Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan bertajuk “Inovasi Pemanfaatan Trichoderma sp. dalam Proses Pre-Komposting untuk Pembuatan Kokedama sebagai Media Edukasi Lingkungan” di SMA Muhammadiyah 1 Malang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nasional terkait peningkatan volume sampah, khususnya limbah organik yang mendominasi komposisi sampah rumah tangga di Indonesia.
Permasalahan sampah organik yang belum terkelola optimal menjadi tantangan serius dalam pembangunan berkelanjutan.
Limbah sisa makanan dan dedaunan kerap berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pengolahan yang memadai.
Melalui pendekatan bioteknologi sederhana, tim pengabdian memperkenalkan proses pre-komposting berbasis agen hayati Trichoderma sp. sebagai solusi percepatan dekomposisi sekaligus peningkatan kualitas kompos.
Kegiatan ini dipimpin oleh Nur Izzatul Maulidah selaku ketua tim, bersama Agus Zainudin dan Wahid Muhammad Shodiq.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan penyampaian materi di aula sekolah yang membahas urgensi pengelolaan limbah organik, konsep pre-komposting, serta peran mikroorganisme dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Siswa diperkenalkan teknik kokedama, yaitu metode penanaman tanaman tanpa pot dengan memanfaatkan media tanam berbasis kompos yang dibentuk menyerupai bola.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik tidak harus mahal dan rumit. Dengan memanfaatkan Trichoderma sp. dan bahan sederhana seperti nasi, jagung dan sebagainya, proses dekomposisi bisa dipercepat dan hasilnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam,” ujar Nur Izzatul Maulidah dalam sesi diskusi.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik yang dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama adalah perbanyakan Trichoderma sp. menggunakan media jagung.
Inokulum yang telah dibuat kemudian disimpan untuk diamati pertumbuhannya satu minggu setelah kegiatan guna memastikan perkembangan jamur berjalan optimal.
Tahap kedua berupa pembuatan kompos dari sampah rumah tangga dengan penambahan Trichoderma sp. sebagai aktivator.
Boks pembuatan kompos yang digunakan dalam praktik tersebut ditempatkan di lingkungan sekolah agar proses pengomposan dapat terus berlangsung dan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan.
Tahap ketiga adalah pembuatan kokedama menggunakan kompos hasil pengolahan. Siswa membentuk bola media tanam, membungkusnya dengan sabut kelapa, lalu menanam tanaman hias sehingga menghasilkan produk yang estetis dan bernilai guna.
Hasil kokedama tersebut dibawa pulang oleh masing-masing siswa. Antusiasme terlihat jelas ketika para siswa dengan bangga menunjukkan hasil karya mereka.
“Saya baru tahu kalau sampah rumah tangga bisa jadi media tanam yang bagus. Senang sekali bisa membuat kokedama sendiri dan membawanya pulang,” ungkap Shinta Dwi Aurora salah satu siswa peserta kegiatan.
Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi dan refleksi untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi dan praktik yang telah dilakukan.
Secara umum, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan pemahaman sekaligus membangun kesadaran lingkungan secara lebih efektif.
Model edukasi lingkungan berbasis inovasi Trichoderma sp. dan pembuatan kokedama ini dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di berbagai sekolah di Indonesia.
Selain sederhana dan berbiaya rendah, metode ini juga sejalan dengan upaya penguatan pendidikan karakter peduli lingkungan serta mendukung gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, inovasi kecil berbasis mikroorganisme ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam membangun budaya pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan di tingkat nasional.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments