Di tengah percepatan digitalisasi ekonomi yang menuntut pelaku usaha beradaptasi, UMKM di desa masih kerap tertinggal dalam pemanfaatan teknologi dan perluasan akses pasar.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program penguatan penjualan berbasis digital bagi pelaku UMKM di Desa Beji, Kota Batu.
Tak hanya sebatas sosialisasi, mereka juga menyiapkan pendampingan berkelanjutan serta merintis pembentukan Klinik UMKM sebagai ruang konsultasi terbuka bagi masyarakat.
Program ini lahir dari besarnya potensi lokal Desa Beji yang dikenal dengan produk olahan tempe seperti tempe mentah, abon tempe, keripik tempe, hingga batik tempe.
Selain itu, terdapat pula produk jamu, mie tempe, dan susu kedelai yang menopang perekonomian warga. Sayangnya, mayoritas pelaku usaha masih mengandalkan pemasaran konvensional dengan jangkauan terbatas.
Ketua Tim KKN Desa Beji, Muhammad Fachri, mahasiswa Kesejahteraan Sosial angkatan 2023, menyampaikan bahwa fokus utama kegiatan adalah memperkuat digital branding agar produk UMKM mampu menembus pasar yang lebih luas.
Menurutnya, potensi usaha di Desa Beji cukup besar, namun perlu didukung strategi pemasaran yang lebih modern.
Karena itu, tim KKN membangun fondasi mulai dari penguatan identitas merek hingga pendampingan penggunaan media sosial.
Kegiatan diawali dengan pelatihan digital marketing yang diikuti sejumlah pelaku UMKM. Instagram dikenalkan sebagai platform promosi yang mudah digunakan dan memiliki jangkauan luas.
Sebelum mengoptimalkan media sosial, mahasiswa terlebih dahulu memberikan pelatihan fotografi produk guna meningkatkan kualitas visual promosi.
Materi pelatihan meliputi teknik pengambilan gambar, pengaturan pencahayaan sederhana, serta pembuatan video promosi.
Warga diajak memahami pentingnya tampilan visual dalam membangun kepercayaan konsumen di ranah digital.
Pendampingan dilakukan secara bertahap, baik melalui diskusi kelompok maupun kunjungan langsung ke tempat usaha.
Saat ini, enam UMKM aktif terlibat, antara lain produsen batik tempe, keripik tempe, tempe mentah, mie tempe, dan susu kedelai.
Meski masih dalam tahap pelaksanaan, program ini mulai menunjukkan dampak positif berupa meningkatnya semangat dan kesadaran pelaku usaha untuk membangun branding yang lebih profesional.
Untuk menjaga keberlanjutan program, mahasiswa menggagas pembentukan Klinik UMKM Desa Beji sebagai pusat konsultasi pemasaran, pengembangan merek, dan strategi usaha. Klinik ini diharapkan tetap berjalan meski masa KKN telah usai.
Fachri berharap UMKM Desa Beji dapat berkembang lebih maju, baik dari sisi promosi, kualitas produk, maupun penguatan merek. Klinik tersebut dirancang agar pendampingan tidak berhenti setelah program KKN berakhir.
Dosen Pembimbing Lapang, Moch Fuad Nasvian, M.I.Kom., menilai pelatihan pemasaran digital merupakan kebutuhan mendasar untuk membangun pola pikir adaptif pelaku UMKM terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, aspek teknis memang dapat dipelajari secara mandiri, namun pembentukan mindset memerlukan pendampingan langsung.
Ia berharap inisiatif ini dapat dikembangkan lebih sistematis oleh universitas melalui program desa binaan atau layanan berbasis kampus.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN menegaskan peran strategisnya sebagai agen perubahan sosial. Tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi turut menghadirkan solusi berkelanjutan yang mendorong UMKM Desa Beji menjadi lebih adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments