yang penting balik modal”.
Harga kue dimulai dari Rp1.600 per pcs, dengan tambahan kemasan Rp700 untuk kotak kecil dan kemasan Rp1.000 untuk kotak besar. Metode pembayaran yang digunkan pun sederhana, yakni tunai dan transfer.
Proses produksi dimulai sejak subuh dan bisa berlangsung hingga pukul sebelas malam, tergantung jumlah pesanan.
Donat menjadi produk paling laris, namun hingga saat ini usaha tersebut belum memiliki sertifikasi produksi pangan.
Dari dua gambaran UMKM tersebut, terlihat bahwa kekuatan utama usaha kecil terletak pada keterampilan, pengalaman, dan jaringan. Namun, lemahnya pencatatan keuangan membuat pelaku usaha sulit mengetahui secara pasti apakah usaha mereka benar – benar untung atau sekedar berputar untuk menutupi biaya.
Dalam konsep akuntansi sederhana, pencatatan biaya produksi, pemisahan uang pribadi dan usaha, serta perhitungan harga pokok produksi merupakan fondasi penting untuk keberlanjutan usaha.
Tanpa catatan tersebut, UMKM berisiko salah menentukan harga, sulit berkembang, dan rentan saat menghadapi perubahan pasar atau permintaan izin usaha.
Pendampingan UMKM seharusnya tidak hanya berfokus pada pemasaran dan peningkatan omzet, tetapi juga pada literasi pencatatan keuangan sederhana yang mudah diterapkan.
Dengan memahami angka-angka usahanya sendiri, pelaku UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mengambil keputusan yang lebih tepat untuk berkembang.(*)
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡