Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi internasional dengan ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem.
Pencapaian ini menempatkan UMM sebagai salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang berhasil meraih kemitraan global tersebut, sekaligus memperkuat peran kampus dalam isu keberlanjutan lingkungan.
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari perjalanan panjang riset dan pengabdian masyarakat yang konsisten.
“Visi kami adalah memberikan kontribusi di level internasional melalui inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban tanggung jawab besar dalam mengembangkan program keberlanjutan ekosistem air.
Salah satu langkah strategis UMM adalah intervensi di kawasan Subak Tabanan, sistem irigasi tradisional yang diakui sebagai warisan dunia.
Krisis yang terjadi akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan dan alih fungsi lahan menjadi vila telah mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut.
UMM hadir dengan solusi melalui penerapan green farming dan smart farming untuk memulihkan kualitas tanah sekaligus menjaga daerah resapan air.
“Melalui inovasi ini, kita tidak hanya memperbaiki pertanian, tetapi juga menjaga keberlanjutan air,” jelas Salis.
Komitmen UMM juga menjangkau wilayah Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 52 akademisi diterjunkan untuk melakukan pemetaan sumber air, memperkuat ketahanan pangan, serta menekan angka stunting.
Sebagai langkah lanjutan, UMM tengah menyiapkan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Di sektor energi, UMM mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran Sungai Brantas.
Fasilitas PLTMH yang dibangun di kawasan kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling menjadi bukti nyata pemanfaatan energi ramah lingkungan.
Program ini juga dikembangkan di berbagai daerah, termasuk mendukung ekowisata seperti Sumber Maron dan Boonpring Turen.
Pengakuan dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Menurut Salis, status ini justru menjadi amanah untuk terus berkontribusi dalam isu keberlanjutan global.
“Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi juga 50 hingga 500 tahun ke depan agar generasi mendatang tetap memiliki lingkungan yang lestari,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments